Se ha denunciado esta presentación.
Se está descargando tu SlideShare. ×

MKI:Marketing 4.0 and Zona Zero Approach

Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Cargando en…3
×

Eche un vistazo a continuación

1 de 30 Anuncio
Anuncio

Más Contenido Relacionado

Similares a MKI:Marketing 4.0 and Zona Zero Approach (20)

Más de Muhammad Fajar (20)

Anuncio

Más reciente (20)

MKI:Marketing 4.0 and Zona Zero Approach

  1. 1. Creativity and Innovation Management Marketing 4.0 and Zona Zero Approach
  2. 2. Pergeseran Kekuatan ke Pelanggan Terhubung … Pada era digital, para pelaku pemasaran harus menerima pergeseran ke lanskap bisnis yang lebih horizontal, inklusif, dan sosial. Sebab, pasar semakin inklusif. Media sosial telah menghapus rintangan geografis dan demografis, yang memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan perusahaan berinovasi melalui kolaborasi. Pelanggan berorientasi secara horizontal, dan semakin mewaspadai komuni- kasi pemasaran merek, dan mengandalkan factor “f” (teman, keluarga, peng- gemar, dan pengikut). Akhirnya, proses pembelian pelanggan menjadi sema- kin social daripada sebelumnya. Pelanggan lebih memperhatikan lingkungan social saat membuat keputusan pembelian (buying decision). Mereka me- minta nasihat dam ulasan, baik secara online maupun offline. Menjadi inklusif berarti menjalani hidup secara harmoni meskipun terdapat perbedaan (diversitas). Inklusivitas social terjadi secara online maupun offline, dan terjadi dalam bentuk perdagangan yang adil, keragaman tugas pekerjaan, dan pemberdayaan perempuan.
  3. 3. Pergeseran Kekuatan ke Pelanggan Terhubung … Kompetisi bisnis berubah dari vertical menjadi horizontal karena faktor teknologi. Konsep kepercayaan pelanggan menjadi lebih horizontal, yang terbentuk karena faktor “f” (friends, family, fans, facebook, and follower). Kondisi ini berpengaruh terhadap posisi merek. Agar dapat dipercaya, mereka harus didekatkan kepada konsumen melalui penje- lasan karakter sejati. Saat membuat keputusan pembelian, pelanggan biasanya didorong oleh preferensi individu, keinginan dan keinginan dengan kesesuaian atau opini sosial. Maka, pelanggan tidak lagi menjadi target yang pa- sif, tetapi sudah harus dijadikan sebagai media komunikasi aktif. Di lingkungan yang seperti itu, pelanggan lebih menyesuaikan diri dengan opini sosial. Faktanya, keputusan pembeliau yang paling per- sonal justru menjadi keputusan sosial. Sebab, pelanggan berkomuni- kasi dan berbicara tentang merek dan perusahaan satu sama lain.
  4. 4. Paradoks Pemasaraan dan Pelanggan Terhubung … Lanskap bisnis yang berubah menciptakan paradoks bagi pemasaran yang sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang bisnis. Satu, interaksi online versus offline. Keduanya harus berdampingan dan sa- ling melengkapi agar dapat memberikan pengalaman yang unggul dan unik kepada pelanggan. Tantangan yang muncul bagi mereka produk dan perusa- haan di dunia interkonektivitas adalah memadukan online dan offline. Dua, pelanggan terinformasi versus teralih. Saat konektivitas memberdaya- kan pelanggan dengan informasi berlimpah, pelanggan menjadi bergantung pada pendapat orang lain, yang kerap lebih dipentingkan daripada preferensi pribadi. Dalam kondisi demikian, hanya merek dengan faktor “wow” yang aka mereka dengar. Tiga, pembelaan negatif versus positif. Kuatnya konektivitas terdapat pelu- ang besar bagi merek untuk memperoleh pembelaan positif. Namun, merek tetap saja rawan mengundang pembelaan negatif. Ini belum tentu buruk. Se- bab, pembelaan negatif bisa berubah menjadi anjuran positif.
  5. 5. Subkultur Digital yang Berpengaruh … Kaum muda, perempuan, dan warganet sudah lama diteliti secara cermat oleh dunia bisnis. Tetapi, mereka biasanya diposisikan sebagai pelanggan terpisah. Kekuatan kolektif mereka terutama sebagai segmen yang paling berpengaruh di era digital. Sayangnya, masih belum diselidiki secara tajam. Satu, kaum muda merupakan “adaptor” atau pengadopsi awal sebuah produk dan teknologi baru. Mereka menjadi “trendsetter” yang cerdas, tetapi terfragmentasi sedemikian rupa sesuai dengan tren yang mereka ikuti. Sehubungan dengan itu, mereka menjadi pengubah permainan yang aktif. Dua, kaum perempuan menjadi menjadi manajer rumah tangga yang sesungguhnya, sekaligus menjadi kepala keuangan, manajer pem- belian, dan manajer asset. Semua tugas itu digabung menjadi satu. Itulah sebabnya, perempuan sangat aktif dalam pengumpulan info.
  6. 6. Subkultur Digital yang Berpengaruh … Tiga, warganet adalah penghubung sosial yang sangat lincah dan energik. Disebut “lincah” dan “energik” karena mereka selalu berhu- bungan dengan pihak lain secara online dan offline, berbicara, dan berkomunikasi dengan rekan-rekannya secara intens. Mereka juga menjadi pengatur yang ekspresif dan penyumbang konten yang aktif di dunia online. Secara bersama sama, kaum muda, perempuan, dan warganet me- megang peran yang sangat penting dan kunci penentu menggeliatnya pemasaran dalam ekonomi digital. Harus diakui warganet berposisi sebagai ‘pengeras suara’ terbaik. Pesan dari merek akan mengalir di sepanjang hubung-an sosial jika pesan itu mendapat ‘restu’ dari mere- ka. Adapun kaum perempuan merupakan pengumpul informasi, pem- belanja holistik, dan manajer rumah tangga yang menjadi kunci pem- buka untuk merebut pangsa pasar.
  7. 7. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Inovasi digital terbukti mampu mendekatkan banyak negara kepada kemakmuran yang berkesinambungan (sustainable prosperity). Ino- vasi teratas yang dampaknya paling signifikan adalah internel telepon seluler, otomatisasi pekerjaan, teknologi “cloud”, robotis, dan perce- takan tiga dimensi. Marketing 4.0 menggabungkan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan, mema-dukan gaya dengan substansi dalam membangun merek (brand buil-ding), dan akhirnya melengkapi konektivitas ‘machine-to-machine’ dengan sentuhan ‘man-to-man’ untuk memperkuat keterlibatan pelanggan (customer intimacy). Marketing 4.0 membantu para ‘marketer’ untuk beralih ke ekonomi di- gital, sekaligus mendefinisikan ulang konsep kunci pemasaran. Pema- saran digital dan tradisonal dipadukan untuk meraih pembelaan pelanggan (customer defense).
  8. 8. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Pemasaran tradisional memulai strategi pemasaran segmentasi (STP) berdasarkan profil geografis, demografis, psikografis, dan perilaku. Tawaran nilai yang akan diterima pelanggan dan upaya menjaga loyalitasnya. “Price” dan “differentiation” menjadi kekuatan merek sebuah produk. Merek menjadi repre- sentasi dan pengalaman pelanggan.
  9. 9. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Konsep merek (brand) berkaitan erat dengan ‘repositioning’. ‘Brand’ juga berfungsi sebagai ‘platform’ strategi perusahaan. Tujuan utama ‘repositioning’ adalah menunjukkan integritas ‘brand’ dalam rangka menarik hati pelanggan. Konsep merek (brand) berkaitan erat dengan ‘repositioning’. ‘Brand’ juga berfungsi sebagai ‘platform’ strategi perusahaan. Tujuan utama ‘repositioning’ adalah menunjukkan integritas ‘brand’ dalam rangka menarik hati pelanggan. Dalam ekonomi digital, pelanggan terhubung secara sosial satu sama lain dalam jaringan horizontal komunitas. Untuk terlibat secara efektif dengan komunitas pelanggan, marketer harus meminta izin. Menurut Seth Godin (Kotler and Kartawijaya, 2017: 44), pemasaran berizin berkaitan dengan permintaan persetujuan pelanggan sebelum meng- irimkan pesan pemasaran.
  10. 10. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Konsep merek (brand) berkaitan erat dengan ‘repositioning’. ‘Brand’ juga berfungsi sebagai ‘platform’ strategi perusahaan. Tujuan utama ‘repositioning’ adalah menunjukkan integritas ‘brand’ dalam rangka menarik hati pelanggan. Konsep merek (brand) berkaitan erat dengan ‘repositioning’. ‘Brand’ juga berfungsi sebagai ‘platform’ strategi perusahaan. Tujuan utama ‘repositioning’ adalah menunjukkan integritas ‘brand’ dalam rangka menarik hati pelanggan. Dalam ekonomi digital, pelanggan terhubung secara sosial satu sama lain dalam jaringan horizontal komunitas. Untuk terlibat secara efektif dengan komunitas pelanggan, marketer harus meminta izin. Menurut Seth Godin (Kotler and Kartawijaya, 2017: 44), pemasaran berizin berkaitan dengan permintaan persetujuan pelanggan sebelum meng- irimkan pesan pemasaran.
  11. 11. • Connectivity and networking • The explosion of the Internet • New types of marekting intermediaries • Customization Partnering with marketing intermediaries: Coca-Cola provides its retail partners with much more than just soft drinks. It also pledges powerful marketing support. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 …
  12. 12. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Marketing mix yang memuat konsep 4P (product, price, place, promo- te) merupakan alat klasik untuk merencanakan ‘apa yang ditawarkan’ dan ‘cara menawarkannya’. Penetapan harga jual produk mencakup tiga hal: biaya, kompetisi, dan nilai. Pada era digital yang bertumpu pada konektivitas, konsep ‘marketing mix’ mengakomodasi lebih banyak partisipasi pelanggan. Maka, me- nurut Kotler dan Kartawijaya (2017: 47), konsep ‘marketing mix’ yang 4P harus didefinisikan ulang menjadi 4C: co-creation (menciptakan bersama), currency (mata uang), communal activation (aktivasi komunal), dan conversation (percakapan). Agar dapat bertahan dengan konsep 4C itu, paradigma penjualan pe- rusahaan harus diubah. Perusahaan harus memastikan bahwa kon- sumen memperoleh nilai (customer value) dan keterlibatan secara transparan dalam proses pemasaran.
  13. 13. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Pada era digital, konsep ‘marketing mix’ yang memuat 4P harus didefinisi ulang menjadi 4C yang menurut Kotler dan Kartajaya (2017: 47) terdiri dari co-creation, currency, communal activation, dan conversation. Unsur ini berbeda dengan pakar marketing lainnya.
  14. 14. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Pemasaran digital tidak dalam posisi mensubstitusi (mengganti) pe- masaran tradisional. Kedua konsep itu berdampingan secara harmoni dan bertukar peran di sepanjang jalur pelanggan. Esensi Marketing 4.0 adalah mengenali peran peralihan dari pema- saran tradisional dan digital dalam membangun keterlibatan pelang- gan dan memberikan advokasi. Pada tahap awal interaksi pelanggan dan perusahaan, pemasaran tradisional berperan sangat penting da- lam membangun kesadaran (awareness) dan minat (interesting) dari pelanggan. Peran penting pemasaran digital (Marketing 4.0) adalah mendorong tindakan dan penganjuran (persuasif). Pemasaran digital lebih akunta- bel dan kompatibel daripada pemasaran tradisional. Fokus pemasar- an digital pada mendorong tercapainya hasil (buying decision), se- dangkan pemasaran tradisional fokus pada prakarsa interaksi.
  15. 15. Ekonomi Digital dan Pemasaran 4.0 … Peran pemasaran digital saat merek ikut campur pada jalur pelanggan Peran pemasaran digital saat merek untuk meningkatkan daya saing Level 3: Enrichment Level 2: Engagement Level 1: Enjoyment Aware Appeal Ask Act Advocate Pemasaran Tradisional • Penerapan strategi STP • Reposisi dan diferensiasi merek • Pemasaran campuran taktis (marketing mix) dan pendekatan penjualan (selling approach) • Layanan dan proses ‘value creation’. Pemasaran Digital • Konfirmasi komunitas pelanggan • Klarifikasi merek dan karakter dan kode • Pemasaran campuran taktis konektivitas (marketing mix, 4C) dan komersialisasi • Layanan pelanggan kolaboratif.
  16. 16. Jalur Pelanggan Baru … Jalur pelanggan (customer pathaway) pertama kali digagas oleh Elmo Lewis (Kotler dan Kartajaya, 2017: 56) dengan konsep AIDA: atten- tion (perhatian), interest (minat), desire (keinginan), dan action (tin- dakan). Derek Rucker (Kotler dan Kartajaya, 2017: 57) menawarkan modifika- si konsep AIDA menjadi 4A: aware (menyadari), attitude (sikap), act (bertindak), dan act again (bertindak lagi). Remodifikasi ini bertujuan untuk me-mantau perilaku pelanggan pascapembelian dan mengatur retensi pembelian—yang merupakan bukti loyalitas pelanggan. Lalu, Kotler dan Kartajaya (2017: 57) menawarkan remodifikasi kon- sep 4A menjadi 5A: aware (menyadari), appeal (tertarik), ask (berta- nya), act (bertindak), dan advocate (menganjurkan). Jaluar pelang- gan dengan konsep 4A itu berlaku pada pra-konektivitas, sedangkan 5A berlaku pada masa konektivitas.
  17. 17. Aware Appeal Ask Act Advocate Jalur Pelanggan Baru … Pelanggan secara pasif menerima daftar panjang me- rek dari pengalam- an masa lalu, ko- munikasi pemasar- an, dan atau advo- kasi terhadap orang lain, sesuai dengan pengalam- an yang dialami- nya. Pelanggan mem- proses pesan yang mereka terima, menciptakan me- mori jangka pen- dek, atau memper- kuat memori jang- ka panjang, dan menjadi tertarik hanya pada bebe- rapa daftar singkat merek. Didorong oleh rasa ingin tahu (sense of knowledge), pelanggan secara aktif mencari informasi lebih lanjut dari teman, dan keluarga, media dan atau langsung dari merek produk yang dimaksud. Diperkuat oleh lebih banyak informasi, pelanggan memutuskan untuk membeli merek tertentu dan berinteraksi lebih dalam melalui proses pembelian, penggunaan, dan atau layanan. Dari waktu ke waktu, pelanggan mengembangkan kesetiaan yang sangat kuat terha- dap merek, yang tercermin dalam retensi pembelian ulang, dan akhir- nya melakukan advokasi orang lain. Perilaku pelanggan (customer behavior). Perilaku ini berbeda antara pra- konektivitas dan saat konektivitas berlaku. Pada era pra-konektivitas, pelanggan menentukan sikapnya sendiri. Pada era konektivitas pelanggan aktif berkomunikasi satu sama lain.
  18. 18. Aware Appeal Ask Act Advocate Jalur Pelanggan Baru … a) Mengetahui suatu merek dengan cara ter- tentu; b) mencoba mencari tahu atas sebuah produk melalui sebuah iklan; c) mengingat dan menghadirkan kembali pengalam- an masa lalu atas sebuah produk. a) Menjadi tertarik dengan merek ber- dasarkan kesadar- an atas sebuah produk; b) Mem- buat serang-kaian pertimbangan terhadap sebuah merek mengacu pada pengalaman masa lalu dan ka- pasitas diri. a) Menghubungi teman untuk me- minta saran; b) mencari ulasan produk secara online; c) Menghu- bungi atau berta- nya kepada pusat layanan; d) mem- bandingkan harga; e) mencoba con- toh produk di took. a) Membeli produk di toko dan atau secara online; b) menggunakan pro- duk untuk pertama kalinya dan mera- sakan sensasi- eksperientif; c) me- ngeluh tentang masalah produk; d) mendapatkan pelayanan. a) Terus menggu- nakan sebuah me- rek produk (loyal); b) Melakukan pembelian ulang (buying retention) atas sebuah pro- duk; c) Memberi rekomendasi pro- duk kepada orang lain berdasarkan pengalamannya. Kemungkinan terjadinya titik sentuh (meeting touch) pelanggan atas sebuah produk. Disebut “kemungkinan” karena ada peluang yang dimiliki pelanggan untuk melakukan keputusan pembelian (buying decision) dan bersifat eksperiental.
  19. 19. Aware Appeal Ask Act Advocate Jalur Pelanggan Baru … Aku tahu Aku suka Aku yakin Aku memb eli Aku mereko mendasi kan Kesan dan pengalaman pelanggan (eksperiental). Pelanggan yang berpengalaman biasanya memiliki pengaruh sendiri yang lebih kuat. Saat mereka menemukan merek produk yang disukai, mereka akan melewatkan sebagian besar tahan 5A dan menggunakan mereknya secara terus menerus (terjadi “retention buying” sebagai wujud nyata loyalitas pelanggan) sampai merek itu mengecewakan pelanggannya, yang membuatnya beralih ke merek lain.
  20. 20. Zona Zero Three (O3) … Tujuan akhir Marketing 4.0 adalah mendorong pelanggan dari menya- dari (aware) ke menganjurkan (advocate). Umumnya, terdapat tiga sumber utama pengaruh yang dapat digunakan oleh ‘marketer’ untuk melakukannya. Keputusan pembelian pelanggan di sepanjang 5A bi- asanya dipengaruhi oleh gabungan dari diri sendiri (own), orang lain (other), dan pihak luar (outer). diri sendiri (own) orang lain (other) pihak luar (outer) Zona “O” mendorong pelanggan dari menyadari (aware) ke menganjurkan (advocate).
  21. 21. Zona Zero Three (O3) … Zona “O” di Seberang Jalur Pelanggan (Customer Pathway)
  22. 22. Menaikkan Produktivitas Merek … Satu cara untuk memperoleh lebih banyak penganjur setia (loyal ad- vocate) adalah dengan meningkatkan (awareness). Tujuan utamanya adalah meraih “share of voice” (SOV). Derajat “share of voice” men- jadi ukuran terhadap frekuensi pembicaraan sebuah merek oleh pelanggan. 1. Meningkatkan daya Tarik. Pada era digital, cara yang paling efek- tif adalah mengokohkan merek dengan dukungan teknologi, tanpa mengabaikan ‘sisi humanis’ (man is a measurement) karena, saat ini, pelanggan dikelilingi oleh interaksi berbasis teknologi. 2. Optimaliasi keingin-tahuan. Mellon (dalam Kotler and Kartajaya, 2018: 82) menyebutkan bahwa ‘rasa ingin tahu’ (sense of know- ledge) itu merupakan bentuk perasaan yang terhalang untuk men- dapatkan informasi yang dibutuhkan. Di sisi lain, menurut Piaget and Berlyne (dalam Kotler and Kartajaya, 2018: 82) menemukan
  23. 23. Menaikkan Produktivitas Merek … fakta bahwa terdapat korelasi yang kuat antara kejutan dan keing- intahuan. Maka, untuk mengambil manfaat atas ‘sense of know- ledge’ itu, seorang marketer yang kreatif-inovatif akan membuat konten promosi yang siap ditemukan kapan pun oleh konsumen yang mencarinya. Konten itu berkonsep ‘bisa dicari’ dan ‘bisa di- bagi’. 3. Meningkatkan komitmen. Seluruh marketer memanfaatkan selu- ruh saluran, baik online maupun offline, secara terpadu untuk memberikan pengalaman yang mulus bagi pelanggan di sepan- jang jalurnya. Maka, seluruh saluran itu harus ditransformasi dari ahli pasar (melayani segmen pasar tertentu) dam ahli produk (menjual produk tertentu) menjadi ahli aktivitas (memainkan peran tertentu secara optimal di sepanjang jalur pelanggan). Marketer juga memastikan penawaran yang tepat dan relevan.
  24. 24. Menaikkan Produktivitas Merek … 4. Meningkatkan afinitas. Pengalaman (eksperiental) yang memenu- hi atau bahkan melampaui ekspektasi pelanggan akan mengem- bangkan afinitas dan besar kemungkinan menjadi seorang ‘loyal advocate’. Maka, marketer harus memperpanjang titik sentuhnya dengan cara memperbanyak interaksi di luar interaksi regular. Mi- salnya, menentukan keseimbangan antara sentuhan tinggi dan keterlibatan teknologi tinggi, interaksi media sosial, dan ‘gamifica- fication’ (praktek untuk membuat kegiatan menjadi mirip permain- an agar lebih menarik dan menyenangkan). Pada era digital, percakapan pelanggan atau pengaruh ‘others’ setara dengan utang, sedangkan iklan atau pengaruh ‘outer’ se- tara dengan ekuitas merek. Percakapan pelanggan memberi daya ungkit (leverasi) dan memperkuat posisi ‘own’ sebuah merek. Ma- ka, dengan 5A, diferensiasi merek akan tertanam kuat.
  25. 25. Manusia dan Antopologi Digital … 1. Social listening. Proses proaktif memantau percakapan tentang sebuah merek di media sosial. Tindakan yang dilakukan adalah memantau, mengidentifikasi, dan mengevaluasi percakapan. 2. Netnografi. Metode yang mengadaptasi praktek teknologi untuk memahami perilaku manusia—serupa dengan etnografi. Cara ini digagas oleh Kozinets (dalam Kotler and Kartajaya, 2018: 110). 3. Emphatic research. Riset yang digunakan untuk memahami perilaku manusia dalam konteks partisipasi dan pencurahan diri seseorang terhadap komunitas pelanggan. Antropologi digital berfokus pada interaksi antara kemanusiaan dan teknologi digital. Teknologi digital menyelidiki cara manusia berinterak- si dengan orang lain, perilaku manusia dari sisi teknologi, dan cara mereka menggunakannya.
  26. 26. Manusia dan Antopologi Digital … 1. Social listening. Proses proaktif memantau percakapan tentang sebuah merek di media sosial. Tindakan yang dilakukan adalah memantau, mengidentifikasi, dan mengevaluasi percakapan. 2. Netnografi. Metode yang mengadaptasi praktek teknologi untuk memahami perilaku manusia—serupa dengan etnografi. Cara ini digagas oleh Kozinets (dalam Kotler and Kartajaya, 2018: 110). 3. Emphatic research. Riset yang digunakan untuk memahami perilaku manusia dalam konteks partisipasi dan pencurahan diri seseorang terhadap komunitas pelanggan. Antropologi digital berfokus pada interaksi antara kemanusiaan dan teknologi digital. Teknologi digital menyelidiki cara manusia berinterak- si dengan orang lain, perilaku manusia dari sisi teknologi, dan cara mereka menggunakannya.
  27. 27. Marketing Konten dan Langkah Praktis … 1. Menetapkan tujuan. Apa yang ingin dicapai dengan kampanye pemasaran konten? • Tujuan pembangun merek (brand building) • Tujuan pertumbuhan penjualan (sale growing) Pemasaran konten (content marketing) mencakup produksi dan distri- busi konten. Maka, marketer harus mampu menciptakan konten origi- nal secara internal atau memilihnya dari eksternal. Secara praktis, tahapan “content marketing” sebagai berikut. 2. Memetakan target pasar. Siapa pelanggan Anda? Apa keresahan dan keinginan mereka? • Profil dan pesona pelanggan (customer profile); • Keresahan dan keinginan pelanggan (needs and wants)
  28. 28. Marketing Konten dan Langkah Praktis … 3. Mengagas dan merencanakan konten. Apa tema konten secara keseluruhannya? Apa peta jalan (roadmap) kontennya hingga itu siap untuk dicipta? • Tema konten harus jelas, unik, ril, dan “eye catching”. Tema konten yang seperti itu dapat menarik calon pelanggan. • Format dan campuran konten yang hendak dimunculkan. • Jalan cerita dan kalender konten (tahapan pelaksanaan). 4. Menciptakan konten. Siapa yang membuat kontennya? Kapan konten itu harus dibuat (deadline)? • Kreator konten bisa berasal dari internal (memberdayakan potensi lokal) atau bekerja sama dengan agensi (eksternal). • Membuat jadwal produksi konten, berikut sumber daya yang dilibatkan di dalamnya.
  29. 29. Marketing Konten dan Langkah Praktis … 5. Mendistribusikan konten. Kemana saja asset konten itu akan di- distribusikan? Bagaimana prosesnya? Apa saja “channel” yang akan digunakan? • “Channel” (saluran) yang dimiliki. • “Channel” (saluran) berbayar. • “Channel” (saluran) yang diperoleh. 6. Memperkuat konten. Apa dan bagaimana rencana memanfaat- kan asset konten? Apa cara dan teknik membangun interaksi yang baik dan berkualitas dengan pelanggan? • Membuat pola percakapan dengan pelanggan mengenai isi konten. • Menggunakan jasa “buzzer” atau “influencer” yang mem- ”broad-cast” konten agar lebih cepat.
  30. 30. Marketing Konten dan Langkah Praktis … 7. Mengevaluasi pemasaran konten. Evaluasi diperlukan untuk mengetehui seberap sukses kampanye pemasaran konten? Indikasinya adalah jumlah pelanggan yang merasa nyaman dengan penggunaan konten. • Metrik pemasaran konten. • Pencapaian tujuan pemasaran konten secara keseluruhan. 8. Melakukan perbaikan (continuous improvement) pemasaran konten. Bagaimana dan apa saja langkah untuk meningkatkan pemasaran konten yang sudah ada. • Perubahan tema konten. • Peningkatan konten. • Peningkatan distribusi dan amplifikasi konten.

×