Se ha denunciado esta presentación.
Se está descargando tu SlideShare. ×

Boarkim 2009.pdf

Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Termodinamika Cinta
Boarkim’09
Novel Dan Cerita Mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Kimia
Universita Jember
Angkatan 2009
By :...
Prakata
Cinta?. Entahlah bagaimana bentuknya kata tersebut, tetapi percayalah
bahwa itu nyata. Cinta memang banyak bentukn...
dunia berbeda-beda cukupkan sedikit waktu untuk membayangkan bahwa kita
pernah bersama, belajar bersama. Merasakan suka, d...
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Anuncio
Cargando en…3
×

Eche un vistazo a continuación

1 de 118 Anuncio

Boarkim 2009.pdf

Descargar para leer sin conexión

Cerita angkatan 2009
MIPA Kimia Universitas Jember
UNEJ
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jurusan Kimia
Miranti Puspitasari
Dessy Kartika
Rega Wahyu
Ferisa Wisuda
Antin Martasari
Aniesa Fitria
Maulida Eka Rista
Lia Aprianti
Ayustisia
Khusnul khatimah
Muizzatul Ainiyah
Widayanti Lita
Nazmah
Yasinta Sarossa
Ida Maulida
Eka Prasetya
Ikrima

Cerita angkatan 2009
MIPA Kimia Universitas Jember
UNEJ
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jurusan Kimia
Miranti Puspitasari
Dessy Kartika
Rega Wahyu
Ferisa Wisuda
Antin Martasari
Aniesa Fitria
Maulida Eka Rista
Lia Aprianti
Ayustisia
Khusnul khatimah
Muizzatul Ainiyah
Widayanti Lita
Nazmah
Yasinta Sarossa
Ida Maulida
Eka Prasetya
Ikrima

Anuncio
Anuncio

Más Contenido Relacionado

Similares a Boarkim 2009.pdf (20)

Más de Zainul Hasan (20)

Anuncio

Más reciente (20)

Boarkim 2009.pdf

  1. 1. Termodinamika Cinta Boarkim’09 Novel Dan Cerita Mahasiswa Fakultas MIPA Jurusan Kimia Universita Jember Angkatan 2009 By : RimbaSadewo
  2. 2. Prakata Cinta?. Entahlah bagaimana bentuknya kata tersebut, tetapi percayalah bahwa itu nyata. Cinta memang banyak bentuknya tergantung bagaimana kita memaknainya. Begitupun ketika termodinamika dihubungkan dalam hal cinta. Saya rasa merupakan hal yang sah-sah saja. Karena memang cinta tidak ada teori pastinya dan begitulah adanya. Saya hanya ingin novel ini dapat menjadi kenangan mengukir nama kita, mengingatkan kita yang pernah belajar bersama di jurusan kimia. Tidak mudah memang menggambarkan semua sesuai imajinasi. Saya hanya mengungkapkan imajinasi saya terserah diterima atau tidak. Yang pasti jadikan kenangan bahwa semua kebersamaan kita telah tertulis indah walau dengan bahasa semau saya. Mungkin angkatan kita adalah angkatan yang tak dipenuhi cinta. Karena memang tidak ada yang akhirnya menjadi kekasih dalam satu angkatan. Tapi menjadi rahasia umum jika ada seseorang diantara kita saling suka dan saling cinta. Entah mengapa tidak terwujudkan dalam hubungan nyata. Tapi inilah uniknya walaupun tidak ada yang menjalin hubungan asmara saya akan mengambil dari sudut berbeda untuk membuatnya menjadi angkatan yang sempurna. Untukmu Chemist 09 atau kita sepakat menyebutnya Boarkim‟09. Mohon maaf saya tidak bisa menulis semua tokoh untuk masuk dalam imajinasi saya yang tertuangkan dalam cerita. Mungkin cerita ini anggaplah sebagai pembuka untuk cerita-cerita lainnya dengan tokoh-tokoh yang berbeda dan semoga semuanya sempat pada gilirannya. Walaupun saya hanya memasukkan sebagian nama untuk berperan dalam cerita, novel ini saya persembahkan untuk angkatan kita Boarkim‟09. Jangan berhenti bermimpi, jangan berhenti berimajinasi, kita adalah satu. Bagaimanapun cara waktu memisahkan kita, kisah kita terpatri jelas dalam jejak- jejak indah sistem syaraf kita. Jika saya lupa dengan anda, ingatkanlah saya. Jika kita telah terjun dalam
  3. 3. dunia berbeda-beda cukupkan sedikit waktu untuk membayangkan bahwa kita pernah bersama, belajar bersama. Merasakan suka, duka, benci, suka, dan cinta. Jadikanlah cerita ini sebagai pengingat suatu masa yang akan membuat kita tertawa melupakan sejenak penat di dada. Menjadi cermin tentang diri kita dan beginilah kita yang apa adanya. Kita bukan orang sempurna tapi dengan menerima kelebihan dan kekurangan dan rela berkawan membuat kita bahagia berjuang bersama. Saya sih ingin kisah ini tak berbentuk novel saja. Semoga ada sutradara yang tertarik mewujudkan menjadi FTV atau minimal film lah. Ya, walaupun hanya ada beberapa nama yang tertera saya berterimakasih pada semua telah menumbuhkan imajinasi saya mencipta tulisan cinta dalam sebuah kata. Kalau ada salah dan kurang pas saya mohon bantuannya menyempurnakan cerita. Dalam sebuah imajinasi saya mewujudkan dalam bentuk cerita bagi penikmat yang dapat dirasa dalam bentuk bahasa. Maafkan saya yang masih canggung dalam bercerita, tetapi adanya novel ini membuat saya bahagia sebagai tulisan pertama bahkan mungkin lebih tebal dari skripsi yang saya kerjakan. Hahaha… Terimakasih khususnya kepada Ferisa yang selalu dipikiran saya yang membuat saya berimajinasi sebuah cerita. Saya akui saya suka tapi hati saya masih untuk Sakinah Jawas. Akankah kamu yang selalu ada dipikiran saya memenuhi hati saya?. Biarlah waktu yang menjawabnya. Apakah saya perlu berharap bahwa kamu akan menyukai dan cinta saya?. Saya tidak akan mempedulikannya, karena saya petualang cinta yang akan mendapat cinta dimanapun saya berada. Mungkin sedikit membingungkan memang tapi itulah adanya, apa yang saya rasakan. Saya akui saya memang pemuja cinta yang tidak biasa. Walaupun kamu tidak ada disamping saya, tetapi jiwamu selalu ada dalam imajinasi saya. Menginspirasi dan memunculkan ide-ide gila yang membuat saya pusing tujuh keliling jika tidak saya ungkapkan. Mengungkapkan secara lisan bagi saya adalah hal yang terlalu biasa yang mungkin akan cepat terlupakan. Saya lebih suka menuangkannya dalam bentuk cerita, jika kamu tidak menghargainya masih ada pembaca lain yang mungkin menerimanya, ngefans ke saya dan muncul cerita
  4. 4. lagi. Hahaha….. “Kamu gak niat cintanya Nung,” Tanya Ferisa. “Bukan begitu Fer, jika ada laki-laki yang selalu membayangkanmu maka aku tak hanya akan membayangkanmu tetapi akan kulukis wajahmu dengan darahku sekalipun.” Ih, ngeri ah Nung, nanti aku menghantuimu”. “Ya kamu malaikatku Fer, aku rela dihantui setan cantik kayak kamu”. “Trus Nung?. Kalo ada laki-laki membuat sebait puisi buat aku kamu buat apa Nung?”. “Sebait puisi?. Tidak kah cukup beribu kata yang kutulis membentuk novel ini khusus buat kamu di software word ada lebih sepuluh ribu kata yang terdeteksi dalam novel ini Fer?”. “Jika tidak cukup akan kusebut namamu dalam tiap langkahku biar suaraku selalu menggema ditelingamu”. Hehehe…. “Lalu kalau aku gak menghargai novel karyamu ini kamu akan gimana, sakit hati gak?”. “Gak lah Fer, kan tinggal diubah aja namamu dalam cerita ini”. “Hu, nyebelin”. “Iya dong Fer, jangan jadi perempuan yang hanya bisa nanya seberapa besar cintamu ke aku?”. “Tetapi aku sebagai laki-laki juga perlu bukti sebesar apa balasanmu akan cintaku”. “Udah gak zaman cinta bertepuk sebelah tangan Fer”. Hahaha…. Ucapan maaf yang pertama saya sampaikan kepada Hisyam karena terlalu jauh melenceng dari dunia sebenarnya. Setidaknya kami tahu dan bukan rahasia lagi Hisyam memiliki hubungan asmara dengan teman satu angkatan. Sebenarnya untuk cerita saya ingin memasangkan Ikrima dengan Hisyam, tapi Ikrima kan wanita sholeha yang selalu menjunjung tinggi nilai agama. “Tidak mungkin juga Ikrima suka sama kamu Syam?.” “Laki-laki macam kamu mana pantas dengan wanita kalem dan sholeha kayak dia?.” Sebenarnya juga saya ingin memasangkan Hisyam dengan Rossa, ya Mama Rossa. Kan tambah menarik dengan muka Mama Rossa yang agak judes sangat cocok sebagai pemeran antagonis. Namun, saya kurang suka dengan pemeran antagonis dalam cerita ini. Nanti juga saya bisa dimarahin Mama Rossa kalau saya paksakan masuk ke dalam cerita ini. “Maaf mama Rossa saya tidak kuasa mendurhakaimu.” Biarlah pemeran antagonis dalam cerita ini adalah diri kita sendiri atau disebut konflik batin. Saya juga tidak mungkin Memaksakan Novi yang merupakan adik angkatan untuk masuk menjadi pasangan Hisyam karena saya yakin nanti juga akan berakhir penuh drama. Hahaha…. Eh ini bukan Do‟a dan hanya bercanda loh ya. Alasannya bukan
  5. 5. karena ada jarak dan konflik dingin antar angkatan kita. Kita tetap saling menghargai dan menghormati. Namun, saya akan terlalu sulit membuat ceritanya dengan alur yang lebih banyak. Terpaksa saya harus egois memilih Iis sebagai pacar Hisyam dalam cerita ini. Menurut saya Iis atau Mincis lebih tahan banting, sangat cocok sebagai pemeran pengganti dalam posisi apapun. Tenang saya sudah izin kepada Jaka yang merupakan cinta sejati Iis. Intinya cerita ini hanya fiksi belaka, rekaan dari imajinasi saya, dan saya mohon maaf bila menyinggung nama- nama yang mungkin tidak berkenan terhadap alur cerita ini. Sekali lagi mohon maaf, karena semua kesalahan dalam novel ini hanyalah ketidaksengajaan yang terencana. Saya harap Hisyam tidak protes, kalau protes bukan lagi saya pasangin dengan Iis tetapi saya pasangin sama Ibunya Iis. Hehehe. Ucapan maaf juga saya sampaikan kepada riskon yang tak hadir dalam cerita. Cuma Huda aja yang sedikit menyinggung nama riskon dalam cerita ini. Mungkin dapat dipaksakan namun sayang sekali benar-benar tiada tempat untukmu. Memaksakan untuk menulismu hanya akan ada cerita penuh cela dan hinaan yang mengurangi manis dan romantisnya cerita ini. Ah, kamu sih terlihat sok suci tapi bagiku kamu bagai setitik noda yang dapat meluruhkan semua cerita cinta yang ku buat ini. Sekali lagi mohon maaf ya riskon. Haha… Novel ini terispirasi dari film ada apa dengan cinta walaupun saya gak pernah melihatnya, ya Cuma sedikit ngintip wajah dian sastro waktu muda itu dan juga terinspirasi film 5 cm. jika ada kesamaan alur cerita saya mohon maaf yang sebenar-benarnya. Tapi itulah inspirasi saya untuk membuat cerita ini. Untuk saya yang jarang membaca tapi bisa menuliskanya. Hina gak kamu yang hobby baca??. Hahaha Nanung (Rimbasadewo) Hasan.140692@gmail.com Atas nama Boarkim’09 (2014)
  6. 6. Wawancara Ngawur ”Kita akan mengupas sedikit tentang novel berjudul Termodinamika Cinta yang katanya ditulis oleh seorang penulis gila dengan nama pena Rimbasadewo”. “Saya Sakinah Jawas, reporter Besuki Galau melaporkannya untuk anda”. Sakin : “Apa kabar Mas Rimba?”. Rimba : “Alhamdulillah, kabar saya baik dan sehat Mbak Sakin.” Sakin : “Loh kok kamu Nung?”. Rimba : “Iya, saya Rimbasadewo”. Sakin : “Kita akhiri laporan kali ini, karena kita benar-benar bertemu dengan orang gila.” Kring, kring, Suara becak. Ternyata bukan suara becak tapi dering telepon seluler milik Sakin. Sakin segera mengangkat telpon tersebut. “Telpon dari bos ini” ucap Sakin. “Iya bos, ada apa?”.“Hasil wawancara dengan Rimbasadewo mohon segera dikirim, kita kekurangan berita untuk mengispirasi pasien rumah sakit jiwa yang mulai mengamuk”. Besstttt….. tut, tut, tut… “Aduh, saya kentut Nung?”. “Gak apa-apa Kin, kentutnya sopan kok”. “Saya Sakinah jawas dengan terpaksa melanjutkan wawancara yang tidak berguna ini”. “Semoga tidak makin sesat dari wawancara yang tidak bermanfaat ini”. Sakin : “ Boleh saya lanjutkan Mas Rimba, atau aya panggil Nanung saja?” Nanung : “Panggil Nanung saja biar lebih akrab, Rimbasadewo kan Cuma nama pena saya atau sebutlah itu nama gila saya”. Sakin : “Bukankah kamu memang sudah gila Nung?”.
  7. 7. Nanung : “Orang gila pun pasti marah jika dipanggil gila, apalagi jika orang waras disebut gila pasti tidak rela”. “Saya rasa gak masalah disebut orang gila selama masih bisa kembali dalam kewarasan mental dan mampu hidup dengan orang-orang yang merasa waras disekelilingnya”. Sakin : “Kamu merasa gila atau waras sebenarnya nung?”. Nanung : “Seniman tidak akan peduli dipanggil gila atau waras, karena mereka berada pada titik setimbang. Disatu sisi mereka larut dalam kegilaannya tetapi tetap dapat mempertahankan kewarasannya”. “Contohnya Si Dalang Edan, keedanan dari gaya dan pemikiran eksentriknya tetap jadi panutan orang-orang yang ngaku masih merasa waras”. “Jika seni diartikan pada hasil, cipta, dan rasa maka penulis juga gak masalah jika disebut seniman bukan?” Sakin : “Saya semakin tidak paham nung, bisa dijelaskan lebih rinci?”. Nanung : “Ehm, ditinjau dari karyanya seniman memiliki pemikiran lebih, terkadang diluar nalar, bahkan gak masuk akal dari logika kewarasan manusia. Dengan pemikiran yang diluar nalar itu walaupun ngaku dewa pada akhirnya ya disebut orang gila bukan?‟. Sakin : “kesimpulan tentang seniman gila itu gimana terus nung?‟ Nanung : “Kesimpulannya, seniman sendiri tetap menyadari kodratnya sebagai manusia yang secara fisik dan mental masih dalam kewarasan manusia biasa. Namun, kemampuan pemikiran dan imajinasinya menyelami sisi yang tidak biasa membuat mereka disebut gila”. “Anggaplah seniman itu orang yang sakit mental tetapi memiliki penawarnya.” Kenapa tetap dibilang gila?. Yak karena mereka tetap dianggap sakit bukan sakin”
  8. 8. Sakin : “Daripada saya ikut gila ikut pemikiranmu lebih baik bahas Novelmu saja nung, gambarin sedikit tentang sesuatu yang kamu tulis itu?. Nanung : “Saya sebenarnya pingin buat novel dengan tema science fiction,didalamnya saya menghubungkan tentang ilmu termodinamika dengan proses mencari cinta. Setting ceritanya saya buat di lingkungan kampus dengan teman-teman saya sebagai pemerannya”. Sakin : “Jika ini fiksi berarti imajinasi saja dong nung, gak ada bagian yang kamu benar-benar mengalaminya kah?. Apa kamu sudah ijin teman-temanmu memasukkan nama asli mereka dalam cerita?. Nanung : “Ya hanya imajinasi saja dan gak perlu diperdebatkan teori termodinamikanya karena saya sendiri juga tidak terlalu menguasainya”. “Ada sedikit yang merupakan pengalaman pribadi tetapi dengan tokoh yang tidak dalam dengan cerita dan itu rahasia yang saya tidak ingin membahasnya. Pastinya pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain menjadi inspirasi yang menumbuhkan imajinasi saya membuat cerita”. “Gak usah ijin mereka, toh saya hanya menggunakan nama saja yang akan mereka sadari bahwa itu bukan mereka. Kalaupun ada yang tidak terima, mereka harus menerimanya walaupun dengan terpaksa”. Sakin : “Mengapa perlu pengalaman pribadi ditambah pengalaman orang lain untuk menumbuhkan imajinasimu?”. Nanung : “Pribahasa mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Seberapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mengalami semua pengalaman itu sendiri, mungkin tak akan cukup waktu seumur
  9. 9. hidup kita untuk mengalaminya. Maka dari itulah kita harus mempelajari pengalaman orang lain untuk lebih memaknai dan mengerti hidup ini. Sebagai gantinya kita juga harus saling berbagi pengalaman dan teladan yang dapat menginspirasi orang lain. Sakin : “Egois sekali memaksa temanmu menerima cerita ini, apakah tidak ada diskusi dulu sebelum pembuatan cerita. Lalu bagaimana kamu menceritakan cerita itu sesuai kepribadian mereka?” Nanung : “Ya, itulah keegoisan saya dan secara tatap mata langsung saya tidak pernah mendiskusikannya dengan mereka.” “Saya tidak pernah berharap itu sesuai dengan kepribadian mereka secara nyata”. Sakin : “Lalu bagaimana cara kamu menggambarkan watak mereka Nung?”. Nanung : “Dengan ritual pemanggil jiwa tentunya”. Sakin : “Ritual apa itu nung?” Nanung : “Saya panggil jiwa atau bayangan mereka untuk berdiskusi, mengerti watak mereka, dan kemudian menggambarkannya. Enaknya ritual tersebut saya bisa menggambarkan mereka sesukanya, karena sifat bayangan itu selalu nurut mengikuti objek yang sebenarnya dan sengaja saya buat menuruti keinginan saya”. “Contohnya, saya memanggilmu khusus untuk membuat wawancara ini menjadi lebih nyata”. Sakin : “Jahat banget kamu nung melakukan ritual pemanggil jiwa kepada teman-temanmu?” Nanung : “Kamu lebih jahat kin, dengan tidak sengaja memanggil jiwaku yang membuatku cinta kamu”.
  10. 10. Sakin : “Makin jijik aku sama kamu Nung, jika itu yang kamu rasakan saya kecewa kenapa saya masuk dalam cerita hanya sebagai ilusi saja?”. Nanung : “Karena kamu hilang begitu saja dari hadapanku. Tetapi aku sengaja membuat wawancara ini khusus hanya kamu dan aku sebagai tokohnya, karena saya tidak ingin ada tokoh lain mencemarinya dan mengganggu kita”. Sakin : “Di dalam prakata kamu memohon maaf kepada riskon kalo aku gak salah, dia tidak dimasukkan dalam cerita karena kamu takut menghina. Apa maksudnya itu?” Nanung : “Tolong jangan bahas nama itu, perasaan jijikku kepadanya melebihi perasaan jijikmu ketika melihatku Kin”. “Intinya menghina itu tidak boleh dilakukan karena perbuatan tidak baik, yang boleh kita lakukan adalah membullynya, tetapi tidak dalam cerita ini”. Sakin : “Terserah kamu dah nung”. “Kalau begitu apa arti teman bagimu jika kamu tega melakukan ritual pemanggil jiwa pada mereka?”. Nanung : “Yang pasti teman tidak sekedar kenal nama mereka, jika ada pribahasa tak kenal maka tak sayang, maka sebagai teman kita harus mengenal kelebihan, kekurangan, sifat, dan watak mereka, mengerti, memahami, serta menerima mereka apa adanya. Jika kita makin dekat maka disitulah kita akan menemukan arti sahabat. Sakin : “Kembali ke novel, gaya nulismu kan agak mesum dan erotis biasanya, gimana novel ini apa masih mesum?”. Nanung : “Sesuatu yang erotis itu selalu eksotis kin. Ada sedikit sih sebenarnya yang juga kelemahan dari novel ini. Di novel ini aku sadari terlalu banyak kata Ah, Ih, Uh, Eh, Oh. Jangan artikan kata itu sebagai bantahan Ah pada orang tua, karena itu dosa. Saya
  11. 11. berharap kata-kata itu bukan kelemahan tapi desahan yang tetap menyimpan keerotisan dari novel ini”. Sakin : “Jelaskan kekurangan dan kelebihan dari novel ini nung lebih rinci?”. Nanung : “Kekurangannya tentunya banyak kata tidak baku, banyak teori yang ngawur dan terlalu dipaksakan, penulisannya dan tanda baca tentunya. Sebenarnya saya ingin novel ini berbentuk prolog seperti wawancara kita karena memang banyak pembicaraan langsung dari tokoh-tokohnya. Namun, karena terlanjur jadi paragraf ya apa boleh buat saya pun terlalu malas untuk mengubahnya. Kalo kelebihannya mungkin tidak ada dan terkesan biasa, tetapi saya berharap pembaca tidak usah terlalu dalam memikirnya. Namun, membuat pembaca tersenyum dan tertawa itu lebih dari cukup bagi saya. Sakin : “Oke, pertanyaan terkhir karena saya sudah benar-benar tidak betah, menurutmu apa arti cinta Nung?. Nanung : “Saya mungkin akan plin-plang menjawab kata itu dan akan terus memberi jawaban berbeda jika kamu tanya hal itu pada tiap kesempatan. Menurut saya cinta itu akan sulit dipahami, dibayangkan, dimengerti, dan merupakan petualangan sepanjang hidup kita untuk mencarinya. Karena itulah selamanya cinta tidak akan pernah musnah,selalu abadi, dan menarik untuk diperbincangkan. Yang kita lakukan hanyalah percaya bahwa cinta itu nyata jika kita dapat merasakannya. Sakin : “Saya rasa cukup wawancara kita, saya rasa gak usah saya ucapkan terimakasih karena saya yakin kamu tidak rela saya akhiri perbincangan membosankan ini”. Nanung : “Ya, Saya hanya rela jika takdirmu adalah saya kin.”
  12. 12. “Saya akhiri perbincangan ini, walaupun tidak menginspirasi semoga juga tidak menimbulkan emosi. Saya Sakinah Jawas melaporkan untuk Besuki Galau, “Lebih baik anda tidur daripada ngawur dan ngelantur”. “Terimakasih dan sampai jumpa!!!”
  13. 13. Daftar Isi Bagian 1. Di Kampus ini Bagian 2. Kuliah Oh Kuliah Bagian3. Sistem Reaksi Kimia Bagian 4. Hukum Pertama Termodinamika Bagian 5. Hukum Kedua Termodinamika Bagian 6. Hukum Ketiga Termodinamika Bagian 7. Ku Menanti Jawaban Disaat Kelulusan Bagian 8. Jawaban dari Penantian Bagian 9. Kebersamaan, Cinta, dan Persahabatan Bonus Personil Angkatan kimia 2009 UNEJ Kesan Dengan Dosen Pengajar, Staff, Dan Teknisi Kimia
  14. 14. Bagian 1.Dikampus Ini “Ah, panasnya hari ini!”. “Kuliah siang dimana kalor sinar matahari cukup menyengat membakar kulitku yang putih ini”. “Enak tidur siang di kostan, dibawah kipas angin dengan es jus sirsak yang manis asam”. “Demi cita-cita aku rela berjuang”. Nanung seorang mahasiswa jurusan kimia dengan sifatnya penyendiri dan masih bingung tentang arti cinta, sebenarnya banyak wanita yang mendekatinya namun dia belum percaya arti cinta karena cinta abstrak tak bisa diterima logika dan tidak ada teori yang melandasinya. Gayanya selalu necis, kadang gembel, ya sesukanya pokoknya. “Hai om Ridho!”. Beberapa adik angkatan menyapanya karena perawakannya yang mirip Ridho Roma dengan rambut keriting putih dan cukup beribawa. “Ah wanita usil aja panas-panas gini”. “Cuekin aja lah, hemat energi bro!”. hahaha…. Pensantian yang lama, memang kebiasaan dan rahasia umum mahasiswa sering sekali molornya walaupun tidak semuanya. Sejenak melamun mengapa bisa tersesat dijalan yang berat ini. Masuk jurusan kimia, jurusan MIPA. Dulu tak pernah membayangkannya ternyata kimia adalah jurusan sehoror ini. Memang anggapan orang menganggap wah dan pintar masuk jurusan ilmu eksak ini. Tapi banyak mahasiswa yang frustasi dengan ilmu-ilmu yang dibilang pasti tetapi banyak sekali pelajaran teoritis cenderung filosofis yang rasanya sepakat bahwa kita pintar hitung tapi tidak cukup untuk menggabungkan dengan teori yang terlihat abstrak. Membuktikan teori dengan metode ilmiah rasanya membuat otak kita terperas gila. Namun, asik juga dan mungkin inilah tantangannya walau nasib satu koma menghadang ya jalani saja. Lamunan singkat nanung disaat menanti temannya. “Hai Nanung”, sambut Ferisa dengan menepukkan tangannya di pundak Nanung. “Cemberut aja, tuh banyak cewek-cewek yang menyapamu”. “Mana?”. “Setel budek aja”. “Ah kamu gak peka banget paling gak senyumin dikit lah”. “Ah males Fer”. Ferisa seorang gadis cantik dan menarik sahabat baik Nanung,
  15. 15. cantik penuh pesona yang menyimpan hati kepada Nanung walaupun nanung selalu menganggapnya hambar, Ferisa selalu mencoba membuat Nanung mengerti arti cinta.“Eh, mana Huda?”. “Kan sekostan tuh kenapa gak bareng, kuliah kita kan sama”. “Ah dia lagi sakit perut”. “Kutinggal aja lah, aku kan selalu tepat waktu, takut terlambat aku”. “Ih jahat banget kamu sih, walaupun kayak gitu dia kan sering nolongin kita dan ngasi nasihat yang baik”. “Ah, biarin lah bareng terus dikira homo nanti aku”. Hahaha… (tertawa bersama) “Weh, kalian, siang-siang gini malah asik berdua”. “Udah panas jadi makin panas lihat kalian berdua”. “Hi, Rega cemburu ya?”, kata Ferisa dengan lirik menggoda. “Ah biasa aja, udah nyari buku buat kuliah hari ini”. “Nih aku lagi baca buku bagus”. “Ah rajin amat kamu Reg”, ucap Nanung. “Ya, nanti aku fotokopi deh bukunya sekalian belajar bareng kalo ada yang gak aku mengerti”. “Ok, boleh tapi jangan tanya yang macem-macem termasuk nyangkut-nyangkutin pelajaran sama cinta”. “Teori kan harus diaplikasikan Reg, ah kamu ini”. “Terserah lah kamu selalu nanya hal yang ngaco Nung”. Rega Anggraini seorang yang kalem penyimpan sejuta rahasia dan pintar, dekat dengan Nanung karena dapat mengajarinya pelajaran kuliah, tetapi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Nanung yang selalu tidak biasa, diluar nalar logika, dan membuat Rega selalu kewalahan untuk mencoba menjawabnya. “Woi bro!”, sambil berlari. “Belum mulai kuliahnya?”. “Gak lambat kan aku?”. Hahaha…. Huuuuu… Semua orang menyorakin Hisyam yang tiba-tiba datang. “Pasti ada yang bangunin ya?”, tanya Rega. “Mana ada orang suka bangkong kayak kamu tepat waktu?”. Hehehe… Hisyam pun tertawa. Hisyam seorang siswa teladan pandai, gayanya ceplas-ceplos, apa adanya, sedikit keras kepala, dan arogan kadang-kadang. Hisyam selalu digilai wanita dan benar-benar seorang pecinta. “Syam mana si Iis pacarmu kok gak keliatan?”. “Eh iya, mana ya?”. “Ketinggalan diparkiran mungkin Fer”, jawab Hisyam enteng. “Kok mau sih dia ama kamu?”. “Salah dia aja yang mau ama aku”. Hahaha…. Tiba- tiba datang seorang wanita penuh emosi dan yang luntur dandananya akibat mandi keringat. Melayanglah buku kuliah mengenai kepala Hisyam,
  16. 16. ciattttt… “Aduh”, Hisyampun merintih kesakitan. “Apa-apaan sih Is?”. “Ah kamu ini kunci dibiarin gantung di sepeda, gimana kalau hilang sepedanya?”. “Tadi pak satpam manggil kamu eh malah langsung lari aja”. “Eh, sorry aku kelupaan”. “Kelupaan atau kebiasaan?”,“Kamu tau kan bedanya?”. “Tuh jidatmu kok gak kelupaan”. Iispacar Hisyam yang cukup menarik centil dan selalu menikmati cinta sebagaimana dia rasa. Walaupun Hisyam pandai tapi dia ceroboh dan seenaknya kadang terlihat sangat egois tetaapi Iis selalu mencintainya. “Haduh, siang-siang masih tengkar aja”, ucap Huda memecah kebisingan akibat pertengkaran Hisyam dan Iis. Huda Yahuda seorang yang bijaksana menengahi persahabatan antar mereka. “Ah, gak tau tuh Hud bosan liat mereka gitu terus”. “Lah, pasangan itu kan harus akur ini malah tengkar terus”, ucap Huda sambil memegang perut seperti sedang kesakitan. “Eh, kamu sakit perut Hud kok pegang perut terus?”, tanya Ferisa. “Iya Fer, tuh gara-gara mienya si Nanung yang campur sayur”. “Kan sehat Hud, campur sayur daripada mie doang Cuma karbohidrat?”. “Sehat apanya Fer?, aku pikir sayur, ternyata rumput dihalaman yang dipotong-potong mirip sayur”. Nanung senyum-senyum geli melihat kesuksesan menjahili Huda. Langsung saja tangan Ferisa menjewer telinga Nanung. “Ih, sakit tau Fer gerutu Nanung”. “Kamu jahat banget sih ke temen sendiri, udah satu kostan masih aja dijahilin”. “Iya, ampun deh Fer”. “Gak akan aku ulangi lagi”. “Kalo nakal lagi bilang aja ke aku Hud!”, ucap Ferisa. “ Biar ku hajar nih anak”. “Kapok!!!”, jawab mereka serempak. “Hai teman teman apa kabar?”, seorang laki-laki turun dari mobil mewah warna merah dikuti seorang gadis kemudian mereka berpisah begitu saja. “Eh, Yusril”, jawab Rega. “Mobil baru bro Tanya Hisyam penasaran, lengkap sama supirnya pula kayak bos saja”. “Weh, iya nih biasanya tetep naek motor walaupun anak bos” sahut Huda. Yusril mahendra mahasiswa biasa-biasa saja yang menjadi sahabat mereka, kaya, royal, dan suka mentraktir. Bokapnya yang tajir dipastikan dia akan mewarisi harta kekayaan dengan jumlah kotor ratusan dolar, penghasilan bersihnya paling 5 ratus ribu doang sebulan. Hahaha… Entahlah, gak pernah hitung kekayaan soalnya. Bokapnya yang bos juga membuat kenalannya juga
  17. 17. anak-anak bos. Tetapi kelebihan Yusril adalah dia masih mau menerima kita sebagai sahabatnya walau beda kasta diantara kita. Dia tidak membedakan teman- temannya bahkan sering mengundang teman-temannya dirumah besar yang menurutnya sederhana. “Motor tetep ada kok”, jawab Yusril,“tapi bokap lagi ke luar negeri”. “Daripada sopir nganggur gak jelas,aku suruh aja nganterin aku bro”. “Terus cewek tadi siapa bro?”, sahut Hisyam. “Oh itu, anak rekan bisnis papa”. “Kebetulan kuliah didisini juga, cuma jurusannya aja beda sama kita”. “Kebetulan dia tinggal di komplek yang sama, trus sopir yang biasanya dia anterin lagi sakit, jadi aku tebengin bro”. “Keluarganya juga cukup dekat dengan keluarga kami, jadi apa salahnya lah jika kita dekat”. “Calon istrimuberarti tuh Yus?”, tanya Nanung. “Ah, jangan mikir jauh-jauh bro,bisnis itu banyak resikonya, sahabat bisa jadi penuh muslihat kalo soal duit”. “Tergantung nanti lah kalo bisnis keluarga kita sehat dan lancar bisa-bisa kita dijodohin, tapi papa aku tetep ngasi aku kebebasan kok bro soal jodoh”. “Jadi santai aja masalah jodoh”. Yusril menjawab dengan penuh bijaksana dan teman-teman mereka pun mengangguk tanda mengerti. “Eh, udah lewat 5 menit nih”, ucap Rega memotong obrolan mereka. “Kita kan kuliah termo hari ini”. “Dosennya agak judes loh, kalo lambat lebih 15 menit gak boleh masuk nih kita”. “Ayo-ayo ke ruang kuliah”, jawab mereka serempak dan segera menuju ruang kuliah. Sekilas tokoh, Nanung, Ferisa, Rega, Hisyam, Iis, Huda, dan Yusril adalah mahasiswa jurusan kimia suatu universitas terkenal yang cukup disegani. Entah karena takdir atau hanya kebetulan mereka dapat bertemu dan berkumpul dalam satu angkatan. Memang masih banyak teman-teman lain yang mewarnai cerita mereka. Namun, cerita ketujuh sahabat ini yang nampaknya lebih bermakna. Mereka menamai angkatan mereka dengan sebutan Boarkim‟09. Boarkim singkatan dari bocah liar kimia, ya memang tidak seperti angkatan lain yang memilih nama-nama unsure kimia sebagai nama angkatan atau nama lainnya yang lebih bermartabat sebagai mahasiswa. Angkatan tahun 09 ini memang tiada
  18. 18. duanya dengan tingkah yang gila dan agak tersesat menjadi aib di jurusan kimia. Hahaha…. Di ruang kuliah terik siang hari yang menyengat membuat keringat bercucuran tidak terasa. Hembusan AC dalam ruangan membuat mahasiswa seakan ngantuk dalam heningnya suara kuliah. Hisyam dan Iis lebih suka duduk di pojok ruang kuliah. Memang terlihat seperti sepasang kekasih tetapi memadu kasih di ruang kuliah rasanya bukan pemandangan yang tepat untuk diungkap. Nanung Huda dan Yusril duduk dibangku tengah seakan setengah ngantuk sambil memaksakan memperhatikan pelajaran kuliah. Sementara Rega dan Ferisa duduk didepankelas dengat raut wajah serius memperhatikan pelajaran. Huda pun tiba- tiba nyeletuk, “ah kuliah termo kayaknya bukan waktu yang cocok deh di siang- siang kayak gini”.“udah panas, materinya tentang panas pula, otakku jadi makin panas”. Yusril pun menambahi, “ah iya bro aku yang terbiasa di ruang AC pun seakan AC diruangan ini tak bekerja maksimal, gerah nih gara-gara pelajaran”. “Eh Nung, ngelamun aja kamu, denger apa yang kita bicarain gak?”, Tanya huda. “Bicarain apa?” Nanung dengan wajab bingungnya. “Weh kamu merhatikan pelajaran atau sapa?”, Tanya Yusril. “Ngelamun nih anak”, celetuk Huda. Tiba- tiba sang dosen pun menunjuk Nanung. “Jelaskan yang dimaksud termodinamika?”. “Termodinamika itu lebih panas dari siang hari ini bu”, jawab Nanung. Ruang kuliah pun menjadi ramai oleh tawa anak sekelas. “Kamu perhatikan gak sih?, yang lain diam kalo rame keluar aja!”, Sentak Bu In, dosen termo yang terlihat cukup marah hari ini. “Mulai besok kalian harus belajar, saya akan menunjuk satu-satu mahasiswa untuk mengerjakan”. “Yang tidak bisa akan mendapat hukuman”. “Kuliah hari ini saya akhiri!” tutup bu dosen. Kelas kembali gaduh. “Wah bencana ini, hukumannya sih gak masalah tapi gengsi dan malunya nih muka taruh mana?” ucap Yusril. “Kalo waktu SD sih biasa, nih udah tuwir dihukum kayak anak SD kan malu” jawab Huda. Akhirnya kelas pun sepi ditinggalkan para mahasiswa. Demikian ketujuh sahabat tadi saling mengingatkan untuk belajar sebelum ucapan dosen menjadi kenyataan di pertemuan kuliah berikutnya.
  19. 19. Mereka berkumpul diparkiran setelah bersama di ruang kuliah termodinamika, Ferisa dan Rega segera mengendarai sepedanya menuju kostan tercinta. Si Hisyam dan Iis bingung mencari kunci yang ternyata lagi-lagi tertinggal di ruang kuliah. Yusril segera memasuki mobil jemputannya dan Nanung bersama Huda segera pergi menuju kostannya. Dalam perjalanan Huda dan Nanung yang megnendarai sepedanya masing-masing berbincang. “Udah punya materi gak Nung?”. “Eh iya tau gitu mampir perpus dulu, tapi dah sore nih”. “Eh aku inget Rega udah punya materi ayo mampir kostannya dulu terus kita fotokopi materinya”, ajak Nanung kepada Huda. Cap cus deh… Di kostan Rega, “eh kalian kok disini buntuti aku ya?”. “Enak aja, aku pinjem materi, bencana besar kalau kita gak belajar”. “Oh iya ini fotokopiin juga Ferisa, Hisyam, Iis,dan Yusril, mereka tadi mereka kirim pesan suruh ngopiin”. “Nih bukunya besok pagi balikin terus jangan lupa kasikan kopiannya ke mereka”. “Oke makasih Reg”, jawab Nanung. “Capsus fotokopi Hud”. “Oke Nung!‟. Lanjut… rasanya sudah menjadi rutinitas kami mahasiswa males nyatet dan pemalas untuk mengkopy catatan teman cewek yang lebih rapi dan lengkap. Di fotokopian huda menggumam “ weh, gimana mo pinter lawong kuliah aja minjem catetan”. “Nasib orang males, kan bisa ditabok emakku yang udah susah buat kuliah ini”. Nanung yang mendengarkannya pun menanggapi. “ Apa sih Hud, kita ini justru yang pinter gak nyatet dan cukup ngopi catetan, kan enak gak capek”. Hahahaha….. “bocah koplak banyak alasan, ya untungnya punya temen yang berbaik hati minjemin catatan ya, lagian kita kalo nyatet juga gak karuan”. Hahaha… “ kita ini manusia paling efisien lagian ngopinya catetannya kan gratis tinggal kita minta ganti ke temen yang titip dengan harga lebih”. Otak licik nanung memang selalu begitu, jahil dan pokoknya gitulah jika udah kenal dekat dengan dia. Ya begitulah kehidupan kampus penuh dilema. Kalau tidak di kampus kehidupan lain ya dikostan bertemu dengan orang-orang aneh. Untung Huda tipe babu. Punya temen kostan kayak dia tuh banyak enaknya. Nanung yang dikit jorok selalu bersih kamarnya kalau Huda yang bersihin. “Bersabarlah Huda, pasti
  20. 20. Tuhan membalasnya. Aminnnn!”. “Sialan kamu Nung, aku dibilang babu, udah tau gitu temenmu ini masih dianiaya, diracun mie campur rumput itu balesanmu ke aku?”. “Ah masih untung gak dicampur racun tikus Hud” jawab nanung nyengir. hahaha… “oke fine, gitu ya???”. Hahaha…. (Nanung melanjutkan tertawanya).
  21. 21. Bagian2.Kuliah Oh Kuliah Pagi yang cerah seakan memberi energy untuk semangat kuliah hari ini. Walaupun bensin dalam tangki motor tinggal setetes tak menyurutkan semangat untuk kuliah. Setelah mandi dan mempersiapkan segalanya dan sedikit perdebatan dengan Huda tentang motor siapa yang akan kita bawa kekampus cukup membuat kalang kabut. Ya maklum sangu yang pas-pasan ciri anak kostan membuat kita harus pintar mengatur keuangan. Akhirnya diputuskan untuk jalan kaki menikmati hari ini. “Ayo berangkat Nung”, teriak Huda. “Iya, gak bikin mie lagi Hud?”. “Ah marung aja, kalo sarapan sekarang pasti nanti lapar lagi abis jalan kaki”. “Oke, logis juga pikiranmu”. Kampus terlihat megah hari ini, semegah semangat mahasiswa yang menempuh kuliah hari ini.Huda segera nyelonong meninggalkan Nanung yang nampaknya sudah ngos-ngosan akibat jalan kaki yang lumayan jauh dari kostan menuju kampus. Nanung berjalan dengan gontai menghadapi nasib perkuliahan yang mungkin cukup buruk. “Ah semester berapa ini?”. “Nilai gak cukup bagus, mau jadi apa nanti ya?”. “Apa salah jurusan milih kimia ya?”. Dengan merenung Nanung menghampiri Huda yang telah memesan semangkuk soto dan teh hangat. Sang pemilik warung pun menghampiri sedikit berbasa basi sebelum menanyakan menu yang akan dipesan.“Kuliah jurusan apa mas?”, tanya pemilik warung.“Kimia bu”, jawab Nanung malas. “Pasti pinter ini, kalo saya gak kuat mas, pasti dah ngebul otak saya”. “Ah, keren gundulmu, saya pintar apanya nilai pas-pasan hampir semuanya C” jawab Nanung dalam hati. “ah pasti kena kutukan rantai karbon”. Ya, di kimia terkenal ada kutukan rantai karbon, jika nilai C semuanya mirip seperti ikatan karbon yang mana hampir seluruh makhluk hidup di bumi tersusun dari atom karbon.“Kenapa anggapanya selalu keren sih, gak lihat apa yang jalanin?”. Begitupun yang dialami mahasiswa kedokteran yang juga dipuji, “keren apanya bu biayanya juga mahal orang rumah pada bingung semua
  22. 22. ini, sudah habis sepetak sawah buat kuliah”. “Yang sabar mas, ibu doain sukses jadi orang”. “Amin bu”, jawab kami dalam hati. “Eh gimana Hud kuliahnya nanti, kita kan belum belajar?” tanya Nanung. “Udah sarapan dulu, aku gak bisa mikir kalo perut belum diisi”. “Ah otakmu diperut apa?”. “Otak kan butuh asupan energiNung, kita abis jalan kaki, energi kita udah abis nih”. “Jangan bikin emosi deh!”. “Oke?”, pesananpun datang. Dengan rakusnya Huda menyantap makanan yang dipesan. Sementara Nanung masih menikmati asap panas semangkuk soto dan teh hangat yang menari-nari bagai penari perut di timur tengah. “Hud, sakin lagi nari tuh”. “Mana?”. “Tuh asap soto dan teh panas”. Sakin adalah wanita keturunan arab dikelas kami, sengkatan dengan kami, dengan wajah cantik dan bodi yang aduhai, hidung mancung, yang menjadi idaman laki-laki. “Hud tau gak aku dan Hisyam sering bayangin sakin pakai bikini terus pakai bando kelinci kayak wanita majalah playboy tuh”. “Udah cepet makan pikiranmu mulai gak waras”. Hehehe… “Haduh, punya temen kok gak waras”, gerutu Huda.“Liar juga pikiranmu bayangin sakin gitu, kayaknya cocok deh sakin kalo didandanin gitu terus tari perut”. “Ah, udah Hud aku gak mau kamu bayangin Sakin, gak rela aku tubuh sakin kamu bayangin!”. “Kan kamu Nung yang mancing imajinasiku”. “Dah lupakan anggep aku gak pernah ngomong”. Haha…(Huda terawa). “Sensi banget sih kamu Nung?”. “Cowoknya sakin pasti lebih marah kalau tau sakin kamu bayangin gitu Nung”. “Ya mangkanya lupakan saja”. Hahaha…. “Hoi lagi makan?‟ bentak Hisyam. “Weh ngagetin aja untung gak aku semprot soto” ucap Nanung sedikit marah. „Mana fotokopian materi kuliah Nung”. “Tuh di tasnya Huda”. “Aku ambil ya sama punya Iis nih duitnya!”. “Gak makan Syam?”. “Langsung capcus aja deh, Iis minta jemput”. “Tadi masih dandan udah tau panas dandananya selalu luntur kena keringet masih aja ngabisin waktu buat dandan”. “Dasar wanita!”, gerutu Hisyam sambil duduk melamun. “Udah cepet jemput sana katanya suruh jemput”. “Weh hampir lupa aku”, sambil nyeruput teh milik Huda. “Makasih tehnya bro”, aku jemput Iis dulu. “Ya sana dah”. “Uh teh panas dia seruput juga, kalo dah cinta memang bikin buta lidah pun
  23. 23. jadi mati rasa ya Nung?”. “Ah entah lah cinta itu apa sih Hud?”. “Ah susah bicara sama kamu, pura-pura gak tau”. “Aku kan emang belum menemukan arti cinta sebenarnya”. “Dah cepet abisin makananmu Nung”. Yusril pun datang, “fotokopiannya bro”. “Oh nih. Nih bro buat ganti plus buat bayar makanan minumanmu”. “Gak usah repot Yus”, ucap Nanung. “Udah sini kata Huda”, sambil mengambil uang lima puluh ribu. “Aku kasian liat kalian”, ucap Yusril. “Jarang-jarang liat kalian berdua ke warung”. “Udah abis mie campur rumput kayak yang kemaren itu”. “Sialan kamuYus”, sahut Huda sedikit tersindir. Hahaha… “Kok betah sih sekostan sama Nanung kamu Hud?”. “Dia bukan nganggep kamu temen tapi nganggep kamu kambing sampek disuguhin mi campur rumput”. “Udah Hud sabar aja, kan gak pernah kamu punya temen nyebelin kayak aku”, sahut Nanung. “Makin sabar pahalamu makin besar”. “Kampret kamuNung!!”. “Udah gak usah tengkar, aku tinggal ke bengkel dulu, bokapku nyuruh aku ngambil mobil nih”. “Nanti kita ketemu lagi di ruang kuliah”. “Oke, makasih Yus”. “Oke, sama-sama udah motokopiin materi”. “Padahal beli buku aslinya kan mampu kamu yus?”, tanya Huda. “Kan enak fotokopi bisa jadi catetan bagian belakangnya”. “Kaya-kaya pelit juga loh bro”. “Balikin 50 ribunya!” sakit hati aku. hahaha…. (Nanung tertawa). “Udah iklasin aja, sana cepet ke bengkel” sahut Nanung. “Dasar kalian semua”… hahaha “Hai ngelamun aja Rega membuyarkan suasana‟. “Ayo, kalian gak belajar termodinamika, kuliah nanti lo, nanti ditanya gak bisa jawab”. “Ya, tapi males kuliah ah”. “Itung-itungan teorinya juga sulit”. “Udahlah ayo kalo gak paham kita belajar bareng”. “Tuh Ferisa selalu semangat”. “Ah dia kan selalu semangat selalu ceria, sedihpun gak kira ketahuan”. Ferisa menyela, “emang aku robot penuh senyum, gini-gini aku wanita yang perasa”. “Kalo ngambek banjir tuh kamar tidurku”. “Tisu bertebaran deh”. “Ih curhat, sapa yang Tanya”. “Hu, dasar jomblo gak perasa maunya sendiri”. “Ah perhatian banget kalo aku jomblo”. “Emang kamu bukannya jomblo juga?”. “LDR tau”. “Lupa Di Rantau itu”. “Udah deh gak usah bahas hubungan asamara masih ada tujuan yang ingin kucapai”, ucap Ferisa. Hahahaha… Huda pun datang “ayo bro kita terima ajakan mereka untuk belajar
  24. 24. daripada ngerumpi aja kerjaan kita”.“Udah jangan ribut ayo belajar di taman depan kampus tuh mumpung masih cerah nih”, ajak Rega. Di bangku taman Rega mengawalinya acara belajar bersama kita. “Kuliah kemarin kita kan bahas energi”. Nanung dan Huda hanya mlongo. “Huh, dengar materi kuliah kemarin gak sih?”. Ferisa hanya tersenyum geli melihat ekpresi culun Nanung dan Huda serta ekpresi sebel Rega. “Ah mereka masak dengerin Reg, udah jelasin aja dari awal biar mereka mengerti”. “Oke deh”.“Termodinamika itu kan ilmu yang untuk menghitung perubahan panas atau perubahan bermacam energi lainnya”.“Karena kita kuliah kimia maka dipelajari termokimia yaitu perubahan energi yang menyertai reaksi kimia”. “Paham gak Hud,Nung?”. “Iya. Inti dari kuliah termodinamika itu pastinya energy”. “Energi itu kemampuan untuk melakukan kerja”. Dengan sigap Rega menuliskan rumusnya. “Gimana kalo dianalogikan Reg, saya lebih paham kalo di analogikan” pinta Nanung. “Misalnya pada kuliah pemisahan bahwa senyawa dapat di pisahkan dari titik didihnya”. “Seperti menggoreng dilakukan untuk mengurangi air dalam makanan membuat renyah makanan karena air menguap lebih dulu daripada minyak dan minyak memiliki titik didih lebih besar dari air”. “Lalu saya harus menganalogikan gimana Nung?”. “Ya misal energi ibarat cinta Reg bahwa cinta sebanding dengan seberapa usaha seseorang untuk mendapatkannya”. “Katanya cinta itu butuh pengorbanan”. “Gimana Fer?, Kamu kan pengalaman tuh cinta seseorang diukur dari perubahan energinya”. “Ah kalo itu pakai perasaan aja Nung, semakin besar pengorbanan kalo gak cocok di hati ya percuma”, jawab Ferisa. Oke, Nanung tetap mempertahankan teorinya. “Kalo cinta ibarat energi kita lebih mudah menghitung perubahannya, berarti kamu bisa menilai dari perubahan perhatiannya ke kamu kan Fer?”. “Ya tergantung juga kita menilai perhatiannya modus atau tulus”. “Ah udahlah” jawab Nanung menyerah namun tetap menampilkan wajah tak puas. Huda hanya melongo saja, “ah melenceng kecinta jadi makin abstrak Nung. “Gak belajar nih kita”. “Iya nih Nanung terlalu gak biasa analoginya” sahut Rega. Merekapun melamun bersama.
  25. 25. Yusril pun datang dengan mobil barunya, “ayo kuliah jangan sok belajar deh kalo akhirnya bingung juga”. “Lagi semangat banget kuliah bro, abis dapat mobil baru nih kayaknya?.”. “Mobil lama bokap bro baru dibenerin dari bengkel, aku disuruh membawanya”. “Ya sudah aku bawa saja”.“Kamukayaknya gak semangat kuliah Yus, paling di kelas bayangin naik mobil barumu sama cewek- cewek”. “Udah pasti bro… hidup harus dinikmati”. Hisyam dan Iis pun datang, “ayo kuliah”. “Kita mojok dibangku belakang aja sambil pacaran”. “Hahaha lu sih pinter bro mau kuliah sambil blowjob pasti dapat nilai A” ucap Yusril. Iis pun menjawab, eh kurang ajar kita tuh pacaran islami masih ada norma-norma yang kita pegang”. “Cinta tuh komitmen bro saling menjaga pikiran kalian itu yang jorok” jawab Hisyam. “Ferisa dan Rega pun bertanya blowjob apaan sih?”. “Ah sudah itu bahasanya tante mira” jawab Huda. Tante mira mahasiswa binal nan sensual seangkatan kami walaupun sering menggoda dengan bodi sensualnya dia tergolong wanita pintar. Huda menengahi “ayo kuliah dah telat nih”, tiba tiba pantat Huda ada yang meremas. “Tante Mira” ucap Huda terkejut. “Ngomongin aku ya?, jangan bayangin bodiku yang seksi ya”. Hueek ekpresi Hisyam, Yusril, dan Nanung memalingkan muka. “Eh Nanung” ucap tante mira. “Kita sekelompok praktikum loh, kamu gak mau praktik lainnya sama aku?”, tanya tante mira menggoda.Nanung hanya diam danFerisa menimpalinya, “tuh Nung digoda Tante Mira”..teman-teman lain pun cekikikan sendiri. “Udah lah Fer anggap sponsor saja”.“Hu dasar, ayo cepet kuliah telat nanti lo” ajak tante Mira. Kuliah termodinamika hari ini terasa aman-aman aja. Walaupun tekanan melebihi tekanan ruangan yang 1 atm membuat reaksi jantung berdetak makin kencang. Untungnya diantara kami belum ada yang ditunjuk dosen untuk menjawab pertanyaannya. Satu hal yang penting akibat adanya kuliah termodinamika ini Rasanya kuliah termodinamika ini yang membuat persahabatan kita makin akrab dan erat. Kita jadi makin sering belajar bareng walaupun akhirnya jadi obrolan gak penting atau sekedar gosipin dosen. Dengan sering belajar bersama kita bagai sebuah keluarga.
  26. 26. Bagian3. Sistem Reaksi Kimia Pelajaran mata kuliah sudah sampai sistem. Diruang kuliah Bu In dengan semangat menjelaskan tentang sitem kimia.Slide power point terpampang dengan cahaya proyektor yang bersinar, dengan sabar dan penuh semangat Bu In menjelaskan materi sistem. “Perubahan energi dapat ditentukan dari system”. “Kita harus tau sistem apa saja dalam reaksi kimia” tegas Bu In. “Sistem reaksi dibagi menjadi tiga bagian yaitu sistem tertutup, terbuka dan terisolasi”. “Sistem terbuka tidak hanya dapat mentransfer energi tapi perubahan massa”. “Sistem tertutup hanya akan memungkinkan terjadinya transfer energy, serta sistem terisolasi tidak akan ada massa dan energi yang tertransfer”. Semua mahasiswa pun memperhatikan dengan seksama. Dipojok ruang kuliah Hisyam tiba-tiba tengkar dengan Iismembuat gaduh suasana. Bu In pun menyindirnya, “Hei Syam, kencan tau tempat dong, kencan aja di tabung reaksi dalam sistem terisolasi biar transfer energinya reaksinya tidak mempengaruhi konsentrasi siswa yang sedang serius menerima pelajaran ini”. Sempat juga Hisyam menyela, tapi kan gak terlihat transfer perubahan massanya bu?, berarti saya kencan dalam sistem tertutup?”. “Tuh lihat sendiri kamu jadi makin kurus dan Iis pun juga begitu, itu kan juga transfer massa, biar gak ada transfer massa dan kalian bisa gemukan dikit makanya pakai sistem terisolasi saja”. Ruangan pun ramai sorakan dan penuh tawa dan Hisyam pun tampak malu.“Oke besok quis ya dari energi hingga sistem ya,” ucap Bu In mengakhiri kuliah hari ini “Wah gimana nih?‟, Yusril mendekat dan kita bertujuh pun berkumpul. “Ayo belajar bareng dirumahku, hari ini papa ke luar kota,, rumah lagi sepi jadi sekali-kali main-main kerumah buat belajar”. “Daripada kalian nongkrong gak jelas belajar di parkiran kan gak keren bro”. hahaa… “Menghina kamu Yus”. “Aku siapin makanan, datang aja kerumah”. “Nginep juga boleh, gak bosen kalian tidur di kasur kostan yang udah keras kayak batu tuh”. “Ih kamu belum ngerasain nikmatnya ya Yus?” tanya Rega. “Udah kok dikostannya Huda dan Nanung yang
  27. 27. lembur tugas kemaren”. “Sebagai ucapan terimakasih udah boleh nginep dikostan kalian ayo gantian kalian yang main dan nginep di rumahku”. “Oke bro?”. “Oke lah”. Sore hari mereka berkumpul dikostan Ferisa, Nanung dengan sepeda revo merahnya dan Huda dengan supra kesayangannya. Dandanan Nanung agak gembel dengan celana jeans yang dipotong selutut dengan kaos oblong alakadarnya tetapi tetap keren karena perawakan Nanung yang lebih berisi dari teman-temannya yang lain. Huda tampak rapi dengan hem hitam yang dia kenakan jam tangan ditangan dengan kacamata bening yang biasanya dia kenakan. Bersama Rega yang Nampak elegan dengan sepatu gunung dan tas ransel yang dia kenakan dengan topi coklat khas pendaki gunung. Ferisa pun keluar menuju gerbang kostan dengan tas punggung yang lucu khas wanita kaos lengan panjang serta celana ¾ tak mengurangi wajah cantiknya. Huda melihat jam tangan, “weh mana nih si Hisyam kebiasaan telat tuh kok belum dating”. “Ah dia pasti nungguin Iis dandan mungkin”. Nanung pun menyela pembicaraan, “Reg, dandananmu tuh kayak mau daki gunung”. “Kita kan Cuma ke rumah Yusril”. “Ih, biarin kata Rega”. Rega memang suka mendaki gunung dan dia bercita-cita menjadi penulis dan traveler. Rega membalas sindiran Nanung “Kamu tuh Nung gayamu kayak tukang ojek aja celana compang camping dan kaos oblong gitu”. “Iya nih Nanung gak sopan banget” sela Ferisa. “Dia macak gitu karena mau ngojekin kamu tuh Fer” jawab Huda. “Mau ojek kemana non, abang anterin, gratis deh!:, Goda Nanung ke Ferisa. “Ih mukamu loh Nung, jangan genit gitu, mana ada tukang ojek genit gitu pelanggannya kan kabur semua”, ucap Ferisa sinis. Nanung hanya tersenyum geli sambil mengedipkan pandangan matanya yang genitke Ferisa. Hisyam pun datang bersama Iis, “sory bro telat”, “iya nih Hisyam bangkong lagi” sela Iis. “Ayo berangkat” merekapun berangkat bersama. Mereka pun tiba di komplek lembah pertiwi berderet rumah megah disana. “Eh nomer berapa rumah si Yusril”. “Katanya sih 7a‟. “wah kenapa kita masuk kedalam kalau 7a berarti di depan sendiri” teriak Nanung. “Nih udah 1298 z kelewat banget kita”. “Tancap bro” teriak Hisyam sambil menarik gas, Iis pun
  28. 28. hampir terpental dari boncengan Hisyam bagai beban tak bermassa. “Oy pelan pelan banyak anak main dikomplek” teriak satpam komplek. Iis pun mencubit Hisyam. “Tuh denger nih rame jangan main tancapgas seenaknya”. Tiba di rumah megah nomer 7a mereka berhenti. Terlihat seseorang dengan celana pendek menyiram halaman rumahnya. Nanung pun turun dari sepeda dan menegur orang tersebut. “Eh mas pembantu panggilin majikanmu cepat!”. “Sana panggilin den Yusril!”. Nanung emang sengaja karena dia tau sebernarnya yang sedang nyiram adalah Yusril. Tiba-tiba semprotan air mengenai muka Nanung. “Kurang ajar kamu Nung, temenmu dibilang pembantu”. “Aku kan cuma bercanda Yus”, cengir Nanung dengan memeras kaos oblongnya yang basah. “Ah Nanung kebiasaan bercandanya gak tau aturan” kata Ferisa. “Orang kaya kok masih sempet nyiram halaman Yus?”, tanya Huda. “Ya, kita harus ngerasain juga bersih-bersih”. “Gak usah malu-malu mentang mentang kaya”. “Kebetulan pak sopir yang biasanya nyiram halaman nganterin papa ke luar kota dan si Mbok Rista tugasnya bersihin ruangan bagian dalam”.“Oh gitu” jawab mereka serempak. “Ayo masuk, sepeda kalian masukin di garasi”. “Yus bajuku basah” gerutu Nanung. “Kamu gak bawa salinan?”. “Nih kaos satu-satunya”. “Dasar kamu jorok banget, mandi lagi sana, ada pakaian ganti,nanti aku siapin”. Nanung segera pergi ke kamarmandi dan mengganti pakaian. Sementara teman teman lain asik mengeksplor kemewahan rumah. Melihat kamar yang luas dengan berbagai fasilitasnya. Mereka asik bermalas-malasan disofa kamar dan kasur empuk di kamar Yusril. Yusril datang memecah keasyikan mereka, “kalian gak butuh tiker?”. “Takutnya kalian gak biasa tidur di kasur empuk”. “Weh ngejek jawab mereka serempak”. “Ferisa, Rega, dan Iis di kamar sebelah aja, ada kamar tamu yang kosong”. “Kalo disini nanti dikentutin Huda dan Hisyam, ku sering jadi korbannya tuh”. Merekapun tertawa. Nanung pun keluar dari kamar mandi dengan baju Yusril yang keren. “Baju mahal nih Yus, gak apa-apa aku pakai?”. “Iya, itu hadiah dari relasi papa yang abis ke itali, kalo suka ambil aja”. “Jarang ku pakaijuga kok”. “Weh makasih Yus, datang disebut tukang ojek pulang jadi bos nih aku”. Yusril pun tersenyum.
  29. 29. setelah mereka sholat isyak bersama Yusril mengingatkan “Ayo katanya mau belajar jangan males-malesan. “Kumpul di ruang belakang ya”. “Ada taman terbuka dipinggir kolam renang”. Dengan gajebo dipinggir-pinggir kolam dan lampu lentera yang menyala mengelilingi kolam menambah romantis suasana malam itu. “Udah disiapin makan malam sama Mbok Rista, kita belajar di bangku panjang pinggir kolam disitu terang lampunya”. “Setelah belajar kalian terserah deh mau ngapain”. “Kalo mau renang juga boleh”. Belajar bersama pun dimulai Hisyam dan Rega yang pandai pun menjelaskan dengan serius tentang materi sistem. Hisyam menjelaskan tentang sistem mengulang apa yang dijelaskan Bu In pada pertemuan kuliahtadi pagi. setelah Hisyam menjelaskan saatnya acara diskusi sahut Rega. Hisyam lalu izin,“aku mojok bentar”. “Jarang-jarang kencan ditempat romantic”. “Kamu aja Reg yang pimpin diskusi mereka”. “Hu, kencan terus kamu gak ikut diskusi”. “Makin sesat aku kalo diskusi sama kalian pasti akhir-akhirnya merembet ke yang aneh-aneh”. Mereka pun saling Tanya jawab. Tiba-tiba Nanung bertanya. “Eh ingat gak Hisyam tadi kan disindir Bu In, gimana kalo bahas tentang sistem yang dihubungin dengan cinta”. Rega langsung menyahut “sudah Nung belajar sama Hisyam saja sana!”. “Kamu meracuni diskusi ini nanti”. Nanungpun pergi menemui Hisyam. “Hisyam, Sudah belum?”, teriak Nanung. “Aku gak mau maen sembunyi- sembunyian Nung kayak anak kecil aja”. “Weh aku mau tanya-tanya nih, udah dong kencannya”.“Ganggu aja sih teriak Hisyam”. Iis pun berjalan meninggalkan Hisyam. “Udah sana Nung kalo mau tanya materi kuliah ke Hisyam aku mau kumpul ke anak-anak ikut diskusi mereka”. “Gak enak dilihat tujuannya belajar malah ngajak kencan tuh Hisyam”. “Aku gak paham cinta nih Syam”. “Banyak deket sama cewek tapi ya kuanggap sekedar mainan aja dan gitu-gitu aja menurutku”. “Cinta itu mengalir bro spontanitas aja”. “Berarti gak kamu sadari kalau spontan dong?”.“Ya kadang sih, tapi kan dapat dirasakan tiba-tiba dari perasaanmu”. “Eh aku tertarik sindiran Bu In tentang sistem yang disangkutkan dengan cinta”. “Eh itu cuma sindiran
  30. 30. jangan diartikan macem macem”. “Tapi kamu tadi menyela dengan sistem tertutup, berarti cintamu miripsistem tertutup”. “Ya menurutku sih begitu, karena kan gak ada transfer massa”. “Aku kan emang kurus masak gara-gara kencan jadi kurus?”. “Aku pikir gak lah, kalo kurusku akibat pacaran”.“Kalo sistem terisolasi gimana Syam?”. “Menurutmu gimana Nung?, kok balik tanya sih”. Nanung pun menjawab, “ya menurutku sitem terisolasi adalah pergelutan hati saat kita menemukan jati diri siapa aku dan siapa dia”.“Memang ada sih perubahan energi tapi karena kita menyendiri jadi kita sendiri yang merasakan dan tidak mempengaruhi lingkungan sekitar”.“Kalo kamu suka sistem tertutup energinya masuk atau keluar Syam?”. “Endoterm atau eksoterm maksudnya”.“Kalau tadi sih eksoterm kayaknya ya karena mempengaruhi teman teman lainnya”. “Kamu sadar dong kalo itu memberi energi negatif, yang lain kan bisa ngomong jelek ke kamu nantinya Syam?”. “Terus gimana caranya kalau dibikin reaksi endoterm Nung?”.“Ya kamu harus menyerap energi dari lingkungan”. “Bagaimana caranya ya? apa aku harus mengerti orang sekitarku dan kencanku tidak mengganggu”. “Betul itu, kamu harus menerapkan kencan yang bermartabat”. “Sialan kamu Nung”. “Kalo sistem terbuka Syam?”. “Ah pasti ada transfer massa lagi nyinggung kekurusanku kamu”. “Berarti kamu belum paham kesetimbangan Syam!”. “Emang kamu paham Nung?”. “Gak juga sih”, jawab Nanung ambil tertawa. Hahaha… “Yang aku pahami ketika reaktan menghasilkan produk sehingga terjadi perubahan massa kamu juga harus memikirkan asupan gizimu untuk menambah massa reaktan agar setimbang Syam”. “Nih beneran ngejek aku kamu Nung”. “Ya aku sih berharap pada reaksi terbuka cinta bisa melepaskan energi positif”, “lalu transfer massanya gimana Nung?”. “Gimana kalau berupa produk lain, contohnya seperti buku cinta atau film cinta Ainun dan Habibi yang merupakan produk dari reaksi cinta yang membuat orang terispirasi”. “Kamu mau tanya apa mau ceramahin aku?”. “Dua-duanya”.“Ah lupakan gak nyambung semuanya Nung!”, jawab Hisyam berlalu. Belajar bersama pun berlalu dan mereka menuju kamar yang disiapkan di rumah Yusril. Hisyam nantang Yusril main PS. Sementara Nanung masih asik
  31. 31. penasaran dengan rumus ngawurnya. Dan Huda tertidur begitu saja. Tak terdengar suara Ferisa dan Rega dari kamar sebelah nampaknya mereka sudah terlalap tidur. Pagi hari mereka Nampak segar setelah mandi pagi. “Eh kalian mau sarapan apa?” tanya Yusril. “Biasanya aku cukup roti dan segelas susu”. “Susu Mbok Rista Yus?”. “Ngawur kamu Syam”. “Kalo kalian mau buat nasi goreng nasinya ada di rice cooker, bumbunya ada dikulkas tinggal buat aja”. “Ambil aja bahan yang kalian butuhin”. “Oke aku yang masak” teriak Nanung penuh semangat. “Wah bahaya ini” kata Huda. Lalu Ferisa menemani Nanung, “tenang Hud kalo macem-macem aku getok wajan dia”. “Aku yang buat bumbunya Nung” ucap Ferisa. Mereka memperhatikan dimeja depan dapur yang dibentuk mirip bar. “Nah ini harus dijauhin” ucap Huda, “nanti nasi gorengnya gak ditaburin bawang goreng malah ditaburin meisses coklat sambil menjauhkan se kaleng meisses dari jangkauan Nanung”. “Katanya enak masakannya Nanung Hud?”, tanya Rega. “Ya enak sih kalo lagi waras dan bener”. “Kemarin dia buat mie soto campur nangka, haduh rasanya kayak kolak soto”. Mereka tertawa. “Tau gak praktikum kemaren dia masak mie pakai Bunsen di lab”. “Dia bilang mie spageti, mienya ada kuah putih ternyata campur susu bubuk basi”. “Untung aku gak sakit perut, abis aku lapar aku abisin tuh mienya” ujar Hisyam. Merekapun tertawa. Yusril pun nyeletuk, “weh cocok gitu kamu sama Ferisa Nung”. Ferisa pun menjawab “seharusnya Hisyam dan Iis nih yang masak, kita kan pingin tau kekompakannya masak liat mereka tengkar terus”. “Udah, banyak piring pecah nanti!” sahut Iis. Disambut tawa teman teman mereka. Setelah sarapan merekapun berkemas pulang untuk segera menghadapi quis siang harinya. “Makasih Yus”, ucap mereka serempak. “Oke ketemu langsung di ruang kuliah nanti ya!”. Siang hari berlalu dan quis termodinamika pun berjalan dengan lancar. Tampaknya tidak ada contek-contekan karena Bu In mengawasi dengan ketat. Suasana pun seperti suasana ujian yang sunyi senyap dan tingkah mahasiswa ang macam macam. Ada yang mengangguk, ada yang memainkan bolpoint nya, ada yang sibuk menghapus jawaban. Ada yang diam saja, ada yang terus melihat jam. “Oke waktu habis, segera kumpulkan terdengar suara Bu In dari belakang ruang
  32. 32. kampus sambil menuju depan kelas”. “Belajar materi besok ya seru Bu In”. dan mahasiswa pun keluar meninggalkan ruangan. “Gimana bisa quisnya?” tanya Huda. “Pasrah aja deh” sahut Ferisa dan Rega. Hisyam lalu bertanya ke Nanung, “bisa Nung, gak pake rumus ngawur kan?”. “Liat aja hasilnya”, ucap Nanung yakin. “Ayo Hud cepat pulang” mengajak Huda segera kembali kekostan. Hisyam berbisik kepada Yusril,Iis, Ferisa, dan Rega. “Ah aku gak yakin Nanung ngerjain dengan bener, pasti nyontohin sistem reaksi dengan cinta tuh kayak yang dia tanyakan tadi malam ke aku”. “Emang dia tanya apa Syam?”, tanya Ferisa penasaran. “Kalo aku paham aku pasti ceritakan”. “Kayaknya hanya Tuhan saja yang tau apa yang dibenak Nanung”, jawab Hisyam membuat Ferisa makin penasaran. Merekapun berlalu dari ramainya kampus.
  33. 33. Bagian4. Hukum Pertama Termodinamika Malam ini terasa sunyi dengan hujan yang turun dengan derasnya. “Uh, bosan belajar”, ucap Nanung. “SMS Ferisa ah, godain dia dikit”. “Fer dikosantmu juga hujan?”. “Iya hujan, aku gak enak badan nih”. Nanung segera melompat dari kasur kostannya. Terlihat Huda sedang merapikan buku yang telah dia baca. “Hud, Ferisa sakit”. “Sakit apa?”. “Aku keluar dulu beliin obat sama makan malam”. Huda tampak bengong. Terdengar suara deru motor dari parkiran kostan dan Nanung pun menghilang dilebatnya hujan. “Bro jas hujannya”, teriak Huda, tetapi sudah terlambat Nanung keburu menghilang. “Weh main ngepot aja tuh anak gerutu Huda”. “Emang sakit apa sih Ferisa, aku SMS Ferisa aja ah”. “Sakit apa Fer?”. “Tau dari Nanung ya, cuma meriangaja kok Hud,biasa perubahan cuaca”. “Weh Nanung kok khawatir banget ya dia, dia kekostanmu mau beliin obat dan makan malam katanya”. “Ih masak sih Hud?”. “Tunggu aja didepan kostanmu pasti dia dating”. “Aku loh gak nyuruh Hud?”. “Mulai perhatian dia kayaknya ke kamu, jangan-jangan dia suka kamu Fer”. Hihihi… “Ih kamu Hud, ada-ada aja”. Segera Ferisa mengirim pesan ke Nanung. “Gak usah Nung aku gak apa-apa kok”. Suara HP bergetar disebelah huda. “Wah gak dibawa tuh hp nih anak”. Terlihat pesan dari Ferisa, Huda pun terpaksa membalasnya. “Aku Huda Fer, percuma HP‟nya gak dibawa. Udah tungguin aja dikostanmu. Jangan sia-siain perhatiannya”. wkwkwkwk Di kediaman Ferisa. “Fer ini obat sama makan malam”. “Nanung kan hujan apotik loh tuh didepan kostan, makan kan tinggal titip teman”. “Kamu kok sampek segitunya rela ujan-ujanan”. “Tuh basah kayak gini”. “Ya udahFer aku pulang”. “Loh gak nunggu hujannya reda, bajumu basah gitu”. “Sekalian basah Fer, dah ya, keburu malem”. “Makasih banyak ya. Iya cepet sembuh Fer”. Temen kostan Ferisa nyeletuk, “cie yang dapat perhatian lagi sakit dibeliin obat sama makan malam‟. Ferisa senyum, “udahlah dia cuma temen”. “Dia juga cuek tuh ke aku”. “Tapi mbak cinta dia ah”. “Udah tidur sana anak kecil”. Hahaha
  34. 34. Sampai dikosan Nanung menggigil kedinginan Huda pun ngejek. “Ah perhatian banget”. “Kostan Ferisa kan dekat apotik, kenapa kamu tiba-tiba perhatian gitu?”. “Kamu suka dia ya Nung? Tanya Huda penasaran”. “Udahlah aku cuma khawatir” jawab Nanung. “Cinta itu berlangsung spontan loh bro”. “Spontan kepalamu penyok”. “Itu bagian dari perhatian Nung!”. “Gak urus”. “Jangan bohongi hati bro”. “Saya gak membohongi kok”. “Berarti kamu aja yang belum mengerti”. “Udah menggigil nih aku”. “Tuh ada teh anget yang baru kubuat sana cepet ganti baju” ucap Huda. Nanung segera mengganti bajunya dan tidur sambil menggigil menahan dingin. “Weh kenapa bro, cuma ujan ini belum kena badai udah kayak mau sekarat gitu?”. “Panas banget tanganmu bro, makanya jangan keburu nafsu jangan lansung nyelonong nerobos ujan”. “Udah deh aku mau tidur” jawab Nanung sambil menarik selimut. Dua hari Nanung tidak ngampus gara-gara sakit. Dikampus Ferisa pun bertanya ke Huda “dimana Nanung Hud, kok gak kelihatan?”. “Sedang sakit dia Fer”, jawab Huda. “Sakit apa?”. “Kecapek‟an kayaknya”jawab Huda mengedipkan mata. “Ah pasti gara-gara hujan nganterin aku obat dan makan malam ya Hud?”. “Udah Fer Nanung pasti marah kalau perhatiannya disinggung”. “Kamu biasa saja jangan merasa berdosa”. “Aku seneng kok kalo Nanung sakit”. “Jadi gak aneh-aneh tingkah dia kalo sakit”. Hehehe… “Gimana kuliahnya kan gak bisa titip absen dosennya selalu periksa absennya”. “Tenang aja Fer, udah aku fotokopiin surat dokter kok”. “Emang parah sakitnya sampek ke dokter segala?”. “Enggak sih, cuma butuh istirahat aja kata dokter Huda”, sahut Huda sambil tertawa. “Hu, paham aku, tuh surat dokter abal-abal”. “Stt nanti ketahuan Fer”, bisik Huda. Untung Bu In lagi sibuk kemarin dan kuliah termo kosong sehingga Nanung tidak ketinggalan pelajaran saat dia sudah sehat. Mereka berkumpul diruang kuliah menunggu Bu In datang. Hisyam pun menanyakan kabar Nanung. “Kata Huda kamu kemarin sekarat Nung?, kok masih hidup?”. “Apa neraka sudah penuh menerima kamu dengan dosamu yang menumpuk?”. Hahaha… “Kalkulator malaikatnya lagi eror ngitung dosaku Syam, makanya ditunda dulu matinnya”,
  35. 35. jawab Nanung enteng. “Wah mau aku jenguk keburu sembuh kamu Nung”, ujar Yusril. “Gak jadi deh bawa buah dan rotinya”. “Bilang aja gak niat jenguk”, jawab Nanung ketus. “Kata Huda sih cuma butuh istirahat, ya udah kita biarin kamu istirahat”. “Bener nanti kita jenguk malah tambah parah”, tambah Iis. Ferisa hanya diam antara senang melihat Nanung sudah sehat tetapi masih merasa berdosa Nanung sakit akibat dirinya. Bu In pun datang dan segera membuka kuliah dengan salam. “Kali ini akan bahas hukum pertama termodinamika”. “Nanung, hukum pertama tentang apa?”. “Kekekalan energi bu”, jawab Nanung kurang semangat. “Ya benar”. Hisyam pun berbisik kepada Huda dan Yusril. “Weh beneran udah sembuh dan waras Nanung”. “Tuh bisa jawab”. “Emang sakitnya membawa berkah ya”. “Eh, dengerin Syam nanti kita disindir Bu In lagi”, ucap Iis. “Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan tetapi energi dapat diubah bentuknya”. Bu In menjelaskan dengan panjang lebar.“Kalian sudah belajar energi pertemuan kemarin bahwa energi sulit dihitung, paling mudah adalah menghitung perubahannya”. “Dalam hukum pertama dikenal suatu fungsi termodinamika yang disebut entalpi”. “Entalpi adalah kuantitas atau jumlah termodinamika yang digunakan untuk menggambarkan perubahan panas atau kalor pada tekanan konstan”. “Dalam reaksi kimiakita dapat menghitung perubahan entalpi dari perbandingan entalpi produk dan reaktan”. “Ketika reaksi mengkonsumsi energi maka reaksi kimia tersebut tergolong reaksi endoterm dan jika reaksi melepas energi maka tergolong reaksi eksoterm”. “Perubahan entalpi dapat menentukan reaksi tergolong dalam reaksi eksoterm dan endoterm tetapi tidak cukup membuktikan bahwa reaksi spontan karena menurut penelitian tidak semua reaksi eksoterm tergolong reaksi spontan”. “Maka kita perlu mempelajari hukum kedua termodinamika yang akan kita bahas pada pertemuan berikutnya”, tutup Bu In. Kuliah pun berakhir Nanung segera meninggalkan ruangan, tampak Ferisa mengejar Nanung dan menepuk bahunya. “Nung bisa bicara sebentar”. “Mau bicara apa?”. “Tuh disana aja yuk sambil duduk di teras depan kampus”. “Maaf ya
  36. 36. Nung, gara-gara SMSku kemarin bikin kamu khawatir malah kamu yang sakit karena keujanan”. “Seharusnya aku gak sms gitu”. “Gak apa-apa Fer, spontanitas aja itu”. “Makasih tapi yaNung obat dan makan malamnya”. “Eh katanya Huda, kamu suka aku Nung?”, kata Ferisa menggoda. “Huda bilang apa sih?”, jawab Nanung. “Udah jujuraja, daripada kamu simpen nanti persahabatan kita jadi renggang karena kamu selalu menutupi perasaanmu”. “Ya, kamu cantik dan ceria aku suka kamu Fer”. “Ah itu jawaban biasa Nung”. “Mau jawab apa aku terus?, ya kamu tau sendiri aku orangnya bosenan dan moody”. “Tapi melihatmu seakan aku percaya bahwa hukum kekekalan energi itu benar adanya”. “Keceriaanmu membuat energiku serasa gak pernah habis Fer, sulit sih mengungkapkan tapi kayaknya itu yang aku rasakan”. “Kamu suka atau cinta Nung?”. “Apa bedanya ya?”. “Kalo cinta berarti melebihi suka, aku belum menemukan spontanitas cinta itu Fer‟. “Jadi aku belum tau apakah aku cinta atau tidak”. “Kok Tanya gitu sih?”. “Ya penasaran aja”. “Oke, aku selalu menunggumu hingga kamu memahaminya dan mengungkapkannya ke aku Nung‟, ucap Ferisa manjadan berdiri untuk segera meninggalkan Nanung. “Eh Fer” teriak Nanung menghentikan langkah Ferisa. “Mengungkapkan apa?‟. “Mengungkapkan teori gilamu lah Nung”. “Kamu kok gak paham sih?”, ucap Ferisa sambil mengerutkan alisnya. “Ayo nung pulang”, suara Huda mengagetkan. “Ayo mana spedamu Hud?”. “Aku jalan kaki‟. “Kamu juga gak bawa speda Nung?”. “Tadi kan dijemput Rega sekalian jemput buku yang aku pinjem kemaren”. “Pantesan bisa jawab pertanyaan Bu In kamu tadi”. Hahaha… iyalah. “Ya udah kita jalan kaki aja, biar kamu tambah sehat”. “Tuh sakit karena kurang olah raga”. Oke, oke… “Hud, apakah cinta memenuhi hukum kekekalan energi?”. “Ah mulai aneh kamu”. “Gak deh kayaknya”. “Alasanya Hud?”. “Banyak orang bilang cinta akhirnya jadi benci”. “Banyak yang mengumbar cinta akhirnya cerai juga toh Nung”. “Mungkin itu bukan cinta sebenarnya Hud”. “Kalau cinta jadi benci mungkin itu hanya berubah bentuknya”. “Karena energi tak bisa dimusnahkan tetapi hanya dapat dirubah bentuknya”. “Ah terserah kamu lah”. “Tapi yang pasti ada yang spontan perhatian kemudian mengalami reaksi eksoterm”, ejek Huda. “Apa contohnya?”. “Masak gak sadar kamu hujan-hujan ke kostan Ferisa lalu
  37. 37. sakit demam itu”. “Kamu kan pernah bilang yang waktu belajar energy, mungkin cinta akan sulit diukur tapi dapat diukur dari perhatiannya”, ucap Huda mengingatkan. “Kuliah tadi menjelaskan tidak semua reaksi eksoterm berjalan spontan kan Hud?”.“Kenapa sih kamu masih membohongi hatimuNung?”. “Ya sampai aku menemukan alasannya kenapa aku harus jujur”. „Ah terserah deh”, ucap Huda sambil terus melangkah. “Eh tunggu Hud!”, teriak Nanung. “Kalo kamu penasaran tunggu aja kuliah selanjutnya, moga aja makin menjelaskan pencarian cintamu Nung”. “Emang kamu berharap aku menemukannya?”. “Ya biar aku gak repot akibat pertanyaan gilamu”. “Terlalu diluar nalar sih otakmu”. Merekapun berlalu menikmati tenggelamnya matahari sambil jalan kaki.
  38. 38. Bagian 5. Hukum Kedua Termodinamika Kuliah termo hari ini makin dinantikan Nanung, untuk menjawab semua rasa penasarannya. “Hai Nung kok udah dating?, kuliah masih satu jam lagi”, ucap Rega. “Semangat sekali ya”, ujar Ferisa yang juga datang bersama dengan Rega. “Gak tau tuh dia lagi semangat” ujar Huda menimpali. “Aku jadi ikutan smangat ini, tapi belum mandi gara-gara terlalu semangat”, sambil mencium bajunya sendiri. “Ah kamu kan selalu jorok Hud”, suara Yusril mengagetkan. “Loh kok sudah datang juga Yus?”, tanya Huda. “Iya, nganterin anak temen papa yang kemarin kalian lihat itu, dia ada jadwal kuliah lebih pagi”. Tiba-tiba Hisyam pun datang dengan Iis. “Hai bro, akusudah gak bangkong lagi nih”.“Gak bangkong apanya? pasti subuh kelewat lagi” sambut Iis. Mereka pun tertawa. Menit demi menit telah berlalu mereka berkumpul di ruang kuliah dengan kesibukan masing-masing. Hari ini ruang kuliah tidak digunakan sebelum pelajaran termo dimulai, sehingga mereka dapat menggunakan berkumpul dan bersama diruangan ini. Tepat jam 8.50. Bu In terlihat melewati lorong kampus. “Eh, BuIn sudah dating”, teriak Hisyam yang biasa duduk di pojok belakang dekat jendela. Mereka pun mengatur duduknya untuk siap menerima pelajaran pagi hari ini. “Apa kabar kalian, sapa Bu In”. “Baik bu” jawab kelas dengan serempak. “Makin semangat aja ikut kuliah ibu ya keliatannya”. “Membuat ibu makin semangat juga”.“Oke”, sambil membuka laptop berwarna merah kesayangannya Bu In menghidupkan layar monitor. Bu In pun berdiri didepan kelas. “Oke, kita akan lanjutkan pelajaran kita hari ini”. Bu In sedikit mereview kuliah kemarin. “Kemarin kita sempat mebahas tentang reaksi eksoterm, endoterm, fungsi entalpi, dan kespontanan reaksi”. “Hukum pertama termodinamika dengan fungsi entalpinya belum dapat menjelaskan spontanitas reaksi kimia”. “Hari ini kita akan membahas spontanitas reaksi yang akan diekpresikan oleh hukum kedua termodinamika”. “Dalam hukum kedua untuk menentukan spontanitas reaksi
  39. 39. dikenal yang namanya entropy”. “Secara matematik entropi akan meningkat pada proses eksoterm dan tidak akan berubah pada keadaan setimbang”. “Entropi keseluruhan dapat dilihat dari entropi sistem dan lingkungan”.“Entropi diartikan sebagai ukuran sebaran energi pada suatu system”. Dengan panjang lebar BuIn menjelaskan hingga tidak terasa jam kuliah pun berakhir. Kelaspun segera bubar. “Eh bentar lagi ujian” kata Ferisa, “aku mau ikut Rega ke perpus”. “Kalian gak ikut?”. “Ah kita biasanya kan cukup fotokopi aja”, kata Yusril. “Eh enaknya aja kalian ya”. Hisyam dan Iis pun lalu berkata “oke aku ikut”. Rega pun melirik dengan pandangan curiga. “Kalian gak niat pacaran di perpus kan?”, tanya Rega. “Udah ayo kalo mau keperpus”, ajak Ferisa. “Kamu Nung, kamu Hud gimana gak ikut?”. “Aku dan Nanung belum sarapan Fer, duluan aja dah nanti kita nyusul”, jawab Huda. “Aku pulang aja deh”, teriak Yusril, “ditelpon papa ini”. Mereka pun akhirnya berpisah. Tinggal lah Huda dan Nanung di ruang kuliah. Tiba-tiba Huda berdiri, “ayo Nung pulang”. “Katanya makan dulu terus nyusul ke perpus”. “Mendung ini, jemuranku belum aku ambil”. “Oke ayo!”. Tiba dikostan hujan langsung turun dengan derasnya. “Kan bener langsung hujan”, ucap Huda. “Daripada bosan kejebak hujan di perpus”. “Uh tapi kita gak belajar”, gerutu Nanung. “Udah makan dulu kalo reda kita balik ke perpus”. Huda membuka bungkusan nasi yang dibeli saat perjalanan pulang kekostan tadi. Nanung pun segera menemani Huda untuk menyantap nasi bungkusan yang mereka beli. Selesai makan mereka tampak melamun melihat hujan. “Hud sampek sore nih hujannya”. “Gak jadi ke perpus kita?”. “Aku sudah SMS Rega kok kalo kita gak jadi nyusul ke perpus karena kita kejebak ujan”. “Kamu bilang kalo kita udah dikostan?”. “Enggak lah, aku bilang masih di kampus, biar kelihatan rajin”. “Nanti mereka jemput kita ke kampus gimana?”, tanya Nanung. “Gak mungkin, Rega bilang akan langsung pulang kekostan kalau ujan udah reda”. “Eh, daripada ngelamun, kamu kemarin tanya spontanitas reaksi Nung?”. “Dari materi kuliah hukum kedua termodinamika tadi udah ketemu gak jawabannya”. “Ah, aku gak paham kuliah tadi maksudnya gimana”. “Lalu apa
  40. 40. yang kamu pikirkan?”. “Entahlah, pelajaran tadi bahas entropi yang menghubungkan pengaruh sistem terhadap lingkungan”. “Ah bener atau tidak yang aku pahami, entropi itu ukuran tersebarnya energi suatu sistem”. “Kemudian apakah sistem melepas energi itu atau menyerap energi ke lingkungan”. “Jika tidak terjadi perubahan energi berarti sistem setimbang”. “Apa hubungannya dengan pemikiran cintamu Nung?”. “Kenapa kamu jadi tertarik gitu Hud, aku udah bosan membahasnya”. “Ayo aku ingin tau rumus ngawurmu”, Huda mulai tak sabar mendengarkan Nanung. Nanung pun mulai tertarik untuk sedikit membahasnya. “Ehm, gimana ya Hud, tadi kayaknya dijelasin kalo tiap reaksi akan terjadi sebaran energi sehingga jumlah perubahan entropi keseluruhan adalah jumlah perubahan entropi sistem dan perubahan entropi lingkungan”. “Untuk menghitung perubahan entalpi lingkungan dirumuskan negatif entalpi dibagi temperature”. “Kalau dihubungkan dengan cinta berarti tidak hanya entropi sistem hatiku aja Hud yang harus diukur, tapi aku harus tau perubahan entropi lingkunganku”. “Gimana maksudnya Nung?”, tanya Huda. “Kayaknya harus ada perubahan energi juga di lingkungan sekitarku”. “Kalo kamu sebagai lingkunganku seharusnya kamu juga merasakan perubahan energinya Hud, kayaknya sih gitu kalo teorinya dipaksakan”. “Berarti kamu harus dengar pendapatku Nung, tanpa aku sadari reaksi hatimu berpengaruh positif loh ke aku dan aku menyimpulkan besar entropi di lingkungan cukup besar dan positif sehingga perubahan jumlah entropi keseluruhannya positif juga yang menandakan reaksi hatimu spontan Nung”. Paksa Huda menyampaikan pendapatnya.“Ah lupakan Hud, kayaknya ku harus belajar peka terhadap hatiku”. “Kan katanya cinta tanpa logika kenapa harus susah aku pecahkan dengan logikaku”. Hahaha… “Nyerah nie”. “Makanya Nung otak dan hatimu harus dalam keadaan setimbang”. “Jangan berat sebelah”. “Nah itu dia kayaknya jawabannya Hud”, ucap Nanung malas dan segera pergi kekamar tidur. “Ah anak yang aneh”, sahut Huda. Begitupun hari ini berlalu begitu saja.
  41. 41. Bagian6 Hukum Ketiga Termodinamika Hukum ketiga tentang energi bebas Gibbs dijelaskan Bu In dengan seksama pada hari ini kelas Nampak lengah. “Ini pertemuan terakhir yang akan membahas hukum ketiga yang merupakan hukum terakhir termodinamika”. “Kalian sudah belajar hukum pertama dan kedua”. “Sekarang kita mulai materi hukum ketiga, hukum ketiga ini menjelaskan spontanitas reaksi lebih tepat daripada hukum sebelumnya, fungsi dalam hukum ketiga ini adalah energi bebas Gibbs”. “Hukum sebelumnya kita lebih berkonsentrasi belajar tentang apa yang terjadi dalam suatu sistem partikuler”. “Nah fungsi ini kita akan belajar untuk memahami apa yang terjadi pada sistem itu sendiri”. “Nah energi Gibbs ini diartikan sebagai energi yang tersedia untuk melakukan kerja”. Bu In menjelaskan dengan panjang lebar dan diakhiri dengan ucapan selamat belajar untuk menghadapi ujian. Selesai kuliah Huda pun menghampiri Nanung. “Gimana makin galau teori termodinamika cintamu Nung?”. “Ya, makin gelap”. Hahaha…” Ya Nung reaksi hati kan gak seperti reaksi di tabung reaksi”. “Kamu sih kurang kerjaan menghubungkan cinta sama ilmu termodinamika”. “Udahlah ayo pulang aku harus mencari cinta dengan cara berbeda nampaknya”, sahut Nanung lesu. Perkulihan pun berlalu begitu cepat jadwal ujian sudah tertempel dan minggu tenang bukan menjadi waktu belajar, tapi bagi mahasiswa adalah waktunya pulang dan bersenang-senang. Rega pun memiliki ide untuk menghabiskan minggu tenang melakukan camping untuk sedikit menenangkan hati dan pikiran. Merefresh otak yang penat menjalani masa kuliah. Dan menyiapkan mental untuk menghadapi ujian. Ya begitulah Rega yang suka dengan alam dan suka kegiatan petualangan. Saat mereka berkumpul Rega menyampaikan idenya. “Hei kalian jangan pulang ya”. “Aku sudah nyiapin perlengkapan buat acara camping kita”. “Kalian
  42. 42. siapin fisik kalian, makanan dan uang bensin untuk kegiatan ini”. Nanung Nampak enggan dan malas, memang kadang terasa melelahkan membuang energi lebih baik tidur menurutnya. Tapi semngat teman-teman lain mempengaruinya membuatnya terpaksa mengatakan kata setuju. Perjalanan pun telah dilaksanakan pada hari itu melewati perkebunan karet menuju sisi ujung pulau jawa, diindah nya pantai selatan. Ya kita akan pergi ke pantai. Jalan terjal tak menghalangi laju sepeda motor kami melindas kerikil jalanan. Tibalah kami di sebuah tempat yang seakan jauh dari peradaban. Mereka mempersiapkan tenda dan mencari kayu bakar untuk membakar makanan yang mereka siapkan. Tak terasa senja pun datang. Api unggun dinyalakan. Tampak Yusril, Iis, dan Huda mengeluarkan bekal untuk disantap. Mereka sibuk sendiri, sendiri. Nanung duduk di api unggun, ya emang tugas Nanung mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun. Nanung duduk dengan buku dan pena ditangan. Tampak beberapa kalimat yang penuh coretan dalam buku itu. “Nulis apa Nung?”, tanya Rega. “Cuma ingin cerita perjalanan hari ini dan menulis alam”. “Udah jadi?”. “Gak bisa tergambarkan terlalu penat pikiranku”. “Udah nung gak usah dipaksakan, menulis alam itu keahlianku, kamu gak usah ikut- ikut”. “Lah terus aku nulis apa Reg?”. “Ya terserah kamu Nung”. “Ah emang aku gak bakat nulis”, ucap Nanung dalam hati. Di buku itu tergambar segitiga dan huruf G besar. Ferisa menghampiri Nanung. “Hei nulis apa kamu Nung?”. “Gak ada!”,jawabNanung lesu. “Eh ini kan symbol energi gibbs ya?”. “Ya Fer, energi yang tersedia untuk melakukan kerja”. “Kok lemes gitu kamu Nung?, kamu pernah bilang kalo keceriaanku membuat energimu terasa tak pernah habis”. “Nih aku senyum” goda Ferisa menunjukkan senyum manisnya. Hehe… “Hei sedang ngomongin apa?”, lagi-lagi Huda ngagetin. “Eh aku dengar omongan kalian barusan loh”, kata Huda. “Apa sih Huda ini, kita cuma bercanda kok”, kata Ferisa. “Bercanda atau serius keliatan sama aja kok”, kata Huda. “Udah Nung, ucapan Ferisa tadi kode Nung, kamu kok gak juga paham sih”. “Kode apaan tanya Nanung?”. Ferisa itu adalah jawaban dari semua pertanyaanmu Nung”. Ferisa lalu melempar Huda dengan pasir pantai, Huda pun lari meninggalkan mereka berdua. Ferisa melanjutkan pembicaraanya yang sempat diganggu Huda. “Ayo semangat
  43. 43. Nung aku gak suka loh liat kamu lesu”. “Biasanya selalu atraktif bahkan hiperaktif”. “Lagi banyak pikiran Fer”. “Udah lah kita disini untuk melepaskan semua penat kita”. Nanung menatap Ferisa dan memaksakan senyumnya. “Ih mukamu nyebelin Nung”, teriak Ferisa. Minggu tenang itu mereka habiskan untuk berlibur, namun tetap tidak lupa untuk belajar mempersiapkan ujian. Ujian pun satu demi satu tlah terlewati. Udah waktunya pengumuman nilai hasil ujian diberikan. Tampak didinding tembok kampus ramai dikerumuni mahasiswa.“Wah nilai termo keluar!”, teriak Rega. Mereka bertujuh menghampiri dan melihat hasilnya. Rega, Ferisa, Iis, dan Hisyam mendapat nilai A. Huda dan Yusril mendapat nilai B. sementara Nanung tertunduk lesu melihat nilainya yang ternyata lebih buruk dari teman-temannya. “Huh dapat C”, jerit Nanung dalam hati. Mereka berusaha menghibur Nanung. Tapi Hisyam sedikit mengejek. „Kamu sih Nung hubungin ilmu termo dengan cinta dapat jelek jadinya”. Huda pun tambah mengejeknya, “Nung kamu gak gambar wajah Ferisa di lembar jawabanmu kan?”. “Ih kok bisa Hud?, tanya Ferisa”. “Diam-diam dia sering gambar seorang wanita Fer”. “Wanita yang mirip wajahmu, aku yakin itu kamu”. “Udah deh jangan digodain terus, dia kan lagi sedih ayo dihibur” ucap Yusril. “Udah Nung mata kuliah lainnya kamu kan dapat bagus, absenmu kan dibawahku” hibur Ferisa. “Tadi aku sempet liat, bahkan ada yang lebih bagus dari punyaku Nung” ucap Ferisa menghibur. “Aku ada yang dapat nilai D loh tetep gak masalah, biasa aja Nung”, celetuk Yusril. “Jangan ditiru Nung si Yusril” ucap Rega. “Dia sih seneng-seneng aja dapat nilai D, baginya nilai D tu kan Duiiitttt”…. Mereka semua pun tertawa. Begitulah akhir kuliah termodinamika. Nanung mendapat hasil yang membuatnya kecewa. Apakah akan datang bahagia yang akan segera menyambutnya. Yang pasti persahabatan mereka tetap terjaga dan semester demi semester pun mereka lalui bersama.
  44. 44. Bagian7. Ku Menanti Jawaban Disaat Kelulusan Beberapa semester pun berlalu begitu saja. Persahabatan tetap terjaga walau tak seindah dan seerat saat kuliah termodinamika bersama-sama. Kesibukan skripsi dengan judul berbeda membuat mereka jarang bertemu. Jadwal dosen yang berbeda juga membuat mereka ke kampus dengan jadwal masing masing untuk melakukan bimbingan. Nampaknya kesibukan skripsi menenggelamkan kenangan indah saat kebersamaan mereka. Mereka kadang bertemu tapi pembicaraan jauh lebih serius dari masa sebelumnya. Nanung yang biasanya jahil dan selalu meramaikan suasana. Selalu bercerita tentang mimpi-mimpinya dan rencana menggapai cita-citanya. Namun, ada satu yang kurang, mereka tak pernah membicarakan pasangan hidup tambatan hati ketika siap nanti. Begitupun Hisyam yang biasanya sering kencan larut dalam kesibukannya, semuanya Nampak sibuk dengan diri mereka masing-masing. Ferisa terlihat murung kehilangan keceriaannya, tetapi tidak ada satupun diantara teman-teman mereka yang menyadarinya. Ketika berkumpul Ferisa memandang Nanung dengan tatapan kosong. Nanung seakan berubah, menjadi lebih serius. Dalam hati, Ferisa selalu bertanya. “Ingatkah Nanung akan kejadian waktu lalu saat dia mengatakan suka padaku dan akupun mengatakan suka padanya?”. “Apakah Nanung lupa bahwa dia berjanji akan menemukan cinta dan mencintainya dan aku siap menunggu jawabannya”. Hati Ferisa menjerit ketika memikirkannya. Ferisa merasa sendiri sepi. Banyak lelaki yang mendekatinya namun semuanya tampak biasa. Tak terlihat ketulusan dan perhatian mereka terasa hambar dan hanya terlihat bagai sebuah modus. Berbeda dengan Nanung yang menyebalkan namun selalu melekat di hati. Kadang sering bikin sakit hati namun
  45. 45. datang menghiasi dalam mimpi. Kadang cuek dan dingin sikapnya membuat Ferisa gemes menggodanya. Perhatian Nanung yang spontanitas dan sifatnya yang dinamis membuat hidup Ferisa terasa penuh makna. Cukup banyak perhatian yang ditunjukkan Nanung. Tapi apakah Nanung menyadarinya bahwa semua yang dilakukannya membekas dalam relung hati Ferisa. Terngiang jelas dalam benak Ferisa ketika mereka belajar bersama Nanung melukis wajahnya, ya walaupun dilukisan tersebut ada tulisan Ferisa jelek tapi ferisa tetap menyukainya. Teringat ketika tiba-tiba tertulis sebait puisi untuk Ferisa ketika belajar bersama. Teringat ketika Nanung menulis dengan pena yang terukir nama Ferisa. Walaupun tak pernah memberi sekuntum bunga, saat berkumpul bersama Nanung melukis bunga pada gelas milik Ferisa. Semua tergambar jelas dan menjadi cukup bermakna. Kelulusan ada didepan mata Nanung belum menemukan jawaban dan belum menyampaikan isyarat yang diberikan Ferisa. Dalam diarynya Ferisa pun menuliskan keluh kesahnya. Pergelutan Ferisa makin menjadi, disatu sisi dia ingin menanyakannya tetapi tidak ingin mengganggu konsentrasi dan keseriusan Nanung mengejar cita-citanya. Perasaan itupun tertuang dalam sebuah diary yang Ferisa tulis dengan meneteskan air mata. “Perpisahan ada di depan mata’ “Dan kau belum Tampak nyata DihaDapan maTa” “Aku selalu setia menanti jawabannya” “Apakah kau belum menemukannya?” “Apakah penantianku seakan sia-sia?” “Tapi kesempatanmu selalu ada dalam hatiku yang selalu terbuka” “Mungkin bukan saat ini, tetapi nanti disaat tak terduga” “Apakah akan menjadi sekedar cerita?” “Tidak, aku ingin takdir mendengarnya untuk menyatukan kita”
  46. 46. “Nanung, tahukah kamu aku selalu merenungkanmu??” “Jahat jika kau tidak melihat, dosa jika kau tak merasa!”. Mereka wisuda bersama dan bergembira bersama, seakan lupa akan kisah mereka. Di suatu sudut Ferisa sendiri memikirkan segalanya dan Nanungpun menghampirinya. “Apa kamu sudah menemukan jawabannya Nung?”. “Jawaban apa Fer?”. “Ah lupakan jika kamu tak mengingatnya Nung, mau kemana kamu setelah ini Nung?”. “Aku mau kerja, kemarin sudah diterima lamaran kerjaku?”. “Gak mau melamar yang lain?”. “Maksudnya apa Fer?”. “Ah kalo melamar wanita belum kayaknya, saya masih bingung, cinta belum tampak nyata bagi saya”. “Ow begitu ya Nung”. “Bagaimana rencanamu setelah kelulusan ini Fer?”. “Aku mau ngajar nerusin ibukku”. “Oh gitu ya, moga sukses Fer”. “Nanti kita akan bertemu dan bersama lagi”. “Aku ke anak-anak dulu ya”. “Ehm bersama kayak apa Nung?”. “Kamu gantung terus perasaan ini”, jerit Ferisa dalam hati. “Kurang sabar apa saya?”. “Ya, moga kamu sukses Nung, doaku selalu menyertaimu”. Rega segera tanggap melihat Ferisa, segera dia memeluknya dan segera menghiburnya. “Ini bukan akhir Fer”. “Dia mungkin belum menemukan jatidirinya atau sedang mengejar kesuksesannya”. “Kita akan selalu disisimu selalu menemanimu”. “Mungkin kamu berharap lebih, tapi cinta itu banyak bentuknya seperti persahabatan kita,.teguhkan hatimu siapkan dirimu untuk sebuah jawaban menyenangkan atau mengecewakan sekalipun”. “Jalan kita masih panjang dan mungkin akan terasa terjal dan tajam yang akan membentuk kita makin hebat dan kuat”. “Makasih Reg”, jawab Ferisa. “Ayo kumpul sama mereka”. “Ayo jawab Ferisa”. “Eh berapa nilai IPK ijazah kalian”, tanya Hisyam. “Kayaknya punyaku tertukar atau salah cetak”. “Kok jadi jelek gini ya?”. “Padahal aku kan bagus terus ujiannya”. “Ah, protes kok sekarang” teriak Yusril. “Kamu kencan terus kerjaannya”. Iis hanya tersenyum. “Ya terima aja lah Syam”, ucap Huda berlagak bijaksana. “Gak begitu penting ijazah tergantung bagaimana kita nanti,
  47. 47. keberuntungan kita dan takdir Tuhan”. “Lihat punya mu Nung, kok kayaknya lebih bagus”, tanya Hisyam penasaran. “Wah kayaknya ketukar ama punya Nanung nih nilai punyaku, dia termo kan dapat C”. “Eh, kuliah lain Nanung dapat nilai bagus”. “Dia kan puitis kalo soal aplikatif jawabannya selalu romantisbikin dosen klepek-klepek”, bela Ferisa.“Ih kamu kok belain Nanung sih Fer, jangan jangan kamu korban kepuitisannya”. “Ah basi di puitisin Nanung”, jawab Ferisa sambil memalingkan muka. Akhirnya perpisahan hari itu menjadi nyata. Rasanya tak kuasa meninggalkan sahabat yang telah lama bersama. Walau cucuran air mata tak terungkap di ruangan itu. Namun rasanya dada seakan ingin meledak mengungkap kata tidak rela. Begitupun hati Ferisa yang campur aduk melihat teman-temannya khususnya Nanung yang telah membekas dihatinya. Lubuk hatinya bicara. “Matahariku mungkin malu untuk bersinar hari ini dikala mendungku sedang menutup kalbuku, ataukah matahariku telah benar-benar tenggelam?”. Tapi aku masih mengharap sebuah harapan, matahariku akan membangunkan pagiku dengan ceria bersinar menyapaku, membangunkanku dari lelapnya mimpiku menyambut cerita nyata yang bahagia”. Ferisa mencoba menghibur diri dan menguatkan hati. Dibalik kesedihan atas perpisahan mereka tergambar keseriusan diwajah mereka. Tergambar beribu rencana dikepala mereka menyongsong lembaran cita- cita. Badan mulai tegap kepala ditegakkan, dengan yakin mereka melangkahkan kaki berharap esok yang dinanti akan lebih bersinar daripada hari ini.
  48. 48. Bagian 8. Jawaban dari Penantian Dua tahun berlalu sejak kelulusan. Dan mereka tak pernah bertemu namun masih tetap berhubungan via telpon dan lainnya. Akhirnya undangan dari Yusril yang kini menjabat jadi derektur salah satu perusahaan ayahnya menjadi momen yang penting untuk menyatukan mereka. Malam itu digedung yang megah tempat acara pernikahan Yusril yang berlangsung cukup meriah. Dengan gaya modern resepsi Yusril digelar. Jas hitam yang dikenakan Yusril, tampak pas dikenakan dia sebagai pengusaha muda, istrinya yang merupakan anak rekan bisnis papanya cukup cantik dengan gaun putih. Konsep acara yang mengusung tema resmi nan santai membuat acara lebih semarak. Mempelai bebas berjalan berkeliling menemui tamunya. Ucapan selamat dan obrolan-obrolan hangat tercipta seakan menghangatkan suasana. Alunan lagu jazz dengan saxsofonnya yang indah mengalun mendendangkan harmoni nada yang sempurna. Ferisa dengan memakai gaun merah yang terlihat mewah dengan pesonanya. Ferisa datang tepat waktu dan segera mengucap selamat pada Yusril dan istrinya. “Eh Ferisa teman kita yang lain belum keliatan kayaknya, sibuk apa sekarang kamu?”. “Ya ngajar Yus, aku suka anak kecil trus ada bisnis kecil- kecilan”. “Ya kebutuhan cewek gitu lah, lumayan banyak peminatnya, rencana sih mau bikin butik”. “Weh kebetulan istriku juga sering ngikuti mode fashion, boleh juga kalo kita jadi rekan bisnis”. “Iya kan saying?”, tanya Yusril ke istrinya. Istrinya tersenyum tanda setuju. “Eh Fer kayaknya Hisyam dan Iis datang tuh”. “Ayo Is cepet”, teriak Hisyam. “Ih aku kan pake rok kalo lari bisa keserimpet”. “Udah sini aku gendong aja”. “Uh malu tau banyak orang kok digendong”. “Haduh kalian lama pacaran tetep aja sering tengkar”. Hehehe… senyum Hisyam, sambil mengucap salam pada Yusril. “Aku keliling dulu ya ucap Yusril”, kalian tunggu temen kita yang lain, nanti aku kesini lagi”. “Nikmati makanannya jangan
  49. 49. sungkan-sungkan dengan tamu lainnya”. “Tuh kantong celana Hisyam kembung pasti bawa kresek buat bungkus makanan”. “Malu-maluin aja”. “Kalo bungkus tinggal kedapur Syam”, ejek Yusril. “Gimana kabarnya Fer?”. “Baik Syam, kamu gimana sama Iis?”. “Ya begini-begini aja”. “Tetep sering tengkar”. “Sibuk apa kalian?”. “Aku punya sampingan bisnis otomotif, ada beberapa bengkel yang lumayan lah”. “Capek jadi pegawai, kalo usaha sendiri kan banyak waktu luang”. “Iis gimana?”. “Ah dia bosenan, sekarang sih bisnis kosmetik, aku saranin jadi penyedia alat dan bahan kimia”. “Alumni kuliah kita dulu kan banyak yang kerja di lab tuh, bisa jadi prospek yang bagus”. “Eh Huda tuh sama Rega”. “Hai kawan lama tak jumpa kita ya”. Hehehe…. “Gimana kabarnya pak bos agensi perjalanan, gak ada tiket umroh gratis buat bokap nyokapku Hud?”, tanya Hisyam ke Huda. “Bisa diatur, mau aku diskon berapa?”. “Gratis lah hud”, goda Ferisa. “Tanggung umroh, sekalian haji lah, aku diskon nanti dan aku siapkan jadwal biar sekalian ortu kita bisa bareng”. “Masak cuma kita yang temenan?”.” Kan seneng juga kalo orang tua kita bisa saling kenal”.“Ide bagus itu Hud”, sahut Iis. “Eh kalian gak mau nyapa aku?”, celetuk Rega. “Eh beneran kamu Rega, kok makin item gitu?”. “Aku habis ke gurun sahara, biasa traveler”. “Kayaknya perjalanan yang serutuh”,jawab mereka kagum. Ferisa Nampak kebingungan. “Nyari sapa Fer?‟, tanya Rega. “Ah pasti Nanung ya?”, tanya Huda. “Eh, enggak kok”, jawab Ferisa bohong. “Eh iya, biasanya Nanung gak pernah telat kok belum datang ya?”. “Cie kok perhatian dan khawatir gitu Fer?, masih menyimpan rasa ternyata?”. “Eh kalian emang gak khawatir?”. “Enggak”, jawab mereka serempak. “Temen nyebelin kayak Nanung udah jangan dipikirin, orang banyak dosa pasti panjang umur dia Fer, gak mungkin kenapa-kenapa”. Dengan jeans putih garis-garis dan jas senada ditambah sepatu coklat mengkilat datanglah seorang pria. Topi koboinya membuatnya makin beda diantara tamu lainnya. Sambil melirik tamu wanita, pria itu berjalan dengan sejuta pesona. “Tuh kan Nanung,tetap dan selalu nyebelin dia, lama gak jumpa tetep nyentrik dan gak biasa penampilannya”. “Ah kayak pengembala sapi aja kau
  50. 50. Nung”, celetuk Hisyam. “Weh tau aja bisnisku, prospeknya menguntungkan Syam”. “Impor ternak kan mulai dibatasi jadi produk dalam negeri jadi pilihan sekarang”. “Ayo tukar kuda jingkrakmu (mobil ferrari) dengan sapi ku Syam dengar-dengar punya bisnis dan koleksi otomotif kamu?”. “Ogah ah, kan enak naek Ferrari bisa ngebut”.“Kamu harus coba nung ngebut pakai Ferrari nung, sekalian mobil mewah kan bisa jadi investasi loh”, jawab Hisyam.“Eh Nung tetep suka nulis?. tanya Rega. “Ya lumayan Reg, tetep ada ide buat nulis, sekarang lagi cari ide untuk nulis tentang bisnis dan keluarga”. “Ya tapi aku kan belum berkeluarga jadi pending dulu”. “Kalo bisnis nanti aku bisa nulis kalian”. “Weh oke tuh”. Huda pun menyela,“katanya bisnis souvenir Nung?”. “Oh iya diurus adikku, kalo soal desain souvenir adikku ahlinya jadi aku pasrahin ke dia”. “Boleh pesen gak buat travelku?”. “Tinggal calling aja”, jawab nanung. Ferisa tampak gelisah karena lagi-lagi dicuekin dan tak segera Nanung menyapanya. Nanung pun sadar, “hai ferisa makin cantik aja”. “Makasih Nanung”, sapaan dari Nanungmembuat pipinya makin merah senada dengan gaun merahnya.Iis pun mencela,“Ferisa Nungguin kamu dari tadi tuh Nung gak peka banget sih jadi cowok?”.“Selama ini gak ada kabar, kontak gak bisa dihubungi”. “Tau gak ferisa selalu curhat tentang kamu?”. “Haduh maaf fer, bisa kita bicara berdua?”. “Hei gimana Ferrainya, kamu pasti jatuh hati deh kalau sudah lihat keeksotisannya” paksa Hisyam ke Nanung. “ Semewah dan semahal apapun mobil Ferrari tetap Ferisa yang selalu dihatiku Syam” jawab Nanung sambil menggandeng tangan Ferrisa. “Diatas ada tempat ngobrol tuh enak kayaknya kalo liat pemandangan bawah dari sana” ajak Nanung kepada Ferisa. “Ide bagus tuh sana Nung kalo mau keatas, kamu mau makan apa aku bawain”,ucap Rega. “Makanan ringan aja deh sama minum”. “Oke aku juga mau ngambil makan”,ucap Huda,Iis, dan Hisyam. Diatas gedung nan megah suasana tampak lebih redup, terlihat kontras pemandangan dibawah yang ramai dan terang. Ruang atas memang dikususkan bagi tamu yang ingin perbincangan lebih privat. Karena undangan Yusril dari kalangan pengusaha mereka tetap mencuri waktu acara ini untuk berbincang bisnis mereka. Terutama bagi orang yang sulit ditemui. Acara ini menjadi ajang perkumpulan pengusaha-pengusaha kaya.
  51. 51. Disudut disamping beton megah sebelah pembatas lantai dua aku menatapmu wahai Ferisa. “Fer ada sesuatu buat kamu”. Ferisa tampak tersipu memandah wajah Nanung. Dibuka kancing jas putih yang Nanung kenakan terdapat kantung dibalik jas dengan sebuah buku dengan gambar wajah Ferisa yang terlukis kasar tapi tetap menggambarkan kenggunannya. Buku bercover kuning bergambar tabung reaksi dengan gambar hati didalamnya. Terlihat gambar termometer yang meledak seakan tak kuasa mengukur kalor panas yang dihasilkan. “Ini Fer, kuserahkan buku hasil tulisan ku untukmu atas pencarian jati diriku”. “Jawaban atas keraguanku atas cintaku padamu”. “Mungkin isinya biasa saja dan mungkin kamu tak mengerti ketika membacanya”. “Tapi inilah rasa yang coba aku ungkapkan dengan bahasa, dengan kata yang mungkin tak tertata cukup sempurna”. “Buku ini berjudul “termodinamika Cinta”. Ferisa menerimanya dengan senyum manisnya memeluk buku itu didadanya. Nanung menatap mata Ferisa dengan serius. Binar mata Ferisa diterpa cahaya seakan air mata tak mampu lagi dibendungnya, tetapi airmata itu enggan menetes dipipinya yang merona. “Fer, ijinkan aku sedikit menyimpulkannya”. “Aku sudah berdosa membiarkanmu cukup lama untuk sekedar mengerti dan mencari arti cinta”. “Ketika aku melihatmu entah ada energi darimana yang spontan membuatku bergelora”. “Apakah perhatianku cukup spontan untukmu?”. “Entahlah aku tak sadar apa yang pernah aku buktikan kepadamu”. “Tapi buku ini adalah bukti spontanitas hatiku”. “Ketika hatiku merindukanmu menghawatikanmu, jiwaku serasa sesak seakan meledak”. “Tiba-tiba terbayang wajahmu dan secara spontan jariku menulis buku ini, penaku tak kunjung usai menari dalam kertas ini untuk sekedar melampiaskan dan mengubah energi jiwaku menjadi sebuah tulisan”.“Ingatkah kamu ketika kita dekat saat kuliah termodinamika dulu”. “Aku percaya ilmu termodinamika mampu menjawab pertanyaanku tentang cinta”. “Entah orang lain akan menghina karena memang tidak sesuai dengan teorinya, tetapi telah aku buktikan dengan pemahamanku”. “Hukum pertama menyatakan kekalan energy”. “Energi tak dapat diciptakan, karena manusia tak akan mampu menciptakan kesempurnaan ciptaan Tuhan, begitupun cinta yang mengalir begitu saja”. “Bagai energi tidak dapat
  52. 52. dimusnahkan, ya, aku berharap cinta kita kekal selamanya”. “Energi hanya dapat dirubah bentuknya, ya saya ingin cinta kita akan berubah menjadi lebih dan makin cinta”. “Bagai sebuah sistem sudah lelah aku terisolasi jauh darimu menemukan jati diriku dan aku rasa kamu pun begitu”. ”Ah terserah lah fungsi entropi, entalpi dan energi bebas Gibbs, fungsi hatiku telah kembali untuk merasakan spontanitas cinta ini”.„Sudah waktunya kita membuat ikatan hati ini dalam sebuah janji untuk menemukan arti siapa kita dan melengkapi hidup menjadi lebih sempurna”. “Maukah kamu hidup denganku Fer?”. Ferisa tak kuasa melinagkan air mata, lalu berbisik ditelinga Nanung. “Kamu jahat terlalu lama meninggalkanku, kamu sekarang pinter gombal, tapi aku suka, aku cinta kamu Nung”.Tepuk tengan tiba-tiba terdengar membuyarkan heningnya suasana. Ternyata Yusril, Huda, Rega, Hisyam dan Iis sudah ada mengelilingi mereka. Rega dan Iis tak kuasa pula meneteskan haru kebahagiaan Nanung dan Ferisa. “Sudah siap nyusul aku nih ceritanya?”, ucap Yusril. Nanung pun menatap Ferisa, “kapan nikah Fer?”. “Ehm kalo aku jawab terserah nanti kamu marah Nung”. “Sekarang pun aku siap”, sambil menyeka air mata dengan tisu dari tas yang dia bawa. Tiba-tiba Hisyam merebut buku dari Ferisa. “Ah apa ini termodinamika cinta?”.“Kamu kan dapat C termodinamika kuliah dulu Nung?”. “Sok tau aja buat buku ini”, dengan gelak tawa ngejek. Dengan kesal Ferisa merebutnya. Nanung menjawab, “aku bersyukur dapat C Syam”. “Itu bukan sekedar C dalam arti cukup tetapi aku menemukan Cinta”. Merekapun tertawa. Iis menyela, “ah kamu Syam cuma gombal terus Nanung diem-diem romantis bisa buat buku cinta”. “Kalo Nanung macem-macem tinggal distabilo tuh bukunya terus suruh baca tulisannya sendiri”. “Kalo kamu gombal terus ku jahit nanti mulutmu”. Mereka melanjutkan tertawa. “Ayo turun” ajak Yusril,“berita bahagia kok cuma kita yang lihat?”. “Semua orang harus tau biar suasana ini jadi makin ramai”. “Biar ada temennya aku, kalian rasakan sendiri tegangnya jadi tuan rumah nikahan”. Merekapun turun. “Nung masak ngelamar cuma pake buku”, bisik Yusril mendekati Nanung. “Aku lupa bawa cicinnya Yus”. “Eh kamu tuh gimana?, nih, kebetulan ada cincin

×