Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.

Pelajaran Sekolah Sabat ke-1 Triwulan I 2021

Pelajaran Sekolah Sabat ke-1 Triwulan I 2021

  • Sé el primero en comentar

Pelajaran Sekolah Sabat ke-1 Triwulan I 2021

  1. 1. Pelajaran 1 Triwulan I 2021 Diadaptasi dari fustero.es www.gmahktanjungpinang.org “Marilah, baiklah kita beperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18).
  2. 2. Yesaya adalah anak dari Amos dan merupakan keturunan bangsawan. Dia dipanggil untuk menjadi seorang nabi saat ia masih muda pada akhir pemerintahan Raja Uzia (790-739 SM), selama pemerintahan Raja Yotam (sekitar 750-739 SM). Pelayanannya berlangsung setidaknya selama 60 tahun, dan mencakup pemerintahan Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia. Kitab Yesaya mulai menjelaskan krisis identitas umat TUHAN; panggilan untuk berubah; dan tawaran akan pengampunan dari TUHAN.  Suatu krisis identitas. Yesaya 1:1-9  Suatu bentuk kesalehan. Yesaya 1:10-17  Suatu tawaran pengampunan. Yesaya 1:18  Kesempatan untuk memilih. Yesaya 1:19-31  Suatu titik tidak dapat kembali. Yesaya 5:1-7
  3. 3. SUATU KRISIS IDENTITAS “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yesaya 1:3) 2 Raja-raja 15-20 dan 2 Tawarikh 26-32 membahas waktu jeda selama Yesaya melaksanakan pelayanannya. Pada akhir pemerintahan Uzia, TUHAN menyatakan sesuatu (ayat 2-4): (1) Israel telah melupakan siapa TUHAN mereka, dan (2) mereka telah kehilangan identitas mereka. Sebagai konsekuensi keterpisahan mereka dari TUHAN, mereka menderita kerugian yang serius (ayat 5-8). Namun demikian, masih ada orang-orang yang tetap setia (ayat 9).
  4. 4. Apa yang mereka lakukan? Apa yang terjadi dengan mereka? Apa yang TUHAN lakukan? Menjaga Sion tetap berdiri Memelihara yang sisa Meninggalkan TUHAN Menista Yang Kudus Kebejatan moral Kejahatan dan dosa Tidak tahu Tidak memahami TUHAN Memberontak melawan TUHAN Luka fisik Negeri yang hancur Kota yang terbakar Dirampok oleh musuh mereka SUATU KRISIS IDENTITAS “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yesaya 1:3)
  5. 5. SUATU BENTUK KESALEHAN “Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.” (Yesaya 1:13) Mereka mempersembahkan korban dan berdoa kepada TUHAN dengan tangan terangkat, tetapi mereka hanya menjaga penampilan. Tangan mereka berlumuran darah (ayat 16) karena mereka kejam dan tidak adil kepada yang lemah (ayat 17). Bagaimana mungkin sesuatu yang diperintahkan TUHAN menjadi suatu dosa (kejahatan)? Upacara mereka tidak memiliki pertobatan. TUHAN menganggap ritual mereka dosa karena dangkal. Umat TUHAN mengulangi kesalahan yang sama beberapa kali (Matius 23: 23-28). Kita harus waspada untuk mengulangi kesalahan yang sama pada diri kita sendiri.
  6. 6. SUATU TAWARAN PENGAMPUNAN “‘Marilah, baiklah kita beperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.’” (Yesaya 1:18) TUHAN ingin mengubah darah yang merah di tangan orang Israel menjadi putih dalam kesucian-Nya. Ia juga ingin mengampuni dosa kita dan memurnikan hati kita. Ia meminta kita untuk datang kepada-Nya dengan maksud untuk menyelesaikan masalah dengan-Nya (pertobatan). Hati kita berubah ketika kita benar-benar menerima pengampunan (Yeremia 31: 31-34). Begitu kita menyadari kebutuhan kita akan pengampunan, kita akan siap menerima semua yang telah TUHAN sediakan bagi kita.
  7. 7. SUATU KESEMPATAN UNTUK MEMILIH “Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.” (Yesaya 1:19) TUHAN memberikan solusi, tapi keputusan ada di tangan kita (Ulangan 30:19). Ayat 19 Ayat 20 Jika engkau melawan dan memberontak Engkau akan dimakan oleh pedang Jika engkau menurut dan mendengar Engkau akan makan yang enak TUHAN menawarkan suatu perjanjian dalam Yesaya 1 yang serupa dengan perjanjian lain yang telah Ia buat sebelumnya dan perjanjian yang biasa pada waktu itu: Apa yang TUHAN telah lakukan Ketentuan perjanjian Menyebut para saksi Berkat dan kutuk Betapapun berdosanya dan jauhnya kita dari TUHAN, Kasih karunia-Nya tidak terbatas. Ia selalu bersedia mengampuni kita.
  8. 8. SUATU TITIK TIDAK DAPAT KEMBALI “Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;” (Yesaya 5:5) “Apatah lagi yang harus diperbuat untuk kebun anggur-Ku itu, yang belum Kuperbuat kepadanya?” (ayat 4). Pengampunan TUHAN tidak terbatas, tapi kita mungkin menolaknya sampai tidak dapat kembali: dosa terhadap ROH KUDUS (Matius 12: 31-32; Ibrani 6: 4-6). Sangat sulit untuk sampai pada titik tidak mendengarkan panggilan ROH KUDUS. Kesabaran TUHAN tidak ada habisnya (2Petrus 3:9). Panggilannya tiada berkeputusan. TUHAN akan melakukan segala kemungkinan untuk memanggil kita menerima –Nya sebelum kita mencapai titik tersebut. Jiwa kita dapat “ditumbuhi semak-semak” (ayat 6) hanya jika kita dengan keras kepala memutuskan untuk tidak mendengarkan-Nya.
  9. 9. “Tanpa pertobatan dan pembaharuan yang sejati pengakuannya tidak akan diterima ALLAH. Harus ada perubahan yang pasti dalam kehidupan, segala sesuatu yang sifatnya menentang ALLAH haruslah dibuangkan. Inilah hasil yang murni dari penyesalan kita akan dosa itu.” E.G.W. (Steps to Christ, cp. 4, p. 39) “Haruslah segenap hati diserahkan kepada TUHAN ALLAH, kalau tidak perubahan tidak akan pernah terjadi dalam diri kita, suatu perubahan yang akan memulihkan kita untuk menjadi seperti Dia.” E.G.W. (Steps to Christ, cp. 5, p. 43)

×