Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.

Industri Pengolahan dan Pengawetan Bahan Nabati Hewani (Violet Bakery Probolinggo)

- Don't copy freely -
- Add the source -
- Sorry it is not perfect -

  • Inicia sesión para ver los comentarios

Industri Pengolahan dan Pengawetan Bahan Nabati Hewani (Violet Bakery Probolinggo)

  1. 1. Industri Pengolahan dan Pengawetan Bahan Nabati Hewani Kelompok 7 : El Medina Aulia Putri (X MIA G / 07) Iqbal Misbachul Ulum (X MIA G / 15) Muhsin Habib (X MIA G / 23) Zidane Afkarusyawwala P. (X MIA G / 31)
  2. 2. VIOLET BAKERY Perum Asabri F247 Probolinggo
  3. 3. Perkembangan Violet Bakery Pemilik dari Violet Bakery adalah sepasang suami istri yang berasal dari Malang, Jawa Timur, yaitu Pak Bayu dan Bu Endang. Awalnya, ketika masih tinggal di Malang, Bu Endang sudah memulai membuat roti sebagai pekerjaan sambilan. Lalu, mereka pindah ke Probolinggo dan Pak Bayu mendapat pekerjaan di daerah Pahlawan. Tetapi, Pak Bayu akhirnya berhenti bekerja dan ia membantu Bu Endang untuk memulai usaha roti di Probolinggo. Sebenarnya alasan mereka membuka usaha bakery karena latar belakang Bu Endang yang sudah ahli membuat roti dan masih jarangnya produk roti di Probolinggo. Sehingga mereka termotivasi untuk menghasilkan suatu produk roti yang memiliki ciri khas tersendiri dengan harga terjangkau. Tentunya dalam setiap usaha pasti ada suka dukanya. Pernah ketika awal membuat roti, adonannya gagal sehingga langsung dibuang. Kemudian, sewaktu menawarkan roti di sebuah warung, penjaga warung tersebut justru memuntahkan roti milik Pak Bayu langsung di depan matanya. Padahal Pak Bayu sedang minum kopi. Menurut pemilik warung tersebut, roti Pak Bayu keras. Selain itu, saat masa awal membuka usaha, Pak Bayu menitipkan rotinya di toko-toko. Tetapi, tidak laku. Sehingga mereka mengalami kerugian.
  4. 4. Akhirnya mereka membuka usahanya pada September 2011 dengan nama Violet Bakery di daerah Perum Asabri. Alasan mereka memilih nama Violet Bakery karena kesukaan mereka terhadap warna ungu. Violet Bakery membuat beragam jenis roti antara lain roti manis (rasa cokelat, cokelat meses, cokelat kacang, cokelat durian, pisang cokelat, durian, meses keju, keju, blueberry, strawberry, lemon, mangga, melon, susu, nanas, srikaya, sosis pedas, boy mini mocca, dan abon daging). Selain itu, juga ada roti tawar, roti dengan 3 varian rasa, roti kentang, roti keju, roti gulung, pia, kue tart, dan donat crispy. Tetapi roti yang paling diminati oleh masyarakat sekitar adalah roti Boy Mini Mocca. Omset yang diperoleh setiap bulannya kurang lebih 25% - 30% dari modal. Menurut Pak Bayu, omsetnya masih kecil karena mereka menjual roti dengan harga di bawah rata-rata. Keunikan Violet Bakery adalah rasanya yang bermacam-macam dan tentunya berbeda dengan roti lain, tanpa bahan pengawet, serta cara pengemasannya.
  5. 5. Bahan Nabati Hewani yang Diolah Secara umum, bahan nabati yang dibutuhkan antara lain: 1. Tepung terigu 2. Gula 3. Ragi sebagai pengembang 4. Pengempuk 5. Berbagai macam selai dan perisa untuk isi roti Sedangkan, bahan hewani hanya meliputi : 1. Telur 2. Susu
  6. 6. Proses Pengolahan dan Pengawetan 1. Menimbang bahan-bahan roti sesuai takaran 2. Mencampurkan bahan-bahan tersebut menggunakan penggiling khusus kurang lebih selama 25 menit 3. Lalu adonan ditimbang lagi, dibagi menjadi beberapa bagian apabila jenis roti yang dibuat lebih dari satu 4. Adonan dibentuk sesuai dengan jenis roti yang akan dibuat misalnya bentuk roti pisang atau cup 5. Adonan yang sudah dibentuk kemudian diletakkan di lemari pengembang kurang lebih 3 jam 6. Terakhir, adonan dioven selama 12-15 menit
  7. 7. Menurut Bu Endang, hal yang paling sulit dalam proses pengolahan adalah ketika tiba-tiba adonan roti gagal tanpa tahu sebabnya apa. Violet Bakery tidak menggunakan bahan pengawet pada roti buatan mereka. Sehingga ketahanannya pun berbeda-beda. Untuk roti dengan isi pisang hanya mampu bertahan selama 2 hari. Lalu roti manis selama 4-5 hari, dan roti tawar sekitar 5-6 hari. Pak Bayu mengatakan bahwa untuk menjaga agar roti tetap awet, hindarkan roti dari panas atau terpaan sinar matahari secara langsung karena roti dibungkus dengan plastik sehingga kondisi di dalamnya lembab. Selain itu, untuk mengurangi timbulnya jamur pada roti, Pak Bayu bersama Bu Endang hanya memproduksi roti sesuai dengan kebutuhan, tidak dalam jumlah yang besar. Kecuali jika ada pesanan, maka jumlah roti yang diproduksi lebih banyak.
  8. 8. Pengemasan Violet bakery mengemas produk mereka secara manual. Roti produk mereka dibungkus dengan plastik yang sudah dilabeli. Untuk roti manis, diberi tambahan cup di bawahnya. Menurut Pak Bayu dan Bu Endang, cara pengemasan ini kurang terlihat menarik dan terlalu sederhana. Tetapi, yang terpenting roti sudah terlindungi dari panas, jamur, dan kotoran/debu sehingga roti menjadi lebih tahan lama.
  9. 9. Pemasaran Dahulu, sebelum menetap di sana, mereka memasarkan produknya dengan menitipkan di toko-toko. Mereka juga sempat mempromosikan roti buatan mereka dengan selebaran di jalan. Tetapi, ada kendala yang harus dihadapi. Karena pada umumnya konsumen tidak langsung membeli. Mereka menginginkan adanya tester untuk mengetahui rasa rotinya. Sedangkan tidak mungkin jika saat menyebarkan selebaran usaha rotinya di jalan, Pak Bayu turut membawa tester. Saat ini, pemasaran roti Violet Bakery cukup dari mulut ke mulut dan mengandalkan pesanan karena mereka telah menetap di perum asabri. Violet bakery menjual roti dengan harga mulai dari Rp 2.500,00 hingga Rp 12.000,00. Untuk kue tart tergantung ukuran, mulai dari Rp 150.000,00 hingga Rp 300.000,00. Respon masyarakat sekitar positif. Mereka berpendapat bahwa dengan harga yang murah, roti Violet Bakery sudah memiliki rasa yang enak.
  10. 10. Kesimpulan Dari wawancara yang telah kami lakukan mengenai industri pengolahan dan pengawetan bahan nabati hewani dapat diambil kesimpulan bahwa keahlian Bu Endang dalam membuat roti dan masih jarangnya roti di Probolinggo, mendorong Pak Bayu dan istrinya untuk mendirikan usaha bakery bernama Violet Bakery yang terletak di Perum Asabri. Selain memproduksi berbagai jenis roti sendiri seperti roti manis, roti tawar, donat, dan sebagainya, Violet Bakery juga menjualnya langsung pada konsumen dan menerima pesanan. Dalam pembuatan roti dibutuhkan bahan-bahan nabati hewani antara lain tepung terigu, gula, telur, susu, ragi, pengempuk, dan air. Roti Violet Bakery tidak menggunakan bahan pengawet. Umumnya, roti hanya mampu bertahan hingga 3 hari. Untuk proses pengolahannya, dimulai dari mencampurkan semua adonan yang telah ditimbang sesuai takaran, lalu adonan roti tersebut dibentuk, diletakkan di lemari pengembang, dan terakhir dioven. Sehingga jadilah roti yang siap untuk dikonsumsi dengan berbagai rasa. Produk roti Violet Bakery dikemas dalam plastik berlabelkan Violet Bakery. Pak Bayu dan Bu Endang memasarkan roti-roti mereka melalui beberapa cara. Saat ini mereka mengandalkan mulut ke mulut dan pesanan konsumen.
  11. 11. Saran Saran dan kritik yang dapat kami sampaikan terhadap hasil wawancara mengenai industri pengolahan dan pengawetan bahan nabati hewani antara lain : 1. Violet Bakery diharapkan mampu untuk terus berinovasi dalam membuat roti agar tidak kalah saing dengan usaha roti lainnya di Probolinggo yang mana mereka akan selalu berlomba-lomba dalam mengeluarkan produk baru dengan ciri khas masing-masing yang tentunya semakin beragam. 2. Lokasi Violet Bakery tidak terlalu strategis. Hanya masyarakat sekitar asabri yang mengetahuinya. Sehingga pemasaran harus diperluas agar minat konsumen meningkat. Otomatis, omset Violet Bakery juga akan meningkat. 3. Selain itu, mungkin Pak Bayu dan Bu Endang memasarkan produk olahannya dengan cara membuka cabang di beberapa tempat atau memasarkannya di supermarket daripada hanya mengandalkan cara pemasaran dari mulut ke mulut.
  12. 12. Lampiran

×