Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.
1
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sering kita mendengar seorang pasien tiba – tiba menderita shock setelah
diberikan ...
2
BAB II. PEMBAHASAN
A. Obat Rasional
Pengobatan dapat disebut rasional apabila pasien menerima terapi yang tepat
sesuai d...
3
Ketepatan indikasi berkaitan dengan penentuan perlu tidaknya suatu obat
diberiakan pada suatu kasus tertentu (Sastramiha...
4
8. Waspada terhadap efek samping
Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping yaitu efek yang tidak
diinginkan yang...
5
obat di puskesmas, apoteker atau asisten apoteker atau petugas penyerah obat akan
melaksanakan perintah dokter atau pere...
6
Untuk mengatasi masalah penggunaan obat yang tidak rasional diperlukan
beberapa upaya perbaikan, baik di tingkat provide...
7
B. Dampak Penggunaan Obat yang tidak rasional
Dampak negatif penggunaan obat yang tidak rasional sangat beragam dan
berv...
8
pasien puskesmas adalah untuk antibiotik. Tingginya konsumsi antibiotik (terutama
untuk kasus-kasus ISPA non Pneumonia) ...
9
• Terjadinya resistensi kuman terhadap antibiotik merupakan salah satu akibat
dari pemakaian antibiotik yang berlebihan ...
10
Penggunaan obat yang tidak rasional dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa:
1. Pemberian obat bagi penderita yang tid...
11
BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penggunaan obat rasional harus memperhatikan 14 tepat supaya memberikan
hasil yang maksi...
12
Daftar Pustaka:
Penggunaan Obat Rasional, Dep.Kes, 2006
http://klikdokter.com/healthnewstopics/read/2009/03/10/627/peng...
Próxima SlideShare
Cargando en…5
×

Makalah farma

  • Inicia sesión para ver los comentarios

Makalah farma

  1. 1. 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sering kita mendengar seorang pasien tiba – tiba menderita shock setelah diberikan obat atau ada petugas medis yang dilaporkan ke polisi karena salah memberikan obat kepada pasiennya. Kejadian seperti itu sangat merugikan kepada kedua belah pihak baik petugas medis maupun pasiennya. Oleh karena itu, perlu adanya suatu upaya untuk mencegah supaya tidak terjadi kasus akibat adanya penggunaan/ pemakaian obat yang tidak sesuai. B. Rumusan Masalah 1. Apakah kriteria penggunaan obat rasional ? 2. Bagaimana akibat kesalahan penggunaan obat yang tidak rasional ? C. Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengetahui kriteria pengguanaan obat rasional. 2. Mahasiswa dapat mengetahui kesalahan penggunaan obat yang tidak rasional.
  2. 2. 2 BAB II. PEMBAHASAN A. Obat Rasional Pengobatan dapat disebut rasional apabila pasien menerima terapi yang tepat sesuai dengan kebutuhan kliniknya, sesuai dengan dosis yang dibutuhkannya, pada periode waktu yang adekuat, dan dengan harga yang terjangkau untuk pasien dan masyarakat (WHO,1985). Obat adalah bahan atau panduan bahan- bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan, diagnosis, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi termasuk produk biologi. Sampai saat ini obat merupakan salah satu komponen yang tidak tregantukan dalam pelayanan kesehatan. Dengan demikian obat memiliki fungsi social dan seharusnya diutamakan dibandingkan dengan obat sebagai komoditas perdagangan. Penggunaan obat dikatakan rasional jika tepat secara medik dan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. Persyaratan Penggunaan obat rasional Menurut WHO 1985 pengobatan rasional bila: a. Pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya. b. Untuk periode yang adekuat. c. Dengan harga yang paling murah untuknya dan masyarakat. Secara praktis penggunaan obat dikatakan rasional jika memenuhi kriteria: 1. Tepat diagnosis Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar maka pemilihan obat akan terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru tersebut. Akibatnya obat yang diberikan juga tidak akan sesuai dengan seharusnya. 2. Sesuai dengan indikasi penyakit
  3. 3. 3 Ketepatan indikasi berkaitan dengan penentuan perlu tidaknya suatu obat diberiakan pada suatu kasus tertentu (Sastramihardja, 1997). 3. Tepat pemilihan obat. Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan dengan benar. Dengan demikian obat yang dipilih haruslah yang memiliki efek terapi sesuai dengan spectrum penyakit. Berkaiatan dengan pemilihan kelas terapi dan jenis obat berdasarkan pertimabangan manfaat, keamanan, harga, dan mutu. Sebagai acuannya bisa digunakan buku pedoman pengobatan. (Sastramiharja 1997). 4. Tepat Dosis Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat yang dengan rentang terapi yang sempit misalnya theofilin akan sangat berisiko timbulnya efek samping. Sebaliknya dosis yang terlau kecil tidak akan menjamin tercapainya kadar terapi yang diharapkan (Anomia 2006). 5. Tepat cara pemberian Tepat cara pemberian yaitu obat antacid seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik tidak boleh dicampur dengan susu karena akan membentuk ikatan sehingga menjadi tidak dapat diabsorbsi dan menurunkan efektifitasnya. Cara pemberian obat memerlukan pertimbangan farmakokinetik, yaitu cara atau rute pemberian, besar dosis, frekuensi pemberian dan lama pemberian, sampai ke pemilihan cara pemakaian yang paling mudah diikuti pasien, aman dan efektif untuk pasien. 6. Tepat interval waktu pemberian Cara memberikan obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis agar mudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi pemberian obat perhari (misalnya 4 kali sehari) maka semakin rendah tingkat ketaatan pasien untuk minum obat. 7. Tepat lama pemberian Lama pemberian obat itu harus sesuai dengan penyakitnya masing- masing. Untuk tuberculosis lama pemberian paling singkat 6 bulan. Lama pemberian kloramfenikol pada demam tifoid adalah 10 – 14 hari.
  4. 4. 4 8. Waspada terhadap efek samping Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping yaitu efek yang tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi. karena itu muka merah setelah pemberian atropine bukan alergi tetapi efek samping sehubungan vasodilatasi pembuluh darah di wajah. 9. Penilaian terhadap kondisi pasien Ketepatan penilaian diperlukan terhadap kontraindikasi, pengaruh faktor konstitusi penyakit penyerta dan riwayat alergi, respon individu terhadap efek obat sangat beragam, misalnya pada penderita kelainan ginjal, pemberian aminoglikosida sebaiknya dihindarkan karena resiko terjadinya nefrotoksik pada kelompok ini secara bermakna. 10. Tepat Informasi Ketepatan informasi menyangkut informasi cara penggunaan obat, efek samping obat dan cara penanggulangannya serta pengaruh kepatuhan terhadap hasil pengobatan. Informasi yang tepat dan benar dalam penggunaan obat sangat penting dalam menunjang keberhasilan terapi. 11. Tepat dalam melakukan upaya tindak lanjut Tepat tindak lanjut maksudnya pada saat memutuskan pemberian terapi harus sudah dipertimbangkan upaya tindak lanjut yang diperlukan, misalnya jika pasien tidak sembuh atau mengalami efek samping. Jika terjadi seperti ini maka dosis obat perlu ditinjau ulang atau bisa saja obatnya diganti. 12. Obat yang Efektif, aman, dan mutu terjamin dan terjangkau Untuk efektif, aman, dan terjangkau digunakan obat – obat dalam daftar obat essensial. Pemilihan batt dalam daftar obat essensial didahulukan dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan harganya oleh para pakar dibidang pengobatan dan klinis. 13. Tepat Penyerahan obat Penggunaan obat rasional melibatkan juga dispenser sebagai penyerah obat dan pasien sebagai konsumen. Pada saat resep dibawa ke apotik atau tempat penyerahan
  5. 5. 5 obat di puskesmas, apoteker atau asisten apoteker atau petugas penyerah obat akan melaksanakan perintah dokter atau peresep yang ditulis pada lembar resep ubntuk kemudian diberikan kepada pasien. 14. Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang dibutuhkan maksudnya pemberian obat dalam jangka waktu lama tanpa informasi/ supervisi tentu saja akan menurunkan ketaatan penderita. Kegagalan pengobatan tuberkulosis secara nasional menjadi salah satu bukti bahwa terapi jangka panjang tanpa disertai informasi/ supervisi yang memadai tidak akanpernah memberikan hasil seperti yang diharapkan. Ketidaktaatan minum obat umumnya terjadi pada pasien berikut: a. Jenis atau jumlah obat yang diberikan terlalu banyak. b. Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering. c. Jenis sediaan obat terlalu beragam d. Pemberian obat dalam jangka panjang. e. Pasien tidak mendapatkan informasi atau penjelasan yang cukup mengenai cara minum atau menggunakan obat. f. Timbul efek samping (Anonima, 2006). Masalah penggunaan obat yang tidak rasional masih cukup menonjol di beberapa pusat pelayanan kesehatan. Di samping berakibat pada pemborosan biaya, ketidakrasionalan penggunaan obat juga meningkatkan risiko terjadinya efek samping. Dampak lainnya adalah berupa ketergantungan pasien terhadap pemberian antibiotik yang selanjutnya secara luas akan meningkatkan risiko terjadinya resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada populasi. Dampak negatif penggunaan obat yang tidak rasional sangat beragam dan bervariasi tergantung dari jenis ketidakrasionalan penggunaannya. Dampak negatif ini dapat saja hanya dialami oleh pasien (efek samping dan biaya yang mahal) maupun oleh populasi yang lebih luas (resistensi kuman terhadap antibiotika tertentu) dan mutu pelayanan pengobatan secara umum.
  6. 6. 6 Untuk mengatasi masalah penggunaan obat yang tidak rasional diperlukan beberapa upaya perbaikan, baik di tingkat provider yaitu pembuat resep (prescriber) dan penyerah obat (dispenser) dan pasien/ masyarakat (consumer) hingga sistem kebijakan obat nasional. Masih kurang tertatanya sistem informasi pengobatan dari dokter ke pasien menjadi salah satu masalah dalam proses terapi. Di satu sisi salah satu alasan dokter mengapa tidak rasional adalah akibat tekanan dan permintaan pasien terhadap obat tertentu (misalnya penggunaan injeksi). Sementara itu di pihak pasien sebenarnya tidak pernah ada keberatan terhadap setiap proses pengobatan yang dilakukan oleh dokter. Dengan demikian, selama dokter dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien maka tidak mungkin pasien berniat mendikte dokter apalagi memaksakan kehendak untuk mendapatkan jenis terapi tertentu. WHO mengadvokasikan 12 intervensi kunci untuk mempromosikan penggunaan obat yang lebih rasional: a. Pembentukan badan nasional multidisiplin untuk mengkoordinasikan peraturan penggunaan obat b. Penggunaan panduan klinis c. Pengembangan dan penggunaan daftar obat esensial nasional d. Pembentukan komite obat dan terapeutik di daerah dan rumah sakit e. Memasukkan pelatihan farmakoterapi berbasis pemecahan masalah dalam kurikulum sarjana f. Melanjutkan edukasi medis mencakup pelayanan sebagai persyaratan lisensi g. Supervisi, audit, dan umpan balik h. Penggunaan informasi independen mengenai obat i. Edukasi publik mengenai obat j. Hindari insentif finansial tanpa alasan k. Penggunaan regulasi yang cocok dan diperkuat l. Ekspenditur pemerintah yang cukup untuk memastikan adanya obat dan staff
  7. 7. 7 B. Dampak Penggunaan Obat yang tidak rasional Dampak negatif penggunaan obat yang tidak rasional sangat beragam dan bervariasi tergantung dari jenis ketidakrasionalan penggunaannya. Dampak negatif ini dapat saja hanya dialami oleh pasien (efek samping dan biaya yang mahal) maupun oleh populasi yang lebih luas seperti resistensi kuman terhadap antibiotik tertentu, dan mutu pelayanan pengobatan secara umum. 1. Dampak pada mutu pengobatan dan pelayanan. Salah satu dampak penggunaan obat yang tidak rasional adalah peningkatan angka morbiditas dan mortalitas penyakit. Contohnya pada penderita diare akut non spesifik umumnya sering mendapat antibiotik dan obat injeksi, sementara pemberian oralit yang lebih dianjurkan, umumnya kurang dilakukan. Padahal diketahui bahwa resiko terjadinya dehidrasi pada anak yang diare dapat membahayakan keselamatan jiwa anak yang bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada penderita ISPA non pneumonia pada anak yang umumnya mendapatkan antibiotik yang sebenarnya tidak diperlukan. Sementara itu pada anak yang jelas menderita pneumonia akhirnya justru tidak mendapatkan terapi yang adekuat, karena antibiotik yang ada telah habis digunakan untuk mereka yang tidak memerlukannya. Dengan demikian tidaklah mengherankan apabila hingga saat ini angka kematian bayi dan balita akibat ISPA dan diare masih cukup tinggi di Indonesia. 2. Dampak terhadap biaya pengobatan. Penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas, atau pemberian obat untuk keadaan yang sama sekali tidak memerlukan terapi obat, jelas merupakan pemborosan dan sangat membebankan pasien. Di sini termasuk pula peresepan obat yang mahal padahal alternatif obat yang lain dengan manfaat dan keamanan sama dan harga lebih murah tersedia. Contohnya ketidakrasionalan seperti ini adalah pemberian antibiotik pada ISFA non pneumonia. Dari studi yang dilakukan oleh PPSDK-F (Proyek Pengkajian Sumber Daya Kesehatan- Komponen Farmasi) di 2 provinsi di Indonesia tahun 1992-1994 dijumpai bahwa lebih dari separuh biaya obat yang dikonsumsi
  8. 8. 8 pasien puskesmas adalah untuk antibiotik. Tingginya konsumsi antibiotik (terutama untuk kasus-kasus ISPA non Pneumonia) tentui saja mempengaruhi anggaran obat yang tersedia. Peresepan antibiotik bukannya keliru, tetapi sebaiknya memproritaskan pemberiannya untuk penyakit-penyakit yang benar-benar memerlukannya (yang jelas terbukti sebagai infeksi bakteri) akan sangat berarti dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi. Oleh karena itu jika pemberiannya selektif, maka pemborosan anggaran dapat dicegah dan dapat direalokasikan untuk penyakit atau intervensi lain yang lebih prioritas. Dengan demikian mutu pelayanan kesehatan dapat lebih dijamin. Disamping itu pnggunaan obat rasional akan berdampak pada pengurangan anggaran terhadap obat di sarana pelayanan kesehatan dasar. Seandainya praktek penggunaan penggunaan obat rasional dilaksanakan secara sistematis dan konsisten diperkirakan anggaran untuk pembelian obat disarana kesehatan dasar bisa dikurangi sampai 30 %. 3. Dampak terhadap kemungkinan efek samping dan efek lain yang tidak diharapkan. Dampak lain dari ketidakrasionalan penggunaan obat adalah meningkatnya resiko terjadinya efek samping dan efek lain yang tidak diharapkan, baik untuk pasien maupun untuk masyarakat. Bebersapa data berikut mewakili dampak negatif yang terjadi akibat penggunaan obat yang tidak rasional : • Kebiasaan memberikan obat dalam bentuk injeksi akan meningkatkan resiko terjadinya syok anafilaksis. • Resiko terjadinya efek samping onbat meningkat secara konsisten dengan makin banyaknya jenis obat yang diberikan kepada pasien. Keadaan ini semakin nyata pada usia lanjut. Pada kelompok umur ini kejadian efek samping dialami oleh 1 (satu) diantara 6 penderita usia lanjut yang dirawat di rumah sakit.
  9. 9. 9 • Terjadinya resistensi kuman terhadap antibiotik merupakan salah satu akibat dari pemakaian antibiotik yang berlebihan (over prescribing), maupun pemberian yang bukan indikasi (misalnya infeksi yang disebabkan oleh virus). 4. Dampak terhadap mutu keterediaan obat. Dari studi data yang dilakukanoleh Bagian Farmakologi FK UGM bekerjasama dengan Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI pada tahun 1997- 1998ditemukan bahwa leboih dari 80% pasien dengan keluhan demam,batuk dan pilek mendapatkan antibiotik untuk rata-rata 3 hari pemberian,.Dari praktek pengobatan tersebut tidaklah mengherankan bahwa yang sering dikeluhkan di puskesmas adalah tidak cukupnya ketersediaan antibiotik. Akibatnya jika suatu saat ditemukan pasien yang benar-benar menderita infeksi bakter, antibiotik yang dibutuhkan sudah tidak tersedia lagi. Yang terjadi selanjutnya adalah pasien terpaksa diberikan antibiotik lain yang bukan obat pilihan utama (drug of choice) dari infeksi tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat yang tidak rasional: 1. Pembuat resep (dokter), dokter yang kurang pengetahuan, ketrampilan dan tidak percaya diri, pengalaman praktek sehari-hari yang keliru, aktivitas promosi yang bias dari industri farmasi, tekanan permintaan dari pasien, generalisasi pengobatan penyakit, waktu diagnosa yang terbatas. 2. Pasien/masyarakat; ketidaktahuan terapi pengobatan, pengalaman sebelumnya yang salah (misalnya, pasien yang pernah mengalami diare dan sembuh setelah disuntik maka saat diare lagi maka pasien pun minta disuntik) 3. Sistem perencanaan dan pengelolaan obat 4. Kebijaksanaan obat dan pelayanan kesehatan 5. Lain-lain misalnya informasi dan iklan obat, persaingan praktek dan memberikan pengobatan yang sesuai dengan permintaan pasien.
  10. 10. 10 Penggunaan obat yang tidak rasional dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa: 1. Pemberian obat bagi penderita yang tidak memerlukan obat (obat tanpa indikasi) 2. Pemakaian obat yang tidak sesuai indikasi penyakit 3. Pemakaian obat yang tidak sesuai anjuran 4. Obat dengan toksisitas tinggi sementara obat lain yang lebih aman tidak digunakan 5. Pemakaian obat dengan harga mahal 6. Obat yang belum secara ilmiah terbukti manfaat dan keamanannya 7. Pemakaian obat yang jelas-jelas mempengaruhi kebiasaan atau persepsi keliru dari masyarakat terhadap pengobatan
  11. 11. 11 BAB III. PENUTUP A. KESIMPULAN Penggunaan obat rasional harus memperhatikan 14 tepat supaya memberikan hasil yang maksimal. Selain itu dalam mencegah terjadinya pemberian obat yang irasional diperlukan kerjasama antara pasien dan tenaga kesehatan lainnya untuk mendapatkan hasil informasi yang tepat. Pemberian obat secara tidak rasionalpun mengakibatkan banyak dampak, untuk mengantisipasi hal tersebut dibutuhkan tenaga kesehatan yang profesional dan mempunyai ilmu dasar yang mumpuni. B. SARAN Memberi edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan obat secara rasional guna mencegah terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan akibat pemberian obat secara irasional. Edukasi ini diharapkan mampu menciptakan kesadaran masyarakat tentang pemberian obat secara rasional.
  12. 12. 12 Daftar Pustaka: Penggunaan Obat Rasional, Dep.Kes, 2006 http://klikdokter.com/healthnewstopics/read/2009/03/10/627/penggunaan-obat- rasional http://senjaaruna.blogspot.com/2012/05/kriteria-penggunaan-obat-tidak-rasional.html http://apotekputer.com/ma/index.php?option=com_content&task=view&id=59&Item id=9

×