Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.

Budidaya kakao dan perhitungan analisa usaha

14.621 visualizaciones

Publicado el

Budidaya kakao dan perhitungan analisa usaha. Pohon kakao, merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kakao merupakan bahan baku cokelat yang bisa dipanen setiap hari. Ya, Kakao berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Tertarik membudidayakannya? Berikut ini adalah artikel lengkap beserta perhitungan analisa usahanya. Follow twitter kami untuk update artikel lainnya. @idewirausaha.

Publicado en: PYMES y liderazgo
  • Sé el primero en comentar

Budidaya kakao dan perhitungan analisa usaha

  1. 1. www.wartawirausaha.com Budidaya Kakao: Tiap Hari Bisa Panen Oleh: Ahmad Cahyanto Pohon kakao, merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bayangkan saja, kakao yang merupakan bahan baku cokelat ini bisa berbuah sepanjang tahun, tanpa mengenal musim. Tak perlu menunggu waktu lama untuk memanen kakao dari pohonnya, proses pemanennya pun bisa dilakukan tiap hari, jika sudah ada kakao yang tua atau siap panen. “Cokelat saat ini sudah hampir menjadi kebutuhan banyak orang. Setiap makanan dan minuman yang kita santap sehari-hari, sedikit banyak mengandung cokelat. Tak hanya makanan dan minuman, cokelat juga mulai merambah dunia farmasi dan kosmetik atau kecantikan. Karena inilah saya yakin prospek budidaya kakao ke depan bisa dibilang sangat cerah.” Ujar Wijianto, salah seorang petani kakao asal Desa Segulung, Dagangan. Kakao atau dalam nama latin Theobroma Cacao L, merupakan salah satu tumbuhan yang cocok dengan kultur tanah serta iklim yang ada di Indonesia. Karena inilah, kakao di berbagai daerah di Indonesia, termasuk wilayah Dagangan, tepatnya di kaki bukit pegunungan Wilis, mampu menjadi produk unggulan masyarakat. “Masyarakat di Segulung, biasanya memperdayakan tanah-tanah kebun yang berbukit-bukit, dengan menanami tanaman kakao serta cengkeh. Biasanya mereka menanam secara tumpang sari, menginggat lahan kurang bagus untuk tanaman padi. Uniknya, jika cengkeh hanya bisa dipanen sekali dalam setahun, atau bisa dinikmati hasilnya setelah satu tahun, maka pohon kakao ini bisa dipetik hampir tiap hari, jika pohon sudah mencapai umur 3 tahun ke atas.” Ungkap pria yang memiliki 1 hektar kebun kakao dan cengkeh ini. Pohon kakao sangat bagus, jika dikembangkan bersamaan pohon tegakan atau pelindung. Menurut Wijiyanto, masyarakat desa Segulung biasanya membudidayakan kakao bersama pohon cengkeh. Pohon cengkeh yang tinggi dan besar, menjadi salah satu pohon tegakan yang ideal. Selain cengkeh, pohon naungan yang bisa digunakan antara lain pohon lamtoro, gleresidae, serta albasia. Wijianto menambahkan, pohon kakao sangat ideal dikembangkan di daerah perbukitan, dimana itensitas cahaya mataharinya tidak terlalau banyak. Jika matahari terlalu banyak, tanaman kakao akan mengecil, daun menyempit, sehingga tanaman relatif mengkerdil. “Untuk memulai proses penanaman sebetulnya tidak sulit, pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah membuat membersihkan alang-alang dan gulma. Setelah kebun bersih, baru membuat lubang dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm untuk benih pohon kakao. Lubang ini kemudian ditimbun pupuk kompos dan kotoran sapi, lalu dibiarkan beberapa hari.” tambahnya.
  2. 2. www.wartawirausaha.com Jika sudah, benih kakao yang sudah memiliki tinggi 1 – 1,5 meter dimasukkan ke dalam lubang. Agar, benih kakao tidak dirusak hewan liar, sebaiknya disekeliling lubang diberi pagar bamboo. Setelah selesai, tinggal perawatan dan pemupukan. “Pemukan dilakukan setelah umur pohon kakao 6 bulan. Pupuk yang biasa saya gunakan adalah organic dan juga urea. Pada usia 8 – 12 bulan, dilakukan pemangkasan cabang pohon kakao yang lemah. Pada umur 18 – 24 dilakukan kembali pemangkasan, dengan membuang tunas yang tidak diinginkan. Secara berkala dilakukan pembuangan cabang yang melintang serta rating yang menyebabkan tanaman terlalu rimbun dibuang. Pemangkasan dilakukan juga untuk mengurangi kelebatan daun pada tanaman kakao.” Ungkap Wijianto. Pada usia 3 tahun, biasanya pohon kakao sudah berbuah lebat dan mulai bisa dipanen. Buah kakao yang bisa dipanen, adalah buah yang sudah tua, dan sudah mengalami perubahan kulit buah. Wijiantao menyarankan, begitu buah sudah masak, bisa segera dipetik, karena jika terlalu masak, kadar gula dalam buah menurun, sehingga dalam proses fermentasi kurang begitu baik. “Pohon kakao yang sudah berumur 3 tahun, biasanya akan berbuah terus menerus tanpa mengenal musim. Biasanya, kalau kami panen, kami kumpulkan dulu buah kakao ke tempat khusus. Lalu buah tersebut kita pisahkan atau kelompokkan sesuai dengan kelas kematangannya. Setelah itu, buah kakao di pecah dengan menggunakan balok kayu.” Ujar pria yang juga menjadi perangkat desa tersebut. Menurut Wijianto, dari pohon kakao, yang diambil hanyalah biji buah kakao saja. Biji tersebut, setelah diambil dari buah kemudian di peram atau difermentasi selama kurang lebih satu minggu. Wijianto menjelaskan, proses fermentasi hanyalah memasukkan biji buah kakao ke dalam kotak kayu tebal yang dilapisi oleh alumunium dan dibawahnya diberi lubang kecil untuk pembuangan lender. “Sebenarnya selain biji, dulu pernah ada sosialisasi pembuatan nata de kakao dari lendir biji kakao dan pembuatan pakan untuk hewan peliharaan seperti kambing dan sapi dari kulit kakao yang kebanyakan dibuang. Namun, semua kurang maksimal, karena pemerintak sendiri kurang begitu maksimal dan konsisten dalam memberdayakan masyarakat petani kakao.” Ungkap Wijianto. Untuk pemasaran biji-biji kakao yang sudah kering menurut Wijianto tidak ada kendala yang berarti. Bahkan, Wijianto yakin jika masa depan kakao atau cokelat ini sangat cerah jika dibanding cengkeh. Jika suatu saat cengkeh akan berkurang seiring pemerintah yang akan mengurangi kuota rokok, maka kakao justru akan naik, karena komoditas ini sangat penting. “Harga biji kakao kering ke pengepul saat ini antara 20 – 25 ribu perkilogramnya. Saat ini sudah banyak pengepul yang datang untuk mengambil biji kakao kering dari petani. Bahkan, beberapa pengepul sudah berani memberikan uang sebagai panjer, meskipun barang atau biji kakao belum ada.” Uajrnya. Kendala yang dihadapi adalah kurangnya perhatian dari pemerintah setempat mengenai potensi kakao yang dikembangkan masyarakat. Menurut Wijianto, pemerintah masih setengah hati dalam membina masyarakat agar terus menghasilkan biji kakao berkualitas terbaik. Saat ini penyemprotan dan sosialisi penangulangan hama juga sudah sangat jarang dilakukan.
  3. 3. www.wartawirausaha.com “Saat ini petani kerap mendapat serangan hama yang dibawa oleh lalat buat. Serbuan lalat buat ini membuat buah kakao tidak bisa dipanen secara maksimal, karena biji dalam buah kakao kerap rusak dan banyak ditemukan belatung kecil. Berbagai cara sudah kami lakukan untuk menanggulangi ancaman hama ini, namun kami masih belum bisa menemukan cara yang tepat. Karena inilah kami berharap mendapat support dan bimbingan pemerintah agar Segulung bisa tetap menjadi wilayah penghasil kakao terbaik.” Ucap Wijianto. Jika dulu Wijianto mampu memanen biji kakao sebanyak 20 kg perhari, kini dia terpaksa gigit jari, karena untuk pemanenan setiap seminggu sekali. Hasil yang didapat juga jauh berbeda dengan apa yang didapat beberapa tahun dulu. “Untuk mengantispasi ini, kami meremajakan semua pohon kakao yang sudah terserang lalat buah. Selain itu pohon kakao yang sudah berumur 20 tahun juga kami remajakan, agar produktivitas buahnya kembali normal. Selain itu, kami juga rutin memberikan semprotan untuk menjaga pohon agar terhindar dari serangan lalat buah.” Tutupnya.
  4. 4. www.wartawirausaha.com Analisa Usaha Budidaya Pohon Kakao (di atas lahan 1 hektar, selama 3 tahun atau satu kali panan) A. Investasi - Lahan 1 hektar B. Biaya Produksi - 1000 Benih pohon kakao @5.000/batang Rp 5.000.000 - Peralatan pertanian Rp 500.000 - Kebutuhan pupuk organik dan kompos Rp 1.500.000 - Kebutuhan pupuk urea Rp 1.500.000 - Perawatan dan tenaga kerja (selama 3 tahun) Rp 10.000.000 Total Rp 18.500.000 C. Hasil Panen Lahan 1 hektar mampu menghasilkan kurang lebih 3 ton biji kakao kering dalam sekali masa panen. Harga perkilo biji kakao kering adalah Rp 25.000 Jadi, 25.000 x 3000 kg = Rp 75.000.000 Laba Kotor Rp 75.000.000 – 18.500.000 = 73.150.000 Catatan: - Setelah 3 tahun, pohon kakao akan berbuah sepanjang waktu dan tidak mengenal musim. Hal ini proses pemanenan bisa dilakukan hampir tiap hari. Masa produktivas kakao juga panjang, hingga 20 tahun lebih. - Selain biji, jika dikembangkan lender kakao bisa digunakan untuk membuat nata de kakao sedangkan kulit buah kakao bisa diolah menjadi campuran bahan pakan ternak. - Proses penanaman pohon kakao sebaiknya dilakukan dengan tumpang sari, seperti pohon cengkeh, albasia dan lain-lain

×