Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.
PERANAN INDONESIA DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN
DUNIA MELALUI KAA
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Dibuat Oleh : YAYU MEGA DINI -...
Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen : Sri Waluyo
Topik Tulisan
PERANAN INDONESIA DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN D...
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan saya
wakt...
PERANAN INDONESIA DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA
MELALUI KAA
Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Bandung pada ta...
Konferensi Asia Afrika menyokong sepenuhnya prinsip dasar hak asasi manusia yang
tercantum dalam Piagam PBB. Oleh karena i...
Peran Indonesia Dalam Perdamaian Dunia Melalui Konferensi Asia Afrika
Konferensi Asia Afrika diadakan usai Perang Dunia II...
Lima perdana menteri yang hadir dalam pertemuan di Bogor adalah: Perdana Menteri Ali
Sastroamijoyo dari Indonesia, Perdana...
REFERENSI
http://indonesia.travel
http://kompas.com
Próxima SlideShare
Cargando en…5
×

peranan indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia melalui kaa

Tugas Softskill Pendidikan Kewarganegaraan

  • Inicia sesión para ver los comentarios

  • Sé el primero en recomendar esto

peranan indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia melalui kaa

  1. 1. PERANAN INDONESIA DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA MELALUI KAA PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Dibuat Oleh : YAYU MEGA DINI - 18210611 Program Study Ekonomi Manjemen Jurusan Manajemen UNIVERSITAS GUNADARMA
  2. 2. Mata Kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan Dosen : Sri Waluyo Topik Tulisan PERANAN INDONESIA DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA MELALUI KAA Kelas : 2-EA32 Dateline Makalah : 31 Mei 2015 Tanggal Penyerahan Makalah : 31 Mei 2015 P E R N Y A T A A N Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam penyusunan makalah ini saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain. Apabila terbukti tidak benar, saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini. P e n y u s u n N P M Nama Lengkap Tanda Tangan 18210611 Yayu Mega Dini Program Sarjana Ekonomi Manajemen UNIVERSITAS GUNADARMA
  3. 3. KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Saya panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan saya waktu, kesempatan dan juga ilmu dalam menyelesaikan tulisan ini, dengan judul : “Peranan Indonesia Dalam Menciptakan Perdamaian Dunia Melalui KAA” sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyusun tulisan ini, khususnya kepada dosen pengajar Pendidikan Kewarganegaraan yaitu Bapak Sri Waluyo yang telah memberikan ilmu kepada saya dan juga kepada teman-teman yang telah membantu. Saya berusaha menyusun tulisan ini dengan segala kemampuan, namun saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran membangun sangat saya butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa mendatang. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat serta menambah ilmu pengetahuan dan semangat bagi Mahasiswa dan juga para pembaca untuk bersama-sama hendaknya menjalankan toleransi dan hidup berdampingan secara damai di Negara kita tercinta Republik Indonesia. Bekasi, 29 Mei 2015 Yayu Mega Dini
  4. 4. PERANAN INDONESIA DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA MELALUI KAA Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18 – 24 April 1955. Konferensi Asia Afrika dihadiri oleh wakil-wakildari 29 negara yang terdiri atas negara pengundang dan negara yang diundang. Negara pengundang meliputi : Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar). Negara yang diundang 24 negara terdiri atas 6 negara Afrika dan 18 negara meliputi Asia (Filipina, Thailand, Kampuchea, Laos, RRC, Jepang, VietnamUtara, Vietnam Selatan, Nepal, Afghanistan, Iran, Irak, Saudi Arabia, Syria(Suriah), Yordania, Lebanon, Turki, Yaman), dan Afrika (Mesir, Sudan, Etiopia,Liberia, Libia, dan Pantai Emas/Gold Coast). Negara yang diundang, tetapi tidak hadir pada Konferensi Asia Afrika adalah Rhodesia/Federasi Afrika Tengah. Ketidakhadiran itu disebabkan Federasi Afrika Tengah masih dilanda pertikaian dalam negara/dikuasai oleh orang-orang Inggris. Semua persidangan Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung. Latar belakang dan dasar pertimbangan diadakan KAA adalah sebagai berikut. 1. Kenangan kejayaan masa lampau dari beberapa negara di kawasan Asia Afrika. 2. Perasaan senasib sepenanggungan karena sama-sama merasakan masa penjajahan dan penindasan bangsa Barat, kecuali Thailand. 3. Meningkatnya kesadaran berbangsa yang dimotori oleh golongan elitenasional/terpelajar dan intelektual. 4. Adanya Perang Dingin antara Blok Barat dengan Blok Timur. 5. Memiliki pokok-pokok yang kuat dalam hal bangsa, agama, dan budaya. 6. Secara geografis letaknya berdekatan dan saling melengkapi satu samalain. Tujuan diadakannya Konferensi Asia Afrika, antara lain: 1. Memajukan kerja sama bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam bidangsosial, ekonomi, dan kebudayaan; 2. Memberantas diskriminasi ras dan kolonialisme; 3. Memperbesar peranan bangsa Asia dan Afrika di dunia dan ikut sertamengusahakan perdamaian dunia dan kerja sama internasional; 4. Bekerja sama dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya; 5. Membicarakan masalah-masalah khusus yang menyangkut kepentingan bersama seperti kedaulatan negara, rasionalisme, dan kolonialisme. Konferensi Asia Afrika membicarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama negara-negara di Asia dan Afrika, terutama kerja sama ekonomi dan kebudayaan, serta masalah kolonialisme dan perdamaian dunia. Kerja sama ekonomi dalam lingkungan bangsa- bangsa Asia dan Afrika dilakukan dengan saling memberikan bantuan teknik dan tenaga ahli. Konferensi berpendapat bahwa negara-negara di Asia dan Afrika perlu memperluas perdagangan dan pertukaran delegasi dagang. Dalam konferensi tersebut ditegaskan juga pentingnya masalah perhubungan antar negara karena kelancaran perhubungan dapat memajukan ekonomi. Konferensi juga menyetujui penggunaan beberapa organisasi internasional yang telah ada untuk memajukan ekonomi.
  5. 5. Konferensi Asia Afrika menyokong sepenuhnya prinsip dasar hak asasi manusia yang tercantum dalam Piagam PBB. Oleh karena itu, sangat disesalkan masih adanya rasialisme dan diskriminasi warna kulit di beberapa negara. Konferensi mendukung usaha untuk melenyapkan rasialisme dan diskriminasiwarna kulit di mana pun di dunia ini. Konferensi juga menyatakan bahwa kolonialisme dalam segala bentuk harus diakhiri dan setiap perjuangan kemerdekaan harus dibantu sampai berhasil. Demi perdamaian dunia, konferensi mendukung adanya perlucutan senjata. Juga diserukan agar percobaan senjata nuklir dihentikan dan masalah perdamaian juga merupakan masalah yang sangat penting dalam pergaulan internasional. Oleh karena itu, semua bangsa di dunia hendaknya menjalankan toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Demi perdamaian pula, konferensi menganjurkan agar negara yang memenuhi syarat segera dapat diterima menjadi anggota PBB. Konferensi setelah membicarakan beberapa masalah yang menyangkut kepentingan negara-negara Asia Afrika khususnya dan negara-negara di dunia pada umumnya, segera mengambil beberapa keputusan penting, antara lain: 1. Memajukan kerja sama bangsa-bangsa Asia Afrika di bidang sosial,ekonomi, dan kebudayaan; 2. Menuntut kemerdekaan bagi Aljazair, Tunisia, dan Maroko; 3. Mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Barat dan tuntutan Yaman atas Aden; 4. Menentang diskriminasi ras dan kolonialisme dalam segala bentuk; 5. Aktif mengusahakan perdamaian dunia. Selain menetapkan keputusan tersebut, konferensi juga mengajak setiap bangsa di dunia untuk menjalankan beberapa prinsip bersama, seperti: 1. Menghormati hak-hak dasar manusia, tujuan, serta asas yang termuat dalam Piagam PBB; 2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa; 3. Mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa, baik bangsa besar maupun bangsa kecil; 4. Tidak melakukan intervensi atau ikut campur tangan dalam persoalan dalam negeri negara lain; 5. Menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik secara sendirian maupun secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB; 6. a) Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus salah satu negara besar; b) Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain; 7. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atas kemerdekaan politik suatu negara; 8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional secara damai sesuai dengan Piagam PBB; 9. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama internasional; 10. Menghormati hukum dan kewajiban internasional lainnya. Kesepuluh prinsip yang dinyatakan dalam Konferensi Asia Afrika itu dikenaldengan nama Dasasila Bandung atau Bandung Declaration.
  6. 6. Peran Indonesia Dalam Perdamaian Dunia Melalui Konferensi Asia Afrika Konferensi Asia Afrika diadakan usai Perang Dunia II, ketika kondisi keamanan dunia belum stabil dan terjadinya Perang Dingin antara Amerika Serikat (pemimpin Blok Barat) dan Rusia (pemimpin Blok Timur). Kedua kekuatan besar yang saling berlawanan dan mencari dukungan dari negara-negara di Asia Afrika tersebut juga saat itu terus mengembangkan senjata pemusnah massal sehingga situasi dunia selalu diliputi kecemasan terjadinya perang nuklir. Dari sinilah negara-negara yang baru merdeka menggalang persatuan mencari jalan keluar demi meredakan ketegangan dunia. Pemerintah Indonesia, melalui saluran diplomatik melakukan pendekatan kepada 18 Negara Asia Afrika untuk mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhadap ide pelaksanaan Konferensi Asia Afrika demi meredakan ketegangan dunia. Ternyata umumnya mereka menyambut baik dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah konferensi. Termasuk pula dukungan dan desakan dari Perdana Menteri Jawaharlal Nehru dari India yang berharap segera melaksanakan konferensi setelah melakukan pertemuan langsung dengan Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastroamidjojo. Terlaksananya KAA tidak bisa lepas dari peran Indonesia. Di samping sebagai salah satu pelopor dan pemrakarsa KAA, Indonesia menyediakan diri sebagai tempat penyelenggaraan KAA. Hal ini membuktikan prestasi Kabinet Ali Sastroamidjojo yang berhasil menyelenggarakan suatu kegiatan yang bersifat Internasional. Menurut Roeslan Abdulgani, seorang saksi sejarah dan ketua panitia pelaksana KAA di Bandung 1955, yang juga mengalami KAA di Jakarta 2005, sejak tahun 1928 Soekarno telah memimpikan gagasan untuk memperluas gerakan Asia Afrika. “Bung Karno sangat dipengaruhi konsep Lothrop Stoddard (penulis Inggris) yang dalam bukunya “The Rising Tide of Colour “, mengatakan bahwa gerakan Asia Afrika secara spiritual bergandengan tangan satu sama lain, dan semuanya termotivasi oleh insting untuk mempertahankan diri. Sebelum itu pada tahun 1926 di Bierville, Perancis, sejumlah mahasiswa Asia dan Afrika yang sedang belajar di Eropa Barat mengadakan kongres League Against Colonialism and Imperialism. Beberapa mahasiswa Indonesia ikut serta : Bung Hatta, Nazir Pamontjak, Achmad Subardjo, Abdul Manaf, Arnold Mononutu, Gatot Tarumihardja. Para mahasiawa Asia Afrika tersebutmengeluarkan peryataan yang mengecam penjajahan Eropa di dua benua tersebut.Peryataan itu cukup berani mengingat mereka berada di tengah “kandang macan”kolonialis-imperialis. Gagasan untuk mengadakan suatu Konferensi Asia Afrika (KAA) diketengahkan oleh Perdana Mentri RI, Ali Sastroamidjojo pada empat rekan lainnya, yakni para PM dari India, Pakistan dan Burma, yang hadir pada Konferensi Kolombo, April-Mei 1954, atas undangan Sir John Kotelawala,Perdana Menteri Ceylon (1953-1956) (Adnan, 2007). Demi menggagas konferensi, pada 28-29 Desember 1954, atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo (Indonesia, India, Pakistan, Birma, Ceylon) mengadakan pertemuan di Bogor pada 28-31 Desember 1954 untuk membicarakan persiapan Konferensi Asia Afrika. Pertemuan di Bogor berhasil merumuskan kesepakatan tentang agenda, tujuan, dan negara-negara yang diundang pada Konferensi Asia Afrika, termasuk persiapan penyelenggaraan KAA.
  7. 7. Lima perdana menteri yang hadir dalam pertemuan di Bogor adalah: Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo dari Indonesia, Perdana Menteri Jawaharal Nehru dari India, Perdana Menteri Mohammad Ali Jinnah dari Pakistan, Perdana Menteri Sir John Kotelawa dari Srilanka, dan Perdana Menteri U Nu dari Myanmar. Kelima tokoh itulah yang kemudian dikenal sebagai Pelopor Konferensi Asia Afrika dengan hasil kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Panca Negara dan Indonesia dipilih menjadi tuan rumah konferensi tersebut dimana Presiden Soekarno sebagai pemimpinpertemuan menunjuk Kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya konferensi. Konferensi Asia Afrika dilaksanakan Bandung dan dibuka oleh Presiden Soekarno. Para pemimpian negara yang hadir adalah: Jawaharlal Nehru dari India, Sir John Kottalawala of Srilanka, Muhammad Ali dari Pakistan, Norodom Sihanouk dari Kamboja, U Nu dari Myanmar, Abdel Nasser dari Mesir, Zhou En lai dari China, dan lainnya. Konferensi Asia Afrika di Bandung berhasil meraih kesuksesan baik dalam merumuskan masalah umum, menyiapkan pedoman operasional kerjasama antarnegara Asia-Afrika, serta menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia. Konferensi Asia Afrika telah membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka, sehingga kemudian lahirlah sejumlah negara merdeka di benua Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa cita-cita dan semangat Dasa Sila Bandung semakin merasuk ke dalam tubuh bangsa-bangsa Asia dan Afrika.Konferensi Asia Afrika berpengaruh sangat besar dalam upaya menciptakan perdamaian dunia dan mengakhiri penjajahan di seluruh dunia secara damai, khususnya di Asia dan Afrika. Setelah kesepakatan dari Konferensi Asia Afrika di Bandung disusun, satu per satu negara di Asia dan Afrika memperjuangkan serta memperoleh kemerdekaannya. Hal ini jugalah yang memupuskan niatan kubu Blok Barat seperti Inggris, Belanda, Perancis dan Spanyol untuk meneruskan penjajahan dalam bentuk neokolonialisme. Semangat Konferensi Asia Afrika untuk tidak berpihak pada blok Barat maupun blok Timur telah mendorong lahirnya Gerakan Nonblok. Dengan demikian ketegangan dunia dapat diredam.
  8. 8. REFERENSI http://indonesia.travel http://kompas.com

×