Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.
I.
I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sejak konflik Aceh yang melanda mulai tahun 1999, hingga di
putuskannya darurat militer ...
didalam negeri, bahkan sampai saat ini Indonesia menjadi salah satu negara
pengimpor ternak sapi dari berbagai negara teru...
agar menjadi cikal bakal usaha kecil mikro dan menengah dibidang
pertanian dan peternakan Kabupaten Aceh Utara, yang selam...
4. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas usaha budidaya ternak sapi
potong.
5. Meningkatkan kemampuan kelompok dalam menf...
d. Menjadi motivasi bagi Masyarakat Lokal yang pengangguran dengan
menumbuhkan semangat usaha dan jiwa kreatifitas yang ti...
3. Kurangnya pengetahuan peternak terhadap pengembangan/budidaya
ternak sapi dengan sistem dan manajemen usaha yang baik s...
(a) perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat peternak,
(b) kemampuan kelompok sasaran baik dari segi teknis maupun
manej...
lahan yang menghasilkan hijauan dari limbah yang dapat digunakan
sebagai pakan ternak misalnya area perkebunan dan tanaman...
optimal. Untuk mengoptimalkan kesehatan hewan, kelompok sasaran
akan berkerja sama dengan petugas kesehatan hewan melalui ...
3. Laporan mencakup perkembangan kelompok sasaran berikut realisasi
fisik dan keuangan.
4. Menghimpun pengaduan dan atau k...
III. PENUTUP
Berdasarkan hasil kajian dan analisis maka dapat disimpulkan bahwa usulan
kelompok ternak sapi “xxxxxxxxxxxxx...
KELOMPOK PENGGEMUKAN SAPI “XXXXXXXX”
DESA XXXXXXXXX KECAMATAN XXXXXXXX
KABUPATEN ACEH UTARA
Lampiran : 4- Sarana Budidaya
...
KELOMPOK PENGGEMUKAN SAPI “XXXXXXXXXXXXXXX”
DESA XXXXXXXXXXXXXXXX KECAMATAN XXXXXXXXXXXX
KABUPATEN ACEH UTARA
Lampiran : 5...
KELOMPOK PENGGEMUKAN SAPI “XXXXXXXX”
DESA XXXXXXXXX KECAMATAN XXXXXXXX
KABUPATEN ACEH UTARA
Lampiran : 6- Sarana Pendukung...
Próxima SlideShare
Cargando en…5
×

Proposal Budidaya Penggemukan ternak Sapi

17.528 visualizaciones

Publicado el

Kepada Bapak Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi

Publicado en: Servicios
  • Sex in your area is here: ❶❶❶ http://bit.ly/2F4cEJi ❶❶❶
       Responder 
    ¿Estás seguro?    No
    Tu mensaje aparecerá aquí
  • Follow the link, new dating source: ❤❤❤ http://bit.ly/2F4cEJi ❤❤❤
       Responder 
    ¿Estás seguro?    No
    Tu mensaje aparecerá aquí
  • thanks for SlideShare... Good Luck For Your
       Responder 
    ¿Estás seguro?    No
    Tu mensaje aparecerá aquí

Proposal Budidaya Penggemukan ternak Sapi

  1. 1. I.
  2. 2. I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sejak konflik Aceh yang melanda mulai tahun 1999, hingga di putuskannya darurat militer di Aceh pada tahun 2003 sampai dengan datangnya musibah tsunami pada tahun 2004, masyarakat aceh terus hidup dalam kesusahan, sulitnya mengembangkan usaha di Aceh kala itu diakui benar adanya oleh segenap lapisan masyarakat, tak terkecuali mereka yang di pedalam terutama petani dan peternak, sampai akhirnya MoU lahir setelah tsunami menandakan perdamaian. Efek dari sekian lama aceh bergemelut dalam konflik sampai saat ini masih terasa di aceh, masyarakat seolah kehabisan akal dalam mengembangkan usaha supaya bisa berkembang. Baru diakhir tahun 2014 tepatnya setelah pemilu pilpres, masyarakat Aceh seolah kembali mendapatkan gairah dengan lahirnya pemimpin baru yang berjiwa memasyarakat. Masih teringat jelas di pertengahan tahun 2014 yaitu bertepatan hari megang di Aceh, dikala itu hampir semua harga bahan pokok melonjak tinggi tak terkecuali harga daging, suplay kebutuhan daging, telur dan susu asal hewani secara signifikan tidak dapat dipenuhi secara domestik. Hal ini disebabkan oleh banyaknya usaha-usaha peternak komersil yang mengalami kebangkrutan, karena kebijakan pemerintah akan tatanan perekonomian kurang berpihak kepada masyarakat pedesaan. Kebijakan yang salah juga berefek kepada harga sarana dan prasarana usaha ternak yang juga ikut meningkat secara drastis. Kekurangan modal dan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah serta kurangnya kepercayaan Pemerintah terhadap masyarakat kian menjadi penghambat kelangsungan kemajuan disegala sektor usaha. Sub sektor peternakan yang semestinya menjadi penopang pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat dewasa ini tidak terkontrol sebagai akibat dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap kelangsungan pengembangan sub sektor peternakan. Kondisi ini tentunya berimplikasi terhadap kurangnya penyediaan kebutuhan akan protein asal hewani
  3. 3. didalam negeri, bahkan sampai saat ini Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor ternak sapi dari berbagai negara terutama Australia dan Selandia Baru. Ketergantungan akan ternak impor tersebut semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan kesadaran gizi masyarakat. Salah satu yang mungkin dapat ditempuh yaitu menerapkan konsep pemanfaatan sumber daya dengan konsep back to local resours. Konsep ini mengandung konsep makna upaya pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya lokal yang berbasis pada pelibatan masyarakat secara partisipatif. Menyongsong implementasi kebijakan pembangunan daerah yang otonom (desentralisasi) dewasa ini menurut segenap pelaku pembangunan (stake holder) di daerah untuk mampu mengelola potensi sumber daya lokalnya secara mandiri dan efektif. Seperti halnya realitas yang terjadi di Aceh dimana pemenuhan permintaan akan produk peternakan belum sepenuhnya disediakan oleh produk ternak lokal. Pada hal dari aspek potensi sumber daya alamnya Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Utara keunggulannya sama dengan daerah lain. Fenomena tersebut mendorong kelompok ternak sapi “xxxxxxxxxx” Desa xxxxxxxxxxxx Kecamatan xxxxxxxxxxx Kabupaten Aceh Utara untuk memanfaatkan secara optimal potensi sumber daya alam yang secara agroklimat dan agrosistem sangat potensial untuk mengembangkan sapi potong. Hal ini akan terealisasi sepenuhnya apabila didukung oleh kebijakan Pemerintah Pusat apabila menetapkan pengelolaan pembudidayaan sapi potong di Propinsi Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Utara yang merupakan langkah-langkah strategis dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh Utara yang mayoritas petani dan menetapkan ternak sapi sebagai bagian integral dari sistem usaha taninya, walaupun dikelola dengan manajemen usaha yang berorientasi bisnis. Ke depan diharapkan dengan adanya program pemerintah melalui Dinas Peternakan diharapkan agar dapat melakukan pembinaan peternakan sapi didaerah ini dengan membentuk kelompok-kelompok peternakan sapi
  4. 4. agar menjadi cikal bakal usaha kecil mikro dan menengah dibidang pertanian dan peternakan Kabupaten Aceh Utara, yang selama ini merupakan salah satu sentra produksi sapi potong Lokal yang telah menjadi penyuplay utama kebutuhan daging sapi untuk masyarakat didaerah sendiri dan sekitarnya. Dalam pengembangan ternak sapi potong diwilayah ini adalah sistem pemeliharaan yang masih tradisional, skala usaha yang relatif sangat kecil dan belum dilakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan yang telah berkembang dewasa ini. Untuk meningkatkan produksi dan produktifitas ternak sapi di daerah ini diperlukan penerapan teknologi peternakan yang tepat guna dan mudah diadopsi oleh peternak dan berdasarkan kondisi obyektif peternakan sapi diwilayah Kabupaten Aceh Utara, yang menjadi faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan dan menjadi fokus kegiatan (1) Usaha Budi Daya dan Penggemukan, (2) Perbaikan tatalaksana budi daya dan penggemukan, (3) Perbaikan Manajemen, pemeliharaan perkandangan dan pakan, (4) Pelaksanaan teknologi dengan cara inseminasi buatan, (5) Perbaikan mutu genetik, (6) Pembinaan kelembagaan peternak Kehadiran Program Budidaya Penggemukan Ternak Sapi (BPTS) diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pengembangan peternakan sapi didaerah ini. 1.2 TUJUAN PROGRAM Maksud dan tujuan dalam budidaya dan pengemukan ternak sapi adalah: 1. Meningkatkan penerapan teknologi tepat guna dalam usaha budidaya ternak sapi potong. 2. Menumbuhkan jiwa kewirausahaan kelompok tani dalam pengembangan usaha ekonomi produktif yang berbasis sapi potong (agribisnis). 3. Meningkatkan kemampuan kelembagaan peternak dalam mengakses berbagai potensi sumber daya peternakan, sumber permodalan dan peluang usaha.
  5. 5. 4. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas usaha budidaya ternak sapi potong. 5. Meningkatkan kemampuan kelompok dalam menfasilitasi kebutuhan modal usaha (keuangan) para anggota kelompok binaan. 6. Meningkatkan produksi ternak sapi untuk memenuhi permintaan kebutuhan konsumsi daging lokal maupun secara nasional. 7. Mendayagunakan potensi lahan secara optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi daging. 8. Meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok dan masyarakat pada umumnya di wilayah budidaya penggemukan ternak sapi. 9. Memberikan Kesempatan kerja dan kesempatan berusaha terhadap peternak dan masyarakat setempat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. 1.3 SASARAN PROGRAM Sasaran yang akan diperoleh dari budidaya dan penggemukan ternak sapi potong melalui pola pemberdayaan kelompok masyarakat adalah: a. Meningkatkan produksi dan produktifitas sapi potong b. Berkembangnya usaha kelompok, meningkatkan pendapatan dan tercapainya kesejahteraan kelompok sasaran dan masyarakat pada umumnya. c. Meningkatkan kemandirian kelompok. d. Terbukanya peluang usaha dan ekonomi pedesaan. e. Terciptanya Lapangan Kerja dan mengurangi Angka Pengangguran. 1.4 TARGET PROGRAM a. Petani – peternak binaan trampil dan profesional dalam melakukan usaha budidaya ternak sapi melalui penerapan program tepat guna. b. Meningkatkan populasi ternak sapi di wilayah pilot program dari populasi sebelumnya. c. Terciptanya wadah kelompok usaha peternakan yang mandiri dan fungsional pedesaan yang berbasis sumber daya lokal.
  6. 6. d. Menjadi motivasi bagi Masyarakat Lokal yang pengangguran dengan menumbuhkan semangat usaha dan jiwa kreatifitas yang tinggi. II. DESKRIPSI PROGRAM 2.1 RUANG LINGKUP KEGIATAN 1. Pengembangan peternakan sapi berbasis masyarakat di pedesaan melalui budidaya dan penggemukan sapi potong dalam rangka pemberdayaan Pemuda dan masyarakat pedesaan. 2. Program peternakan ini diarahkan pada pembudidayaan dan penggemukan sapi dalam rangka pemberdayaan masyarakat pedesaan yang berbasis investasi dan ekonomi kerakyatan. Kelompok target merupakan petani peternak yang telah lama memelihara sapi tetapi memiliki keterbatasan modal dan keterampilan dalam berusaha tani ternak sapi. Setiap anggota kelompok diberikan penguasaan untuk memelihara ternak sapi serta sarana produksi yang digulirkan melalui bantuan modal usaha oleh Pemerintah Pusat. 3. Penyiapan kelompok dan managerial pada kelompok sasaran, dilakukan melalui pendampingan tenaga lapangan (field Officer) yang akan menyelenggarakan pembinaan setiap waktu. 4. Program ini direncanakan berlangsung selama 3 (tiga) tahun (Tahun 2015– 2018) 2.2 LOKASI PROGRAM Lokasi kegiatan direncanakan di Desa xxxxxxxxxxx Kecamatan xxxxxxxxxxxxxx Kabupaten Aceh Utara. Kriteria pemilihan lokasi pelaksanaan program didasarkan atas pertimbangan: 1. Masyarakat yang berada disekitar wilayah ini tersebut sangat membutuhkan pencaharian alternatif, karena mata pencaharian yang sekarang dilakukan tidak menentu. 2. Areal penggembalaan dan area penanaman hijauan makanan ternak cukup tersedia.
  7. 7. 3. Kurangnya pengetahuan peternak terhadap pengembangan/budidaya ternak sapi dengan sistem dan manajemen usaha yang baik serta kurangnya penanganan terhadap kesehatan ternak. 4. Belum terdapatnya sistem kemitraan yang dapat menjamin kelangsungan hidup petani peternak. 2.3 KELOMPOK BINAAN Kelompok Binaan adalah petani – peternak, yang tersebar pada desa- desa wilayah Kecamatan yang telah dipilih sebagai binaan. Jumlah sasaran yang menjadi binaan kelompok adalah sebanyak 10 (sepuluh) orang, Dengan kriteria pemilihan kelompok sasaran adalah: 1. Para Petani Peternak yang masuk Kelompok Binaan adalah yang sudah pernah memelihara sapi namun tidak lagi memiliki ternak sapi dikarenakan faktor modal. 2. Memiliki lahan untuk areal pengembangan budidaya sapi potong dan areal penanaman Hijauan Makanan Ternak (HMT). 2.4 SOSIALISASI PROGRAM Sosialisasi program kepada masyarakat yang menjadi sasaran program yang kami rencanakan agar dapat difasilitasi oleh : 1. Dinas di tingkat Kabupaten dan Dinas di tingkat Provinsi. 2. Tim Akademisi dari Perguruan Tinggi terkemuka di Aceh (Universitas Syiah Kuala, Universitas Serambi Mekkah, Universitas Abulyatama). 3. Alumnus dari Perguruan Tinggi terkemuka di Aceh yang mempunyai ilmu di bidang Pertanian dan peternakan yang ada dikecamatan. 2.5 PENDEKATAN KEGIATAN PROGRAM Kegiatan ini diawali adalah dengan studi untuk mempeloleh informasi lengkap yang dibutuhkan meliputi penyusunan database wilayah pelaksanaan pilot program dan profile social ekonomi masyarakat kelompok sasaran melalui pendekatan Partisipatif. Penyusunan database ini dimaksudkan untuk memudahkan mengevaluasi proses dan pencapaian target program baik terhadap:
  8. 8. (a) perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat peternak, (b) kemampuan kelompok sasaran baik dari segi teknis maupun manejerial, (c) dampak lingkungan dari keberdaan program terhadap peningkatan pendapatan keluarga kelompok Binaan dan masyarakat pada umumnya. 2.6 PELAKSANAAN KEGIATAN 1. Penyusunan Rencana Bersama Dalam upaya pengembangan peternakan yang berbasis ekonomi kerakyatan melalui usaha pengembangan dan penggemukan sapi maka untuk menjamin keberlanjutannya, akan dilakukan pengkajian terhadap masalah yang dihadapi oleh petani peternak. Solusi terhadap masalah yang dihadapi kelompok sasaran akan dilaksanakan dalam bentuk pertemuan sumbang saran (metode partisipatif) dengan difasilitasi pelaksana program untuk menghasilkan agenda aksi yang lebih mencerminkan kebutuhan kelompok sasaran mencakup bentuk dan cara serta mekanisme pelaksanaan program. Disamping itu pula dimaksudkan untuk membangun sistem kelembagaan (organisasi dan aturan main) yang kondusif dengan barbasis pada kelompok. 2. Persiapan Lahan Kegiatan penyusunan data base diantaranya adalah inventarisasi lahan yang tersedia pada lokasi pengembangan program baik yang dimiliki kelompok Binaan maupun yang dimiliki desa atau tanah Negara yang dapat dikonversi menjadi lahan pengembangan sentra produksi sapi pola budidaya dan penggemukan. Ketersediaan lahan di wilayah ini cukup memadai apalagi hampir semua kelompok sasaran yang telah terbina memiliki lahan yang sebagian besar lahan perkebunan yang memiliki tanaman hijauan makanan ternak. Agribisnis sapi membutuhkan lahan sebagai salah satu prasarat utama karena memiliki peranan yang vital. Lahan dimanfaatkan selain sebagai lokasi pembangunan kandang untuk menjalankan semua aktifitas produksi, juga digunakan sebagai lokasi penggembalaan untuk memenuhi kebutuhan pakan hijauan. Disatu sisi
  9. 9. lahan yang menghasilkan hijauan dari limbah yang dapat digunakan sebagai pakan ternak misalnya area perkebunan dan tanaman campuran. 3. Pengadaan Sapi Pengadaan sapi jantan bakalan dan induk sapi dilakukan sepenuhnya oleh kelompok binaan yang difasilitasi oleh pendamping program. Pelibatan masyarkat yang menjadi kelompok binaan dalam pengadaan sapi dimaksudkan sebagai media pembelajaran petani peternak dalam mengidentifikasi sapi jantan bakalan dan indukan sapi yang layak untuk dibudidayakan dan digemukan. Sumber sapi jantan bakalan dan indukan diupayakan berasal dari sapi-sapi masyarakat yang terseleksi dan berasal dari dalam atau daerah luar lokasi program. Sehingga upaya untuk mencapai target budidaya dan penggemukan sapi potong dilokasi program dapat dicapai. 4. Pembuatan Kandang dan Peralatan Kandang untuk pemeliharan/pengembangan ternak sapi pola budidaya dan penggemukan akan dibangun/disiapkan secara bersama- sama oleh seluruh anggota kelompok peternak dengan pola bahu- membahu bersama membangun. Petunjuk Penentuan Desain dan Tata Letak Perkandangan akan difasilitasi oleh Pendamping. Mekanisme pembiayaan pembangunan kandang dan peralatanya secara teknis diupayakan dengan pola sharing antara masyarakat kelompok sasaran dengan dana dari pilot program sehingga rasa kepemilikan antara masing- masing pihak demi keberlanjutan program dapat dicapai. 5. Penerapan Teknologi Untuk meningkatkan produksi dan produktiftas sapi potong perlu adanya teknologi tepat guna disamping teknologi sederhana yang dimiliki kelompok sasaran juga akan melakukan kerjasama dengan pihak terkait terutama dalam perbaikan mutu genetik ternak melalui inseminasi buatan. 6. Penanganan Kesehatan Hewan Dalam Upaya penanganan kesehatan hewan kelompok sasaran telah memiliki sistim pengobatan oleh anggota kelompok tetapi hal ini belum
  10. 10. optimal. Untuk mengoptimalkan kesehatan hewan, kelompok sasaran akan berkerja sama dengan petugas kesehatan hewan melalui istansi terkait. 7. Pemasaran hasil Di Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Utara kebutuhan daging sapi cukup tinggi hal ini ditunjukan dengan permintaan pasar misalnya rumah- rumah makan disamping itu juga ternak sapi dibutuhkan untuk acara adat (pernikahan, aqikah, nazar maupun hari megang dan hari raya kurban). 2.7 PENDAMPINGAN DAN PEMBINAAN Agar program ini dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan, maka pelaksana program akan menempatkan tenaga pendamping lapangan 1 orang yang memiliki kualifikasi pendidikan sarjana peternakan. Tugas utamanya mengkaji persoalan-persoalan yang dihadapai oleh kelompok peternak sasaran yang telah di bina serta memfasilitasi mereka dalam upaya perbaikan manajemen dan pengembangan usaha ternak. 2.8 MONITORING DAN EVALUASI Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala dan berjenjang sesuai dengan tahap kegiatan kelompok sasaran, untuk dapat mengidentifikasi dan mecari solusi pemecahan permasalahan yang dihadapi. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan oleh unsur Akademisi Perguruan Tinggi, Dinas dari Kabupaten dan Propinsi untuk memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan. Hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berjenjang tersebut meliputi : 1. Kemajuan pelaksanaan program sesuai dengan indikator kinerja program. 2. Penyelesaian masalah yang dihadapi ditingkatan kelompok, Kecamatan dan Kabupaten.
  11. 11. 3. Laporan mencakup perkembangan kelompok sasaran berikut realisasi fisik dan keuangan. 4. Menghimpun pengaduan dan atau keluhan masyarakat anggota kelompok binaan. Dalam melakukan monitoring tersebut juga akan di perhatikan Result- Based Management atau sering disebut dengan singkatan RBM yang tidak jauh bedanya dengan 3 poin di atas. RBM berusaha untuk memperbaiki akuntabilitas dan efektivitas manajemen melalui: a. Menentukan hasil realistik yang diharapkan; b. Monitoring kemajuan melalui raihan hasil yang diharapkan; c. Menggunakan hasil dalam pembuatan keputusan manajemen; d. Melaporkan kinerja manajemen. 2.9 PELAPORAN Untuk menertibkan adminsitrasi dan mengetahui kemajuan perkembangan budidaya dan penggemukan ternak sapi pada kelompok sasaran dilapangan maka akan dilakukan sistem pelaporan oleh peternak setiap triwulan kepada dinas di tingkat kabupaten. 2.10 RENCANA ANGGARAN BIAYA Rencana anggaran kebutuhan kelompok usaha peternakan “xxxxxxxxxxxxxxx” Desa xxxxxxxxxxxx Kecamatan xxxxxxxxxxxxxx Kabupaten Aceh Utara adalah sebesar : Rp496.200.000,00 (empat ratus sembilan puluh enam juta dua ratus ribu rupiah) Sumber Dana Program : Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Estimasi Anggaran : Terlampir
  12. 12. III. PENUTUP Berdasarkan hasil kajian dan analisis maka dapat disimpulkan bahwa usulan kelompok ternak sapi “xxxxxxxxxxxxxxx” Desa xxxxxxxxxxxxxxx, Kecamatan xxxxxxxxxxxxx Kabupaten Aceh Utara untuk mengusahakan budidaya sapi sangat layak dilakukan baik ditinjau dari kondisi sosial budaya, aspek lingkungan, aspek teknis, aspek efek sosial serta aspek keunggulan. Program pengembangan sapi potong perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah khususnya melalui Program Budidaya Penggemukan Sapi (PBPS) tahun 2015. Dukungan dan kebijakan dan pendanaan yang memadai pada sangat diperlukan dalam rangka memacu peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar baik lokal mapun nasional terlebih untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Demikian proposal pengembangan budidaya ternak sapi ini diajukan, semoga apa yang kita harapkan bersama dapat terwujud dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Aceh Utara, Januari 2015 Kelompok Usaha Budidaya Penggemukan Ternak Sapi “xxxxxxxxxxxxx” Mengetahui; Pembina Kelompok ( A k m a r ) field Officer K e t u a , ( xxxxxxxxx ) Mengetahui; Camat Kecamatan xxxxxxxxxxxxx ( xxxxxxxxxxxxxx ) Pembina Tk.I / NIP. xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
  13. 13. KELOMPOK PENGGEMUKAN SAPI “XXXXXXXX” DESA XXXXXXXXX KECAMATAN XXXXXXXX KABUPATEN ACEH UTARA Lampiran : 4- Sarana Budidaya KANDANG Bangunan yang akan kami pergunakan untuk kandang Budidaya Penggemukan Ternak Sapi adalah disesuai kemudian dengan mengacu kepada kesepakatan bersama. Adapun contoh photonya sebagai berikut : a. Kondisi luar kandang Photo 1 Photo 2 Sket Kandang Kandang yang akan dibangun b. Kondisi didalam kandang Photo 1 Photo 2 Sket wadah pakan dan air Wadah yang akan dibangun Mengetahui; Pembina Kelompok ( A K M A R ) Field Officer
  14. 14. KELOMPOK PENGGEMUKAN SAPI “XXXXXXXXXXXXXXX” DESA XXXXXXXXXXXXXXXX KECAMATAN XXXXXXXXXXXX KABUPATEN ACEH UTARA Lampiran : 5-Bakalan Sapi SAPI BAKALAN Pengadaan sapi jantan bakalan dan induk sapi, sumber sapi jantan bakalan dan indukan diupayakan berasal dari sapi-sapi masyarakat yang terseleksi, adapun photo contoh sapinya sebagai berikut : a. Lembu Induk Photo 1 Photo 2 Sapi induk untuk diternak Target yang ingin dicapai b. Lembu Jantan Photo 1 Photo 2 Sapi jantan bakalan 1 tahun Target yang ingin dicapai Mengetahui; Pembina Kelompok ( A K M A R ) Field Officer
  15. 15. KELOMPOK PENGGEMUKAN SAPI “XXXXXXXX” DESA XXXXXXXXX KECAMATAN XXXXXXXX KABUPATEN ACEH UTARA Lampiran : 6- Sarana Pendukung PERALATAN Adapun peralatan atau sarana pendukung di samping penerangan (listrik) juga bersifat primer dalam Budidaya Penggemukan Ternak Sapi adalah alat kerja dan penjamin keamanan. Adapun benda yang dimaksud contoh photonya sebagai berikut : a. Keperluan didalam kandang Photo 1 Photo 2 Skop untuk buang kotoran sapi Kereta sorong & tali = buang kotoran & ikat lembu b. Keperluan diluar kandang Photo 1 Photo 2 Becak Viar untuk transportasi pakan Kawat jerjak & kawat duri untuk pagar Mengetahui; Pembina Kelompok ( A K M A R ) Field Officer

×