Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.
LOGIKA 1
PENGERTIAN LOGIKA
• Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος
(logos) yang berarti hasil pertimbangan akal
pikiran yang d...
Logika
 Suatu cara pengambilan kesimpulan.
 Suatu alat untuk berpikir.
 Suatu teknik menyusun argumen.
 Suatu metode u...
MACAM-MACAM LOGIKA
Logika alamiah
 Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang
berpikir secara tepat dan lurus s...
HUKUM DASAR LOGIKA
ARISTOTELES, LEIBNIZ, J.S. MILL
 PRINSIP IDENTITAS
(Principium Identitatis/Law of Identity)
 PRINSIP ...
 FOKUS LOGIKA: MENYUSUN ARGUMEN
 ARGUMEN: SATU PROSES UNTUK
MENDUKUNG PEMIKIRAN (KONKLUSI)
DENGAN ALASAN (PREMIS)
 ARGU...
Sebuah silogisme harus terdiri dari 3
proposisi: premis mayor, premis minor dan
konklusi
 Premis Mayor
Semua mahasiswa ad...
SILLOGISME BISA..
•VALID/INVALID (ALUR
PENALARANNYA)
•BENAR / SALAH
(KEBENARAN/KETEPATAN
PREMIS MAYORNYA)
CONTOH
SILLOGISME YANG SALAH (premis mayornya salah)
 Premis Mayor : Orang keriting itu lebih lucu
 Premis Minor : Lukma...
PREMIS MAYOR Semua penyanyi dangdut
itu menarik
PREMIS MINOR Inul adalah seorang
penyanyi dangdut
KONKLUSI Jadi, Inul adal...
PREMIS
MAYOR
Semua Mahasiswa adalah orang yang
Rajin
PREMIS
MINOR
Tommy adalah mahasiswa saya
KONKLUSI Tommy adalah orang ...
PREMIS MAYOR Semua Muslim Cinta Damai
PREMIS MINOR Semua Takmir Masjid adalah Muslim
KONKLUSI Jadi, semua takmir masjid ci...
PREMIS
MAYOR
Semua anggota DPR tidak setuju BBM
naik
PREMIS
MINOR
Joni adalah anggota DPR
KONKLUSI Jadi, Joni tidak setuju...
PREMIS
MAYOR
Semua anggota PKI bukan warga
negara yang baik
PREMIS
MINOR
Ia bukan seorang warga negara yang
baik
KONKLUSI ...
PREMIS
MAYOR
Eyang Subur adalah Paranormal
PREMIS
MINOR
Eyang Subur memiliki isteri 9
KONKLUSI Paranormal itu memiliki ist...
MODE 1: DEDUKSI
 Cara berpikir dengan menggunakan kriteria atau
suatu pengetahuan tertentu yang bersifat umum
untuk menda...
Modus Ponens
1. Jika A Maka B
2. A
3. Berarti B
 A=ANTASEDEN, B= CONSEQUENT
 MODUS PONENS:ANTASEDEN HARUS DIAFIRMASI,TID...
ModusTollens
1. Jika A maka B
2. Bukan B
3. Berarti BukanA
• CONSEQUENT BISA DIINGKARI,TIDAK BISA DIAFIRMASI
• 1. JIKA SEO...
Hypothetical Syllogism
1. Jika A maka B
2. Jika B maka C
3. Jika A Maka C
1. Jika Anda belajar rajin, maka Anda lulus ujia...
Disjunctive Syllogism
1. A or B
2. Not A
3. B
1. Program komputer ini mempunyai bug,
atau input-nya salah.
2. Input-nya ti...
MODE 2: INDUKSI
 Berpikir dengan cara menyimpulkan sesuatu yang
berangkat dari hal-hal khusus menuju kepada
kesimpulan um...
Pengetahuan
dengan
keumuman
tinggi
Pengetahuan
khusus/spesifik
Pengetahuan
khusus/spesifik
Pengetahuan
khusus/spesifik
Ded...
MODE 3: ABDUKSI
 Aristoteles menyebut abduksi dengan apagoge.
 Abduksi: Jenis inferensi silogistik yang tidak
membawa ke...
 Abduksi adalah: reasoning for the best
explanation_
 Maka contoh di atas harus dipahami:
 Premis mayornya: “penjelasan...
KRITERIA “PENJELASAN TERBAIK”
• PREDICTABILITY: Bisa dipahami untuk
membaca fakta-fakta lain yang sama di masa
depan karen...
MODE 3: GENERALISASI
 Generalisasi dapat dikatakan sama dengan prosedur
berpikir induksi tidak lengkap.
 Metodenya: “dar...
MENGUJI GENERALISASI 1
 Adakah kita telah mengambil sample hal-hal atau
kejadian-kejadian dari kelompok yang diuji dalam ...
MENGUJI GENERALISASI 2
 Adakah pengecualian dalam kesimpulan umum? Apabila ada,
apakah pengecualian tersebut juga diperhi...
MODE 4: KAUSALITAS
[HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT]
 Prosedur berpikir kausalitas ini mengikuti tiga pola berikut: a. Dari
sebab k...
SEBAB_ARISTOTELES
 SEBAB MATERIAL, SEBAB EFISIEN, SEBAB
FORMAL, SEBABTERAKHIR
 MISALNYA: “JAKARTA BANJIR”
 SEBAB MATERI...
SEBELUM MEMASTIKAN SEBAB…
 Adakah sebabnya cukup untuk menghasilkan
akibatnya?
 Adakah sesuatu yang menghalangi sebab
un...
KEKELIRUAN KAUSALITAS
 Post hoc, ergo propter hoc, yakni pemikiran
yang menafsirkan kejadian-kejadian atas
dasar: “sesuda...
MODE 6: ANALOGI
 Analogi sering juga disebut pemikiran melalui
persamaan atau kadang juga disebut qiyas.
 Prosedur berpi...
 Peristiwa pokok yang menjadi dasar.
 Peristiwa prinsipal yg menjadi pengikat
 Peristiwa yg akan dianalogikan
a. Jumlah peristiwa sejenis.
b. Sedikit aspek yang menjadi dasar analogi
c. Sifat analogi yang dibuat
d. Mempertimbangkan ...
MODE 7: KEWIBAWAAN/OTORITAS
 Kewibawaan: sebagai kesaksian/pengetahuan yang
diberikan seseorang atau sekelompok orang yan...
MENGUJI KEWIBAWAAN 1
 Adakah kewibawaannya kita sangsikan?
 Suatu kewibawaan dapat dikatakan tidak
disangsikan jika ia d...
MENGUJI KEWIBAWAAN 2
 Adakah pendidikan dan pengalaman orang ini
benar-benar membuatnya berwenang berbicara
sebagai ahli ...
MENGUJI KEWIBAWAAN 3
 Adakah orang ini menggunakan dasar yang objektif atau
fakta dan alasan yang tepat bagi kesimpulanny...
MENGUJI KEWIBAWAAN 4
 Adakah publik atau orang yang kita ajak bicara
bersedia menerima orang ini sebagai suatu
kewibawaan...
Próxima SlideShare
Cargando en…5
×

7 logika 1

60 visualizaciones

Publicado el

Ilmu Logika

Publicado en: Educación
  • Inicia sesión para ver los comentarios

7 logika 1

  1. 1. LOGIKA 1
  2. 2. PENGERTIAN LOGIKA • Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. • Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.
  3. 3. Logika  Suatu cara pengambilan kesimpulan.  Suatu alat untuk berpikir.  Suatu teknik menyusun argumen.  Suatu metode untuk mengemukakan pendapat secara masuk akal.  Suatu cara mematuhi aturan-aturan hukum berpikir.
  4. 4. MACAM-MACAM LOGIKA Logika alamiah  Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ilmiah  Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas- azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, mengurangi.
  5. 5. HUKUM DASAR LOGIKA ARISTOTELES, LEIBNIZ, J.S. MILL  PRINSIP IDENTITAS (Principium Identitatis/Law of Identity)  PRINSIP KONTRADIKSI (Principium Contradictionis/Law of Contradiction)  PRINSIPTIADA JALANTENGAH (Principium ExclusiTertii/Law of Excluded Middle)  PRINSIP CUKUP ALASAN (Principium Rationis Sufficientis/Law of Sufficinet Reason)
  6. 6.  FOKUS LOGIKA: MENYUSUN ARGUMEN  ARGUMEN: SATU PROSES UNTUK MENDUKUNG PEMIKIRAN (KONKLUSI) DENGAN ALASAN (PREMIS)  ARGUMEN SETIDAKNYA BERISI DUA PROPOSISI (PREMIS) UNTUK KEMUDIAN DISIMPULKAN (KONKLUSI)_PROSES MENARIK KONKLUSI DARI PREMIS DISEBUT INFERENSI  MODEL BERPIKIR/BERARGUMEN INFERENSIAL DISEBUT DENGAN SILOGISME
  7. 7. Sebuah silogisme harus terdiri dari 3 proposisi: premis mayor, premis minor dan konklusi  Premis Mayor Semua mahasiswa adalah orang-orang pintar  Premis Minor Halim adalah mahasiswa  Konklusi Jadi, Halim adalah orang pintar
  8. 8. SILLOGISME BISA.. •VALID/INVALID (ALUR PENALARANNYA) •BENAR / SALAH (KEBENARAN/KETEPATAN PREMIS MAYORNYA)
  9. 9. CONTOH SILLOGISME YANG SALAH (premis mayornya salah)  Premis Mayor : Orang keriting itu lebih lucu  Premis Minor : Lukman Rambutnya Lurus, ‘Ain Rambutnya Keriting  Conclusion : ‘Ain lebih lucu dibanding Lukman. SILLOGISME YANG INVALID (variabel dan alur berpikirnya salah):  Premis Mayor : Semua anjing makan daging  Premis Minor : Joni (nama orang) makan daging  Conclusion : Joni adalah anjing.
  10. 10. PREMIS MAYOR Semua penyanyi dangdut itu menarik PREMIS MINOR Inul adalah seorang penyanyi dangdut KONKLUSI Jadi, Inul adalah seorang yang menarik logis Jadi, Rhoma adalah seorang yang menarik tidak logis
  11. 11. PREMIS MAYOR Semua Mahasiswa adalah orang yang Rajin PREMIS MINOR Tommy adalah mahasiswa saya KONKLUSI Tommy adalah orang yang rajin Logis Semua Mahasiswa bimbingan saya adalah orang-orang yang rajin  Tidak Logis
  12. 12. PREMIS MAYOR Semua Muslim Cinta Damai PREMIS MINOR Semua Takmir Masjid adalah Muslim KONKLUSI Jadi, semua takmir masjid cinta damai
  13. 13. PREMIS MAYOR Semua anggota DPR tidak setuju BBM naik PREMIS MINOR Joni adalah anggota DPR KONKLUSI Jadi, Joni tidak setuju BBM naik
  14. 14. PREMIS MAYOR Semua anggota PKI bukan warga negara yang baik PREMIS MINOR Ia bukan seorang warga negara yang baik KONKLUSI Ia seorang anggota PKI Tidak Logis
  15. 15. PREMIS MAYOR Eyang Subur adalah Paranormal PREMIS MINOR Eyang Subur memiliki isteri 9 KONKLUSI Paranormal itu memiliki isteri 9/banyak Tidak Logis
  16. 16. MODE 1: DEDUKSI  Cara berpikir dengan menggunakan kriteria atau suatu pengetahuan tertentu yang bersifat umum untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang khusus atau spesifik.  Karena deduksi diawali oleh sebuah premis umum maka kebenaran dari hasil kesimpulannya tergantung mutlak kepada benar atau tidaknya premis umum tersebut.  JENIS: MODUS PONENS, MODUS TOLLENS, DISJUNCTIVE SYLLOGISM, HIPOTHETIC SYLLOGISM
  17. 17. Modus Ponens 1. Jika A Maka B 2. A 3. Berarti B  A=ANTASEDEN, B= CONSEQUENT  MODUS PONENS:ANTASEDEN HARUS DIAFIRMASI,TIDAK BOLEH DIINGKARI  1. JIKA SESEORANGADALAH BAPAK, MAKA DIA LAKI-LAKI-- 2. SAYA BAPAK 3. MAKA SAYA LAKI-LAKI (valid)  1. JIKA SESEORANGADALAH BAPAK, MAKA DIA LAKI-LAKI 2. SAYA BUKAN BAPAK 3. MAKA SAYA BUKAN LAKI-LAKI (invalid)
  18. 18. ModusTollens 1. Jika A maka B 2. Bukan B 3. Berarti BukanA • CONSEQUENT BISA DIINGKARI,TIDAK BISA DIAFIRMASI • 1. JIKA SEORANG ADALAH IBU, MAKA DIA ADALAH PEREMPUAN 2. DIA BUKAN PEREMPUAN 3. DIA BUKAN IBU (valid) • 1. JIKA SEORANGADALAH IBU, MAKA DIA ADALAH PEREMPUAN 2. DIA PEREMPUAN 3. MAKA DIA IBU (invalid)
  19. 19. Hypothetical Syllogism 1. Jika A maka B 2. Jika B maka C 3. Jika A Maka C 1. Jika Anda belajar rajin, maka Anda lulus ujian. 2. Jika Anda lulus ujian, maka Anda senang. 3. Dengan demikian, jika Anda rajin belajar, maka Anda senang.
  20. 20. Disjunctive Syllogism 1. A or B 2. Not A 3. B 1. Program komputer ini mempunyai bug, atau input-nya salah. 2. Input-nya tidak salah. 3. Dengan demikian, program komputer ini mempunyai bug.
  21. 21. MODE 2: INDUKSI  Berpikir dengan cara menyimpulkan sesuatu yang berangkat dari hal-hal khusus menuju kepada kesimpulan umum.  Metode berpikir induksi sifatnya spekulatif. Jika diketahui bahwa “Saya butuh makan”, “Evan butuh makan”, “Avi butuh makan”, dan “Willy butuh makan”, maka dengan induksi, kita dapat menyimpulkan bahwa “Semua manusia butuh makan”.
  22. 22. Pengetahuan dengan keumuman tinggi Pengetahuan khusus/spesifik Pengetahuan khusus/spesifik Pengetahuan khusus/spesifik Deduksi Induksi
  23. 23. MODE 3: ABDUKSI  Aristoteles menyebut abduksi dengan apagoge.  Abduksi: Jenis inferensi silogistik yang tidak membawa kepastian. Premis mayor bersifat pasti, sedangkan premis minor tidak pasti, atau sebaliknya. Karena itu kesimpulannya menjadi kurang pasti.  Misalnya: Setiap Kiai memakai Jubah (P. mayor), Ayahku memakai jubah (P. Minor), ayahku seorang Kiai (konklusi)
  24. 24.  Abduksi adalah: reasoning for the best explanation_  Maka contoh di atas harus dipahami:  Premis mayornya: “penjelasan terbaik tentang orang yang memakai jubah adalah seorang Kiai”  Konklusinya yang paling tepat adalah: “penjelasan terbaik dari banyak kemungkinan ayahku yang memakai jubah adalah ia seorang Kiai”
  25. 25. KRITERIA “PENJELASAN TERBAIK” • PREDICTABILITY: Bisa dipahami untuk membaca fakta-fakta lain yang sama di masa depan karena selalu seperti itu • KOHERENSI: Sama dan sesuai untuk semua fenomena/fakta yang sama • SIMPLICITY: lebih sederhana dari kemungkinan-kemungkinan lainnya • FRUITFULNESS: Manfaat/kegunaan nyata
  26. 26. MODE 3: GENERALISASI  Generalisasi dapat dikatakan sama dengan prosedur berpikir induksi tidak lengkap.  Metodenya: “dari beberapa ke semua”.  Generalisasi adalah prosedur berpikir dengan melihat beberapa hal khusus (tidak semuanya) untuk kemudian disimpulkan secara umum.
  27. 27. MENGUJI GENERALISASI 1  Adakah kita telah mengambil sample hal-hal atau kejadian-kejadian dari kelompok yang diuji dalam jumlah yang cukup? Pengujian ini akan menimbulkan pertanyaan tambahan, berapa banyak “jumlah yang cukup itu”?.  Semakin banyak jumlah sample yang diuji, akan dapat menambah kemungkinan (probabilitas) benarnya generalisasi.  Apabila yang dipersoalkan adalah unsur-unsur yang tidak dapat ditentukan, misalnya manusia, maka biasanya yang lahir adalah generalisasi yang tergesa- gesa. Kita harus kritis untuk menyikapi generalisasi seperti: semua orang laki-laki sama saja; orang yang selalu ke mesjid tidak mungkin menjadi jahat; semua orang kaya kikir dan materialis.
  28. 28. MENGUJI GENERALISASI 2  Adakah pengecualian dalam kesimpulan umum? Apabila ada, apakah pengecualian tersebut juga diperhitungkan dan diperhatikan dalam membuat generalisasi?  Apabila jumlah pengecualiannya banyak, kita tidak mungkin dapat membuat generalisasi, tetapi jika hanya terdapat beberapa pengecualian, kita masih dapat membuat generalisasi, asalkan selalu waspada dan hati-hati untuk tidak menggunakan kata-kata seperti “semua” atau “setiap” dan yang sejenisnya dalam generalisasi.  Kata-kata seperti itu hendaknya diganti dengan istilah: pada umumnya, kebanyakan, sebagian, menurut garis besarnya, dan lain sebagainya. Meskipun prosedur yang terakhir ini akan mewujudkan generalisasi yang tidak sempurna, namun telah cukup untuk membentuk satu pemikiran yang valid dalam kejadian-kejadian praktis sehari-hari.
  29. 29. MODE 4: KAUSALITAS [HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT]  Prosedur berpikir kausalitas ini mengikuti tiga pola berikut: a. Dari sebab ke akibat ; b. Dari akibat ke sebab; c. Dari akibat ke akibat  Pemikiran dari sebab ke akibat: berangkat dan suatu sebab yang diketahui lalu disimpulkan akibatnya; misalnya, “hujan lebat sekali”; “aku lupa menutup pintu empang, maka empangnya pasti meluap dan ikan peliharaanku pasti kabur”.  Pemikiran dari akibat ke sebab: berangkat dari akibat yang diketahui menuju sebabnya. Seorang pasien pergi ke dokter karena badannya panas. Badan panas menunjukkan akibat. Selanjutnya tugas sang dokter untuk memastikan apa yang menjadi sebabnya.  Pemikiran dari akibat ke akibat: berangkat dari suatu akibat ke akibat lain tanpa menyebutkan sebab yang menghasilkan keduanya; misalnya: sungai meluap; kemudian kita berpikir: maka empang kita juga pasti meluap. Keduanya berasal dan suatu sebab yang tidak disebutkan, misalnya: hujan yang lebat sekali.
  30. 30. SEBAB_ARISTOTELES  SEBAB MATERIAL, SEBAB EFISIEN, SEBAB FORMAL, SEBABTERAKHIR  MISALNYA: “JAKARTA BANJIR”  SEBAB MATERIAL: SEBAB JAKARTA DIKEPUNG SUNGAI  SEBAB EFISIEN: SEBAB SUNGAI-SUNGAI DI JAKARTA TERSUMBAT ALIRANNYA  SEBAB FORMAL: SEBAB AIR SUNGAIYANG TERSUMBAT KEMUDIAN MELUBER KE PEMUKIMAN  SEBABTERAKHIR: ADA BANJIR AGAR MANUSIA SADAR MENJAGA HARMONI ALAM
  31. 31. SEBELUM MEMASTIKAN SEBAB…  Adakah sebabnya cukup untuk menghasilkan akibatnya?  Adakah sesuatu yang menghalangi sebab untuk menghasilkan akibat tersebut?  Adakah mungkin sebab lain yang menghasilkan akibat tersebut?
  32. 32. KEKELIRUAN KAUSALITAS  Post hoc, ergo propter hoc, yakni pemikiran yang menafsirkan kejadian-kejadian atas dasar: “sesudah ini, maka karena ini”, misalnya: Homo Sapiens (manusia) itu adanya sesudah Pithecanthropus (kera); jadi manusia itu berasal dari kera.  Cum hoc ergo propter hoc, yakni pemikiran yang menafsirkan kejadian-kejadian atas dasar: “bersama itu maka oleh karena itu”; misalnya: bersama dengan turunnya hujan buatan, ikan-ikan mati, maka kemudian disimpulkan karena hujan buatan, ikan-ikan tersebut mati.
  33. 33. MODE 6: ANALOGI  Analogi sering juga disebut pemikiran melalui persamaan atau kadang juga disebut qiyas.  Prosedur berpikir analogi: berangkat dari suatu hal atau kejadian khusus kepada hal atau kejadian khusus lainnya yang semacam, dan menyimpulkan bahwa apa yang berlaku pada hal atau kejadian yang satu, juga akan berlaku pada hal atau kejadian yang lain.  Contoh : Faiz sembuh dari pusing kepalanya setelah minum obat ini, maka Rini juga akan sembuh dari pusing kepalanya jika minum obat ini.
  34. 34.  Peristiwa pokok yang menjadi dasar.  Peristiwa prinsipal yg menjadi pengikat  Peristiwa yg akan dianalogikan
  35. 35. a. Jumlah peristiwa sejenis. b. Sedikit aspek yang menjadi dasar analogi c. Sifat analogi yang dibuat d. Mempertimbangkan unsur yang berbeda. e. Relevan.
  36. 36. MODE 7: KEWIBAWAAN/OTORITAS  Kewibawaan: sebagai kesaksian/pengetahuan yang diberikan seseorang atau sekelompok orang yang relevan dan memiliki otoritas dalam hal yang sedang dibahas.  Alasan: Keterbatasan Pengalaman dan Penalaran Setiap Orang
  37. 37. MENGUJI KEWIBAWAAN 1  Adakah kewibawaannya kita sangsikan?  Suatu kewibawaan dapat dikatakan tidak disangsikan jika ia dengan seksama telah meneliti fakta-fakta dan telah mencapai kesimpulan darinya dengan tidak melibatkan kepentingan pribadi.  Untuk memilih kewibawaan yang tidak disangsikan, kita harus waspada terhadap hal-hal seperti kepentingan khusus, afiliasi partai, keberpihakan kelompok, motif-motif ekonomis, dan berbagai unsur lingkungan dan psikologis yang mungkin membuat pikiran seseorang dapat disangsikan.
  38. 38. MENGUJI KEWIBAWAAN 2  Adakah pendidikan dan pengalaman orang ini benar-benar membuatnya berwenang berbicara sebagai ahli dalam bidang ini?  Dalam dunia yang telah mengenal spesialisasi ilmu seperti abad ke-20 ini, kiranya hampir tidak ada satu pun orang yang menguasai seluruh bidang ilmu.  Jaman kita saat ini adalah jaman dimana kita dapat menerima seseorang sebagai seorang ahli hanya bila orang tersebut mendapat pendidikan spesialisasi khusus dan pengalaman yang mendalam dalam suatu lapangan pengetahuan khusus.
  39. 39. MENGUJI KEWIBAWAAN 3  Adakah orang ini menggunakan dasar yang objektif atau fakta dan alasan yang tepat bagi kesimpulannya.  Apabila seorang ahli mendasarkan pemikirannya kepada keyakinan pribadinya, kita harus bertanya adakah pemikirannya valid, dan apakah pendapat-pendapat yang berlawanan telah dipertimbangkan; apakah dia tidak mencampuradukkan kebenaran dan keyakinan pribadinya?  Salah satu petunjuk terbaik dari integritas suatu kewibawaan adalah kesediaannya memikirkan suatu objek dari berbagai segi, tidak hanya dari satu segi.
  40. 40. MENGUJI KEWIBAWAAN 4  Adakah publik atau orang yang kita ajak bicara bersedia menerima orang ini sebagai suatu kewibawaan?  Apabila tidak, apakah kita telah cukup memiliki informasi dan latar belakang untuk memastikan kapasitasnya sebagai orang yang layak diikuti?  Kewajiban kita ialah memastikan kredibilitas orang-orang yang akan kita buktikan kewibawaannya. Informasi latar belakang tentang kewibawaan ini harus kita masukkan apabila muncul keragu-raguan tentang kewibawaan dari pihak orang yang kita ajak bicara.

×