Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.

Proposal Skripsi

PEMANFAATAN KACANG BAMBARA (Vigna subterranean Verdcourt L) SEBAGAI PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)

  • Inicia sesión para ver los comentarios

  • Sé el primero en recomendar esto

Proposal Skripsi

  1. 1. i Proposal Skripsi PEMANFAATAN KACANG BAMBARA (Vigna subterranean Verdcourt L) SEBAGAI PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) Diusulkan Oleh : BAMBANG SUCITRO NIM 11-122-001 PROGRAM STUDY BUDIDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK 2015
  2. 2. ii PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul : PEMANFAATAN KACANG BAMBARA (Vigna subterranean Verdcourt L) SEBAGAI PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) adalah benar merupakan karya sendiri dan belum digunakan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Gresik, 23 September 2015 BAMBANG SUCITRO NIM. 111 22 001
  3. 3. iii RINGKASAN BAMBANG SUCITRO. 11122001. Program Sarjana Universitas Muhammadiyah Gresik. PEMANFAATAN KACANG BAMBARA (Vigna subterranean Verdcourt L) SEBAGAI PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy). Dosen pembimbing I: Sri Rahmaningsih,S.Pi.,MP. Dosen Pembimbing II:Farikhah,S.Pi.,M.Si. Berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap ikan (Osphronemus gouramy) maka banyak inovasi yang diciptakan untuk meningkatkan produksi. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi ikan adalah dengan menggunakan pakan pelet dengan campuran kacang Bambara sehingga diupayakan bisa meningkatkan laju pertumbuhan ikan lebih singkat. Pemberian pelet dengan kacang Bambara merupakan inovasi di bidang aquakultur kususnya ikan gurami. Pakan merupakan input produksi budidaya yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan ikan, namun sebagian pakan yang diberikan hanya 25% yang dikonversi sebagai hasil produksi dan yang lainya terbuang sebagai limbah. Hal ini sangat mempengaruhi biaya dan waktu yang diperlukan dalam usaha budidaya, maka dari itu pemanfaatan pakan secara maksimal dan penyerapan pakan yang baik sangat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. konversi pakan menjadi tinggi, periode pemeliharaan lebih lama, yang dapat meningkatkan biaya produksi, sehingga dapat menyebabkan menurunnya hasil panen serta kegagalan panen. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2015 di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, antara lain : Perlakuan A : 30% Kacang Bambara, Perlakuan B : 45% Kacang Bambara, Perlakuan C : 60% Kacang Bambara, Perlakuan D : 0% Kacang Bambara, pakan buatan pabrik. Masing-masing ulangan berisi 6 ekor ikan gurami yang berukuran panjang Sampling rata-rata 11-12cm yang ditempatkan dalam kolam beton berukuran 2x2x2 meter sebanyak 3 kolam yang letaknya berjejer. Kualitas air diukur setiap 7 hari sekali yang meliputi pH, suhu dan oksigen terlarut. Setiap minggu sekali air disipon untuk membuang kotoran di dasar kolam.
  4. 4. iv PEMANFAATAN KACANG BAMBARA (Vigna subterranean Verdcourt L) SEBAGAI PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan Pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik Diusulkan Oleh : BAMBANG SUCITRO 111-22-001 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK 2015
  5. 5. v Lembar Pengesahan SKRIPSI Judul : Nama : NIM : PEMANFAATAN KACANG BAMBARA (Vigna subterranean Verdcourt L) SEBAGAI PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) BAMBANG SUCITRO 111-22-001 Diterima dan disahkan Pada tanggal : 5 Agustus 2015 Ka. Prodi ( Ummul Firmani, S.Pi., M.Si ) NIP. 012 1503 172 Pembimbing 1 ( Sri Rahmaningsih, S.Pi., MP. ) NIP. 01 231 203 295 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian ( Ir.Rahmad Jumadi, M.Kes. ) NIP. 196605291993031001
  6. 6. vi KATA PENGANTAR Alhamdulillaahirabbil’aalamin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt karena atas rahmat, hidayah dan karunia-Nya Skripsi yang berjudul ” Pengaruh Pemberian Kacang Bambara (Vigna subterranean Verdcourt L) dalam Pertumbuhan Ikan (Osphronemus gouramy) melalui Pakan Pelet” ini dapat diselesaikan. Penulisan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Budidaya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik. Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih yang setulustulusnya kepada : 1. Sri Rahmaningsih, S.Pi., MP selaku Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan dalam menyelesaikan proposal skripsi ini. 2. Ibu Rusiyem, Saudara-saudara yang selalu member motivasi untuk menyelesaikan proposal skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi Penulis dan juga bagi semua pihak yang memerlukan informasi yang berhubungan dengan tulisan ini. Amin. Gresik, 5 Agustus 2015 (BAMBANG SUCITRO)
  7. 7. vii DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Lamongan, 02 Maret 1988, adalah anak keempat dari lima bersaudara dari ayah bernama Syamsul Hadi (Alm.) dan ibu Rusiyem. Penulis menyelesaikan Pendidikan Dasar di SDN I Padengan Ploso pada 2001. Pada 2004 Penulis berhasil menyelesaikan pendidikan di MTs. Muhammadiyah 30 Padenganploso Setelah menyelesaikan Pendidikan di SMK PGRI Sukodadi Pada tahun 2007 dan Penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Gresik angkatan 2011 di Fakultas Pertanian Program Studi Budidaya Perikanan. Selama kuliah, Penulis pernah aktif dalam organisasi HIMAKUA sebagai Ketua Badan Usaha Milik Himakua (BUMH) 2012/2013, Penulis aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah 2011/2012. Selain itu Penulis perna mengelolah usaha mulai dari warung kopi, warnet dan depo isi ulang yang bekerja sama dengan saudara sekandung, bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di PT. Harapan Jaya, PT. CITRA ADI SARANA dan pekerjaan terakhir di PT. Barata Indonesia. Mengembangkan ilmu yang didapat dari perkuliaan di bidang budidaya perairan, Penulis mengambil judul Tugas akhir di perguruan tinggi (Skripsi) yang berjudul ”Pengaruh Pemberian Kacang Bambara (Vigna subterranean Verdcourt L) dalam Pertumbuhan Ikan (Osphronemus gouramy) melalui Pakan Pelet” Motto Hidup : Jadikanlah Kamu Orang Yang Mampu dan Berilmu
  8. 8. viii DAFTAR ISI COVER ................................................................................................... i Pernyataan mengenai skripsi dan sumber informasi ............................ ii Ringkasan ............................................................................................... iii Lembar pengesahan ............................................................................... vi Kata Pengantar....................................................................................... vii Daftar Riwayat Hidup ............................................................................ viii BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1 1.2 Perumusan Masalah................................................................. 2 1.3 Kerangkah Konsep Penelitian.................................................. 3 1.4 Tujuan Penelitian..................................................................... 4 1.5 Hipotesis.................................................................................. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 5 2.1 Klasifikasi ikan gurami ........................................................... 5 2.2 Morfologi ikan gurami ............................................................ 5 2.3 Jenis–jenis ikan gurami............................................................ 6 2.4 Kebiasaan makanan ................................................................. 7 2.5 Pertumbuhan ikan gurami........................................................ 7 2.6 Kacang Bambara..................................................................... 11 2.7 Kualitas air.............................................................................. 14 2.6.1 Suhu .............................................................................. 14 2.6.2 pH ................................................................................. 15 BAB III METODE PENELITIAN......................................................... 16 3.1 Waktu dan tempat ................................................................... 16 3.2 Rancangan penelitian .............................................................. 16 3.3 Prosedur penelitian.................................................................. 16 3.3.1 Alat dan bahan............................................................... 16 3.3.2 Persiapan kolam............................................................. 16 3.3.3 Penyusunan jaring.......................................................... 16 3.3.4 Adaptasi benih............................................................... 16 3.3.5 Penyusunan formulasi pakan dan pembuatan pakan....... 18 3.3.5.1 Langkah-langkah pembuatan pakan................... 19 3.3.5.2 Proses pembuatan pakan.................................... 19 3.3.6 Percobaan pakan pada ikan .......................................... 21 3.3.7 Penimbangan dan pengukuran panjang ikan ................. 22 3.4.8.1 Renterensi protein............................................. 21 3.4.8.2 Perhitungan bobot mutlak................................. 23 3.4.8.3 Perhitungan panjang mutlak.............................. 23 3.4 Renterensi protein ................................................................... 22 3.5 Efesiensi Pakan....................................................................... 22 3.6 Pertumbuhan Bobot Mutlak..................................................... 23 3.7 Analisi Data ............................................................................ 23 3.8 Jadwal Pelaksanaan Penelitian................................................. 23 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 24
  9. 9. ix DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Ikan Gurami ............................................................................ 5 Gambar 2. Kacang bambara...................................................................... 12 Gambar 3. Lay Out Unit Percobaan........................................................... 16 Gambar 4. Proses penjemuran................................................................... 14
  10. 10. x DAFTAR TABEL Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Ikan Gurami................................................... 9 Tabel 2. Kandungan gizi kacang bambara................................................. 12 Tabel 3. Komposisi Pakan Buatan............................................................. 18 Tabel 3. Jadwal Pelaksanaan Penelitian..................................................... 23
  11. 11. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki pertumbuhan tergolong lambat. Namun ikan ini memiliki keistimewaan terutama pada tekstur dagingnya sehingga banyak digemari konsumen. Hal ini karena harga ikan merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas, nila dan mujair. Namun, masa pemeliharaan ikan (Osphronemus gouramy) mulai dari menetas telur hingga mencapai ukuran konsumsi (500 g/ekor) adalah 1,5 tahun sedangkan pemeliharaan ikan mas dari menetas telur hingga mencapai ukuran 500 g/ekor hanya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan (Pertamawati, 2006). Adapun upaya-upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi tersebut, telah dilakukan oleh (Sarah, 2002) yang meneliti tentang benih ikan untuk ukuran 0,5 cm hingga ukuran 2 cm. Namun dari informasi yang sudah ada masih belum sepenuhnya sesuai dengan yang diharapkan oleh para pembudidaya ikan karena kenyataan di lapangan usaha pendederan benih tersegmentasi berdasarkan ukuran ikan. Para pembudidaya ikan cenderung memilih untuk memelihara ikan yang lebih besar karena ikan yang lebih besar lebih mudah dipelihara. Pakan merupakan input produksi budidaya yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan ikan, namun sebagian pakan yang diberikan hanya 25% yang dikonversi sebagai hasil produksi dan yang lainya terbuang sebagai limbah (Maharani dan Yusrin, 2012). Hal ini sangat mempengaruhi biaya dan waktu yang diperlukan dalam usaha budidaya, maka dari itu pemanfaatan pakan secara maksimal dan penyerapan pakan yang baik sangat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. konversi pakan menjadi tinggi, periode pemeliharaan lebih lama, yang dapat meningkatkan biaya produksi, sehingga dapat menyebabkan menurunnya hasil panen serta kegagalan panen (Kordi dan Ghufran, 2004). Kebutuhan protein nabati dapat dipenuhi oleh tanaman kacang-kacangan antara lain kacang Bambara (Vigna subterranean Verdcourt L). Kacang Bambara
  12. 12. 2 di daerah asalnya Afrika Barat daya dikenal sebagai bambara groundnut. Tanaman ini di Gresik, Jawa Timur disebut sebagai kacang kapri dan dikenal sebagai tanaman yang tumbuh baik di iklim kering, lahan marginal (low input) dan tahan hama penyakit. Kandungan gizinya cukup tinggi yaitu Protein 20.75%, Karbohidrat 59.93%, 5.88% Lemak, 10.43% Air, dan 3.03% abu (Hidayah, 2005). Protein kacang Bambara mengandung lysine tinggi dan akan melengkapi serealia yang rendah lysine apabila dikonsumsi bersama–sama (Hidayah, 2005). Meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap ikan gurami (Osphronemus gouramy) maka banyak inovasi yang diciptakan untuk meningkatkan produksi. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi ikan adalah dengan menggunakan pakan pelet dengan campuran kacang Bambara sehingga diharapkam mampu meningkatkan laju pertumbuhan ikan lebih singkat. Terhadap Pemberian pelet dengan campuran kacang Bambara. Hal ini merupakan inovasi di bidang aquakultur kususnya pertumbuhan ikan gurami. 1.2 Perumusan Masalah Pakan merupakan input produksi budidaya yang sangat menentukan tingkat pertumbuhan ikan, namun sebagian pakan yang diberikan hanya 25% yang dikonversi sebagai hasil produksi dan yang lainya terbuang sebagai limbah. Hal ini sangat mempengaruhi biaya dan waktu yang diperlukan dalam usaha budidaya, maka dari itu pemanfaatan pakan secara maksimal dan penyerapan pakan yang baik sangat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. konversi pakan menjadi tinggi, periode pemeliharaan lebih lama, yang dapat meningkatkan biaya produksi, sehingga dapat menyebabkan menurunnya hasil panen serta kegagalan panen. Kebutuhan protein nabati dapat dipenuhi oleh tanaman kacang-kacangan antara lain kacang Bambara (Vigna subterranean Verdcourt L). Kacang Bambara di daerah asalnya Afrika Barat daya dikenal sebagai bambara groundnut. Tanaman ini di Gresik, Jawa Timur disebut sebagai kacang kapri dan dikenal sebagai tanaman yang tumbuh baik di iklim kering, lahan marginal (low input) dan tahan hama penyakit. Kandungan gizinya cukup tinggi yaitu Protein 20.75%,
  13. 13. 3 Karbohidrat 59.93%, 5.88% Lemak, 10.43% Air, dan 3.03% abu. Protein kacang Bambara mengandung lysine tinggi dan akan melengkapi serealia yang rendah lysine apabila dikonsumsi bersama–sama. Rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah : 1 Bagaimana pengaruh pemberian kacang bambara dapat meningkatkan pertumbuhan ikan gurami? 2 Bagaimana komposisi pakan yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan ikan gurami ? 3 Bagaimana pengaruh pemberiaan kacang bambara sebagai pakan pelet terhadap efisiensi pakan ikan gurami? 1.3 Kerangkah Konsep Penelitian Aklimatisasi benih ikan Pengeringan Kacang Bambara Pembuatan Tepung Kacang Penimbangan bobot awal Penebaran benih Pengujian Pakan Ke Ikan Gurami Pemberian Pakan Kacang Bambara (Selama 60 Hari) Pengukuran suhu dan pH Sampling 1 Minggu Sekali Pencatat Pertumbuhan Setiap Minggunya  Menganalisis Pengaruh Kacang Bambara Terhadap Pertumbuhan Ikan Gurami.  Efisiensi pakan Persiapan Wadah Uji Reterensi Protein Pembuatan Pakan Penyusunan Laporan
  14. 14. 4 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah penggunaan kacang bambara sebagai pakan buatan dalam meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gurami, Komposisi pakan terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan gurami. 1.5 Hipotesis Berdasarkan penjelasan tentang latar belakang dan rumusan di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut : H0 : Diduga pemberian pakan pelet dengan kacang Bambara tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan pada pembesaran ikan gurami H1 : Diduga pemberian pakan pelet dengan kacang Bambara memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan pada pembesaran ikan gurami
  15. 15. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Jangkaru (2002) menyatakan klasifikasi ikan secara lengkap adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Pisces Ordo : Labyrinthici Sub Ordo : Anabantoidae Family : Osphronemidae Genus : Osphronemus Species : Osphronemus gouramy, Lac. Gambar 1. Ikan gurami (Sumber: Dokumentasi Pribadi tahun 2014) 2.2 Morfologi Secara taksonomi, ikan termasuk family Osphronemidae. Ikan ini dapat memijah sepanjang tahun. Ikan memiliki alat pernafasan tambahan berupa labirin sehingga dapat bertahan hidup pada perairan yang kurang oksigen. Secara morfologi, ikan memiliki garis lateral tunggal, lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah (Khairuman dan Amri, 2011) : Sirip punggung (dorsal fin) memiliki 12 buah–13 jari sirip–sirip sirip keras dan 11buah–13 buah jari–jari sirip lunak, Sirip dada (pectoral fin) yang memiliki 2 buah jari–jari sirip yang mengeras dan 13 buah–14 buah jari–jari sirip lunak, Sirip perut (ventral fin) yang memiliki 1 buah jari–jari sirip keras dan 5
  16. 16. 6 buah jari–jari sirip lunak, Sirip anal (anal fin) yang memiliki 9 buah–11 buah jari– jari sirip keras dan 16 buah–22 buah jari–jari sirip lunak, sirip ekor membulat. Jari–jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba, tinggi badan 2,0–2,1 dari panjang standar, pada daerah pangkal ekor terdapat titik hitam bulat, pada ikan muda terdapat garis–garis tegak berwarna hitam berjumlah 8 buah–10 buah, induk jantan ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah tebal dan tidak adanya bintik hitam di kelopak sirip dada, induk betina ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik. 2.3 Jenis–jenis Ikan Gurami Berdasarkan bentuk tubuhnya, dikenal delapan macam jenis (Khairuman dan Amri, 2011) sebagai berikut : Angsa (soang) bentuk badan relatif panjang dengan sisik relatif lebar. Pertumbuhannya bongsor, bisa mencapai 6–12 kg/ekor dengan bobot rata–rata 8 kg dan panjang tubuh 65 cm. Warna tubuh umumnya putih abu–abu dan ini dikenal juga dengan sebutan galunggung, Jepang (Jepun) bentuk badan lebih pendek dan sisik lebih kecil. Bobot sekitar 3,5 kg/ekor dengan panjang 45 cm. Warna tubuh abu–abu kemerahan (ujung–ujung sirip), Blausafir cirinya, tubuh berwarna merah muda cerah. Bobot maksimum yang bisa dicapai hanya sekitar 2 kg. jumlah telur berkisar 5.000–7.000 butir setiap kali pemijahan, Paris memiliki tubuh berwarna merah muda cerah. Kepalanya berwarna putih dengan bintik–bintik hitam. Bobot maksimum bisa mencapai 1,5 kg dengan kemampuan bertelur 5.000–6.000 butir setiap kali memijah, Porselan berwarna merah muda dengan ukuran kepala relatif kecil. Bobot induk sekitar 1,5–2 kg. Porselan unggul dalam menghasilkan sekitar 10.000 butir setiap kali memijah. karena itu, porselan paling banyak dicari oleh pembenih sebagai pilihan. Bastar memiliki sisik yang besar serta warna agak kehitaman dan kepala putih polos. Laju pertumbuhannya lebih cepat, tetapi produksi telurnya hanya 2.000–3.000 butir setiap kali pemijahan, kapas berwarna putih keperakan seperti kapas. Sisiknya kasar berukuran besar. Benihnya cepat berkembang. Bahkan dalam jangka waktu 13 bulan, bobot seekor kapas bisa mencapai 1 kg terhitung sejak menetas. Sekali memijah, kapas dapat menghasilkan sekitar 3.000 butir
  17. 17. 7 telur, Batu memiliki warna hitam yang merata di seluruh tubuhnya. batu memiliki sisik yang kasar. Pertumbuhannya juga lambat. Bobot ikan jenis kapas hanya mampu mencapai 0,5 kg dalam jangka waktu 13 bulan terhitung sejak menetas. 2.4 Kebiasaan Makan Merupakan ikan pemakan hewan dan tumbuhan. Sifat tersebut memungkinkan untuk tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan ikan yang hanya memakan hewan atau tumbuhan saja. Di habitat aslinya ikan gurami, memakan segala macam hewan dan tumbuhan yang hidup di sekitarnya, mulai dari fitoplankton sampai serangga dan daun-daunan lunak (Sutanmuda, 1997). Pakan alami/dedaunan yang diberikan adalah daun sente/talas, ketela pohon, dan kangkung. Pakan alami diberikan kepada ikan gurami berusia dewasa, karena sifatnya sudah berubah menjadi herbivora dan sangat tepat bila diberikan pakan dedaunan. Hal ini sesuai dengan pendapat Mahyuddin (2009), pakan tumbuhan (hijauan) yang disukai oleh ikan gurami dewasa adalah daun talas, sente, daun ketela pohon, daun pepaya dan daun kangkung. Sebagai ikan pemakan tumbuhan, sangat menyukai hijauan berupa daun- daunan, terutama daun yang masih muda. Daun yang paling disukai adalah talas (keladi). Kebiasaan menyabik mangsa dan menyobek daun-daunan sebelum memakannya dapat dilihat dari keberadaan gigi pada bagian rahang (Prihartono, 2007). Untuk pakan alami adalah daun talas, daun pepaya, daun ubi kayu dan kangkung. Saat dibudidayakan, ikan dapat dioptimalkan pertumbuhannya dengan memberinya pellet (Puspowardoyo dan Djariyah, 2002). 2.5 Pertumbuhan Ikan Gurami Pertumbuhan ikan gurami cenderung lambat, hal ini dikarenakan ikan gurami mengalami perubahan kebiasaan makan pada tiap fase perrtumbuhannya yaitu karnivora pada fase satu bulan kehidupannya, omnivora pada fase remaja dan herbivora pada fase dewasa. Pakan yang baik
  18. 18. 8 biasanya pakan dengan kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan karbohidrat karena protein merupakan sumber energi utama bagi ikan. Menurut Khairuman dan Amri (2005), kandungan protein pakan yang memberikan hasil pertambahan berat optimal bagi gurami adalah 32%. Protein merupakan sumber protein hewani yang berasal dari ikan sehingga dapat mudah diserap oleh tubuh ikan. Akan tetapi pada ikan herbivora, karbohidrat pada pakan dapat digunakan dengan lebih efektif sebagai sumber energi dan kelebihannya disimpan dalam bentuk lemak (Kusumah, 2014). Sehingga ikan herbivora dapat memanfaatkan karbohidrat untuk pertumbuhan dengan dibantu oleh enzim pencernaan yang dapat memecah karbohidrat yaitu enzim amilase. Meningkatan aktivitas enzim amilase yaitu dengan memanfaatkan bakteri saluran pencernaan ikan gurami karena bakteri yang terdapat pada saluran pencernaan membantu dalam mencerna pakan. Pakan yang dikonsumsi akan melalui saluran pencernaan terlebih dahulu, dengan demikian kondisi saluran pencernaan memegang peranan penting dalam mengubah senyawa kompleks dari pakan menjadi nutrien sederhana yang kemudian akan dimanfaatkan ikan sebagai sember energi (Zulfa dkk., 2003). Bakteri yang digunakan berasal dari saluran pencernaan ikan gurami (indigeneous) karena memiliki hubungan mutualisme dengan inangnya. keunggulan bakteri indigeneous yaitu kesesuaian habitat, baik dengan bakteri patogen maupun dengan ikan di lokasi budidaya tersebut (Verschuere dkk., 2000). Sehingga perlu dilakukannya kajian isolasi (penapisan) bakteri dari usus ikan gurami sebagai upaya untuk mendapatkan bakteri indigeneous berupa kandidat bakteri penghasil enzim amilase yang berpotensi untuk meningkatkan kinerja saluran pencernaan ikan gurami dalam memecah sumber karbohidrat pada pakan Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) Pakan buatan untuk ikan gurami (Osphronemus goramy, Lac.). Adapun kebutuhan nutrisi pakan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan gurami dapat dilihat pada Tabel 1.
  19. 19. 9 Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Ikan Gurami No. Parameter Satuan Persyaratan Ukuran ikan 3cm-5cm Ukuran ikan 5cm-15cm Ukuran ikan <15cm 1 Kadar air, maks. % 12 12 12 2 Kadar abu, maks. % 12 12 13 3 Kadar protein, min % 38 32 28 4 Kadar lemak, min. % 7 6 5 5 Kadar serat kasar, maks. % 5 6 8 6 Nitrogen bebas (NAmoniak), maks. % 0.20 0.20 0.20 7 Diameter pakan mm 1-2 2-3 3-6 8 Kandungan cemaran mikroba/toksin  Aflatoksin, maks.  Kapang, maks.  Salmonella ppb kol/g kol/g 50 50 neg 50 50 neg 50 50 neg 9 Kandungan antibiotik ppb 0 0 0 Sumber : SNI 7473:2009 Pertumbuhan ikan gurami dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran ikan, umur ikan, kualitas protein, kandungan energi pakan, suhu air dan tingkat pemberian pakan (Suhenda dkk, 2003). Nematipour dkk, (1992) mengemukakan bahwa tingginya energi dalam pakan menyebabkan terjadinya akumulasi atau deposit lemak yang tinggi pada tubuh ikan. Disamping kadar protein, faktor lain yang juga perlu diperhatikan dalam pakan ikan adalah adanya keseimbangan yang tepat antara energi dan protein pakan. Kebutuhan ikan akan energi diharapkan sebagian besar dipenuhi oleh nutrien non-protein seperti lemak dan karbohidrat, apabila energi yang berasal dari sumber nonprotein cukup tersedia maka sebagian besar protein akan dimanfaatkan untuk tumbuh, namun apabila energi dari nonprotein tidak terpenuhi maka protein akan digunakan sebagai sumber energi sehingga fungsi protein sebagai pembangun tubuh akan berkurang (Adelina, 2000). Kebutuhan pakan berenergi begitu penting dalam menejemen kualitas pakan. Ikan membutuhkan energi untuk pertumbuhan, aktivitas hidup dan perkembangbiakan. Ikan menggunakan protein sebagai sumber energi yang
  20. 20. 10 utama, sumber energi kedua yang digunakan adalah lemak, sedangkan karbohidrat menjadi sumber energi yang ketiga (Yuwono, 2003). Pengembangan budidaya perikanan dapat dilaksanakan jika aspek pakan untuk jenis ikan tersebut diketahui, sehingga para pelaku usaha perikanan dapat menentukan formulasi pakan yang tepat dengan berpedoman pada kebutuhan nutrien dan mutu bahan makanan. Nutrien tersebut digunakan untuk sintesis (anabolisme) dan sebagai sumber energi (katabolisme) (Yuwono, 2003). Hal ini berpengaruh terhadap efisiensi pakan. Efisiensi pakan menjadi hal penting karena menunjang keuntungan para pelaku usaha perikanan. Efisiensi pakan merupakan penambahan berat basah ikan per unit berat kering pakan. Efisiensi pakan digunakan untuk mengetahui seberapa besar kenaikan bobot basah tubuh ikan dengan pakan yang dikonsumsi sebanyak satu gram. Efisiensi pakan dapat diketahui dengan melihat nilai rasio efisiensi pakan (Purwanto, 2007). Menurut Haetami dkk, (2008), kebutuhan protein ikan dipengaruhi oleh tingkat pemberian pakan dan kandungan energinya, sedangkan jumlah pemberian pakan dipengaruhi oleh kapasitas saluran pencernaan ikan, jika tingkat energi protein melebihi kebutuhan maka akan menurunkan konsumsi sehingga pengambilan nutrien lainnya termasuk protein akan menurun. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan yang tepat antara energi dan protein agar dicapai keefisienan dan keefektifan pemanfaatan pakan. Protein merupakan zat yang dibutuhkan untuk pemeliharaan tubuh, pembentukan jaringan, penggantian jaringan-jaringan tubuh yang rusak, serta penambahan protein tubuh dalam proses pertumbuhan (Suhenda dkk, 2005). Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk menghasilkan tenaga maupun untuk pertumbuhan. Bagi ikan, protein merupakan sumber tenaga yang paling utama, mutu protein dipengaruhi oleh sumber asalnya serta oleh kandungan asam aminonya (Mudjiman, 2008). Kandungan asam amino dalam daging ikan sangat bervariasi, tergantung pada jenis ikan. Pada umumnya, kandungan asam amino dalam daging ikan kaya lisin, tetapi kurang kandungan triptofan (Junianto, 2003). Hal ini membuktikan bahwa protein memang komponen pakan yang sangat penting, akan tetapi kelebihan dalam pakan dapat mengakibatkan gejala kelebihan protein (excessive
  21. 21. 11 protein syndrome). Rasio efesiensi protein dapat digunakan untuk menilai kualiatas protein suatu bahan karena efesiensi protein adalah banyaknya protein yang dapat diretensi oleh ternak dan digunakan untuk pertumbuhan atau produksi. 2.6 Kacang Bambara (Vigna subterranean Verdcourt L) Kacang Bambara (Fachruddin, 2000) anggota famili Leguminoceae / Papilionaceae, subfamili Papilionoidae, genus Vigna dan spesies Vigna subterranea Verdcourt L, mempunyai jumlah kromosom 2n=2x=22 pasang kromosom (2n=22). Kacang Bambara termasuk tanaman menyerbuk sendiri. Bunga hampir sama dengan bunga kacang panjang, baik bentuk, susunan maupun warnanya. Penyerbukan sendiri pada kacang Bambara sangat didukung oleh struktur bunganya. Kacang Bambara cocok tumbuh sampai ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut. Sebagai salah satu jenis kacang tanah, persyaratan hidup kacang Bambara, mirip tanaman kacang tanah. Suhu rata-rata tahunan yang dibutuhkan 19-270 C, dengan penyinaran matahari yang cukup. Curah hujan yang dikehendaki berkisar antara 500-3.500 mm per tahun (Astawan, 2009). Penanaman di dataran rendah banyak dilakukan di Indonesia. Salah satu kelebihan kacang Bambara adalah kemampuannya untuk hidup di tanah dengan unsur hara yang minim dan kurang air. Kemampuan tersebut menjadikan tanaman ini mampu tumbuh dan banyak dikembangkan di daerah kering Afrika tropis (Astawan, 2009). Sebagai tanaman kacang-kacangan, tanaman kacang Bambara juga dapat mengikat nitrogen melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium seperti halnya sifat tanaman kacang-kacangan lainnya (Ntundu dkk., 2004). Kacang bambara (Vigna subterranea) atau kacang bambara, merupakan salah satu sumber pangan alternatif di Indonesia. Kacang bambara berasal dari Afrika, kemudian berkembang di kawasan Amerika. Saat ini, kacang bambara telah menyebar ke Sukabumi, Majalengka, Tasikmalaya, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur (Gresik), Lampung, NTB dan NTT (Rahmat dan Rukmana, 2000). Berbeda dengan tanaman legume pada
  22. 22. 12 umumnya, kacang bambara lebih adaptif dan toleran pada daerah yang kurang subur (Stephens, 2003). Budidaya kacang bambara banyak ditemukan Jawa Barat, Banten dan pesisir utara Jawa Timur. Distribusi tanaman yang banyak ditemukan di kota Bambara dan kota Gresik. Penanaman di sekitar bambara menyebabkan tanaman ini dinamakan kacang bambara, sedangkan di Gresik biasa disebut dengan nama kacang kapri. Berbagai publikasi internasional, menyebutkan kacang bambara dengan nama bambara groundnut (Liu, 2011). Dalam perkembangan selanjutnya, tanaman kacang bambara tersebar ke Sukabumi dan Bandung. Sebagian masyarakat menyebut kacang tersebut dengan nama kacang Bandung (Rahmat dan Rukmana, 2000). Gambar 2. Kacang bambara (Referensi : kesehatandia.blogspot.com/2014) Bentuk Polongnya yang berbentuk membulat, berkerut-kerut, dengan panjang 1 - 1,5cm. satu polong biasanya berisi satu biji, atau dua biji. Bentuk bijinya membulat, halus, dan keras jika telah masak dan kering. Warna biji krem, coklat, merah, atau bertutul-tutul. Kandungan protein pada biji kacang bambara berkisar 14 - 24% dan karbohidrat 60%. Proteinnya kaya asam amino metionin. Biji kacang bambara hanya mengandung 6-12% minyak, sekitar separuh dari kandungan minyak kacang tanah. Menurut (Rahmat dan Rukmana, 2000). Tabel 2. Kandungan Gizi Kacang Bambara Zat gizi per 100 gr Jumlah Enegi (kkal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) 370 16.0 6.0 65.0 85 264 4.2 Sumber: (Direktorat Gizi Depkes RI 2000 : 10)
  23. 23. 13 Mencukupi kebutuhan pakan nabati, bisa disediakan berbagai jenis hijauan seperti daun sente, kangkung, daun ubi kayu, tanaman air atau daun tanaman darat yang lunak dan masih muda. Pemberian daun sente (Alocasia machoriza), sejenis talas-talasan menunjukkan pertumbuhan yang paling baik (Agus, 2001). Kadar protein yang optimal untuk pertumbuhan benih ikan gurami adalah 43,29% untuk ukuran 0,15-0,18 g/ekor. Sedangkan pada ikan gurami berukuran 27-35 g/ekor dibutuhkan kadar protein 32,14% (Yulfiperius, 2003). Penggunaan pakan yang sesuai akan mampu meningkatkan produktifitas dan keuntungan dalam budidaya perikanan serta mengurangi buangan atau pun dampak yang bisa ditimbulkan bagi lingkungan budidaya (Komang, 2010). Menurut Jangkaru (2004), Lemak secara normal dicerna cukup baik = 8,5 kcal ME/gram. Ikan membutuhkan lemak sebagai : a. Sumber energi dan untuk memelihara bentuk dan fungsi membran/jaringan (phospolipid). b. Cadangan energi untuk kebutuhan energi jangka panjang selama periode yang penuh aktifitas atau tanpa makan dan menjaga keseimbangan dan daya apung ikan di dalam air. Peranan lemak bagi ikan adalah sebagai sumber energi diurutan kedua setelah protein. Lemak dalam makanan ikan mempunyai peran yang penting sebagai sumber energi karena lemak dapat mengahasilkan sumber energi yang lebih besar (Mudjiman, 2008). Menurut Reezky (2012), mineral pada ikan diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang, gigi, dan bahkan sisik. Mineral utama yang diperlkukan adalah kaslium dan fosfor. Selain itu mereka juga memerlukan besi, iodine, magnesium, natrium, kalium, tembaga dan seng. Kalsium dapat dijumpai pada air-air berkesadahan tinggi, sedangkan fosfor bisa dijumpai pada tanaman air. Aspek fisiologi pencernaan dan pakan merupakan faktor penting untuk memacu pertumbuhan, karena menurut Wiadnya, dkk (2000), lambatnya pertumbuhan diduga disebabkan dua faktor utama, yaitu :
  24. 24. 14 a. Kondisi internal ikan sehubungan dengan kemampuan ikan dalam mencerna dan memanfaatkan pakan untuk pertambahan bobot tubuh. Benih ikan nila gift merupakan ikan yang termasuk hasil perbaikan genetika dari ikan mujair dan ikan nila, sehingga potensi tumbuhnya lebih baik. b. Kondisi eksternal pakan, yang formulasinya belum mengandung sumber nutrien yang tepat dan lengkap bagi ikan sehingga tidak dapat memacu pertumbuhan pada tingkat optimal. 2.7 Kualitas Air Air keruh menyebabkan ikan kekurangan oksigen, nafsu makan berkurang, batas pandang ikan berkurang serta tertutupnya insang oleh partikel lumpur. Menurut (Khairuman dan Amri, 2012), paling menyukai perairan yang jernih, tenang dan tidak banyak mengandung lumpur. Kecerahan air optimum yang dapat menunjang kehidupan ikan yaitu 40-60 cm (Badan Standardisasi Nasional, 2006). Lesmana (2001) menyatakan peran air adalah sebagai media, baik sebagai media internal ataupun eksternal. Sebagai media internal air berfungsi sebagai bahan baku untuk reaksi di dalam tubuh, pengangkut bahan makanan ke seluruh tubuh dan pengatur atau penyangga suhu tubuh dan media eksternal Sebagai media eksternal air berfungsi sebagai habitatnya. 2.7.1 Suhu Air Kisaran suhu yang optimum bagi kehidupan ikan adalah 25-52 ºC (Kordi, 2004). Menurut Sitanggang dan Sarwono (2002), suhu air untuk budidaya adalah 24-28 ºC. Penyebaran suhu dalam perairan dapat terjadi karena adanya penyerapan angin dan aliran tegak. Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu adalah : letak ketinggian dari permukaan laut (altitude), musim, cuaca, waktu pengukuran dan kedalaman air.
  25. 25. 15 2.7.2 pH (point of Hydrogen) pH air menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam larutan tersebut dan menyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu (Kordi, 2004). Dengan demikian, nilai pH suatu perairan akan menunjukkan apakah air bereaksi asam atau basa. Air merupakan kombinasi dari hidrogen dan oksigen dengan perbandingan dua atom hydrogen dan satu atom Oksigen. Nilai maksimal untuk derajat keasaman adalah 14 (Lesmana, 2001). (Zonneveld dkk, 1991) melaporkan bahwa nilai pH yang baik untuk budidaya ikan pada kolam air tenang adalah 6,7–8,2. Ikan akan tumbuh dengan baik pada kisaran pH antara kisaran optimal adalah pH 7,5–8,5 (Ghufran dan Tancung, 2007). .
  26. 26. 16 BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan September-November 2015 di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik. 3.2 Rancangan Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, Dosis kacang bambara yang diberikan pada masing-masing perlakuan antara lain : Perlakuan A : 30 mg/kg pakan Kacang Bambara Perlakuan B : 45 mg/kg pakan Kacang Bambara Perlakuan C : 60 mg/kg pakan Kacang Bambara Perlakuan D : 0 mg/kg pakan Kacang Bambara, pakan buatan pabrik. Model percobaan yang digunakan dalam penelitian inimengikuti Steel dan Torrie (1991) yaitu : Yij = μ+ σi + εij Keterangan : Yij = Data hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j μ = Nilai tengah dari pengamatan σi = Pengaruh aditif dari perlakuan ke-i εij = Pengaruh galat hasil percobaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Masing-masing ulangan berisi 6 ekor ikan gurami yang berukuran panjang rata-rata 17 cm dan berbobot ± 100 g yang ditempatkan dalam kolam beton berukuran 2x2x2 meter sebanyak 3 kolam yang letaknya berjejer. Kualitas air diukur setiap 7 hari sekali yang meliputi pH, suhu dan oksigen terlarut. Setiap minggu sekali air disipon untuk membuang kotoran di dasar kolam. Unit percobaan ditempatkan secara acak dan layout percobaan pada Gambar 2. 3.1 3.2 3.3Gambar 3. Layout unit percobaan C3 B1 D2 B3 A2 D1 C1 A1 B2 D3 C2 A3
  27. 27. 17 Rancangan acak Lengakap (RAL) adalah suatu rancangan acak yang dilakukan dengan mengelompokkan satuan percobaan ke dalam grup-grup yang homogen yang dinamakan kelompok dan kemudian menentukan perlakuan secara acak di dalam masing-masing kelompok. Rancangan acak kelompok biasanya digunakan pada percobaan yang tempat , kondisi lingkungannya, atau keadaanya berbeda. Tujuan pengelompokan satuan-satuan percobaan adalah untuk membuat keragaman satuan-satuan percobaan di dalam masing-masing kelompok sekecil mungkin (Rahmawati, 2008). 3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Alat dan Bahan Alat–alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain mesin pencetak pelet, kolam beton ukuran 2x2x2 meter sebanyak 3 kolam, timbangan digital, penggaris, nampan, jaring ikan, kayu bambu, toples dan botol sprayer. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain ikan gurami berbobot ± 100 g sebanyak 60 ekor, kacang bambara, tepung terigu, pakan pabrik, dan probiotik. 3.3.2 Persiapan Kolam Kolam yang akan digunakan disterilkan terlebih dahulu menggunakan kaporit sebanyak 120 ppm. Setelah diberi kaporit, kolam dikeringkan selama ± 24 jam untuk menguapkan bau kaporit dan gas beracun. Selanjutnya, kolam diisi air tawar yang bersumber dari PDAM setinggi ± 40 cm dan diberi aerasi. Enceng gondok dan batu-batuan disusun di dalam kolam untuk membuat ikan nyaman. Setelah 24 jam, ikan bisa dimasukkan ke dalam kolam dengan diadaptasikan terlebih dahulu. Setiap kolam diisi 6 ekor ikan gurami. 3.3.3 Penyusunan Jaring Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan ikan gurami adalah kolam beton 2cm x 2 cm x 2cm sebanyak 3 unit dan dipetak-petak masing- masing kolam menjadi 4 bagian menggunakan jaring sehingga satu petaknya
  28. 28. 18 berukuran 1cm x 1cm x 1cm dan diisi air masing-masing (ketinggian 1.5 m), serta ditempatkan termostat dan aerasi untuk suplai oksigen. 3.3.4 Adaptasi Benih Dalam penelitian ini digunakan ikan uji berupa benih ikan gurami dengan ukuran panjang rata-rata 11cm-13cm yang didatangkan dari Desa Surowono, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ikan kemudian ditebar dengan kepadatan 5 ekor/m pada setiap perlakuan. Selama tiga hari ikan uji tidak diberi perlakuan terlebih dahulu. Selanjutnya pada hari ke empat dilakukan pengambilan sampel awal berupa biomassa ikan awal dengan pengambilan sampel 30 % dari setiap perlakuan. Benih selanjutnya dipelihara selama 60 hari. 3.3.5 Penyusunan Formulasi dan Pembuatan Pakan Formulasi komposisi pakan dibuat berdasarkan persentase kebutuhan masing-masing bahan yang diinginkan dan hasilnya dicantumkan dalam Tabel 1. Tabel 3. Komposisi pakan percobaan No. Bahan (gr) Ransum (gr) A B C D 1 Kacang bambara 30 45 60 0 2 Dedak halus 376.92 325.04 273.16 0 3 Tepung terigu 10 10 10 0 4 Jumlah Protein 32% 32% 32% 32% Proses pembuatan pakan diawali dengan penghalusan bahan, kemudian pengayakan, pencampuran, pengukusan, pencetakan, pengeringan dan pengemasan. Penghalusan bahan dilakukan dengan menggunakan mesin penepung maupun blender. Setelah halus, bahan diayak untuk menyamakan ukuran partikel. Tujuan dari penepungan dan pengayakan adalah agar pada waktu dicampur bahan pakan bisa tercampur merata dan menjadi rekat. Setelah pengayakan, dilakukan pencampuran bahan, dimulai dari bahan yang jumlahnya sedikit sampai bahan yang jumlahnya banyak dengan menambahkan sedikit air. Selanjutnya, bahan dikukus dan dicetak menggunakan mesin pencetak pellet. Kemudian, pakan dijemur dengan menggunakan oven pada suhu 30o C sampai kadar airnya sekitar 10%. Setelah kering, pakan disimpan dalam wadah plastik kering dan diletakkan ditempat yang tidak lembab agar tidak jamuran.
  29. 29. 19 3.3.5.1 Langkah - langkah Pembuatan Pakan Proses pembuatan pakan secara berturut-turut adalah sebagai berikut : a. Penurunan ukuran partikel (penepungan) b. Pencampuran awal (pre mixing) c. Pelleting d. Pengemasan e. Penyimpanan 3.3.5.2 Proses Pembuatan Pakan Alat Bahan a Wadah plastik b Pemberat c Pengayak d Kolam beton e Timbangan analitik. a Kacang bambara b Dedak c Tepung terigu d Vitamin Langkah kerja a Pengeringan Kacang Bambara Kacang bambara direbus dengan air + 10 menit, setelah itu ditiriskan agar air cepat menguap dan dikeringkan sampai benar-benar kering agar saat proses penghalusan tidak membutuhkan waktu lama. b Penepungan (Grinding) Bahan baku yang akan digunakan dihancurkan sehingga menjadi tepung dengan menggunakan alat berupa penggiling tepung. Alat yang digunakan dapat berupa penggiling jagung, penggiling kopi, dan alat penggiling daging. Alat penggiling jagung digunakan untuk menggiling bahan baku yang kasar menjadi tepung halus (Murtidjo, 2001). Peralatan yang digunakan pada proses penepungan menggunakan saringan adalah menggunakan alat penepung disc mill (gambar 5) dan hammer mill (gambar 6). Disc mill adalah alat penepung yang bekerja dengan cara berputarnya suatu pasangan piringan logam baja yang satu berputar sedangkan yang lainnya
  30. 30. 20 sebagai landasan. Hammer mill adalah alat penepung yang bekerja dengan cara prinsip palu, yaitu memukul suatu bahan baku yang akan ditepung sampai bahan hancur menjadi tepung (Irma, 2008). c Pengayakan Alat ini berfungsi untuk menyaring bahan yang digiling dari alat disk mill sehingga ukuran bahan menjadi seragam dan akan memudahkan pengolahan selanjutnya. Sebaiknya menggunakan ukuran mash yang kecil sehingga bagian yang masih kasar akan digiling kembali (Gunawan, 2010). d Penimbangan Alat penimbang dan penakar penting untuk mengetahui jumlah tiap-tiap bagian dalam suatu susunan ransum. Bahan dalam jumlah sedikit ditimbang dengan timbangan emas. Timbangan yang lebih teliti lagi adalah timbangan atau neraca analitis (Masyamsir, 2001). Masing-masing bahan yang akan dipakai untuk membuat pakan dan telah berbentuk tepung kering lalu diambil dan ditimbang satu persatu sesuai dengan formulasi yang telah ditentukan. Penimbangan dilakukan menggunakan timbangan analitik dengan sensitifitas sebesar 0,1 gram. Bahan-bahan yang telah sesuai dengan takaran yang ditentukan lalu ditampung kedalam ember atau plastik secara terpisah untuk selanjutnya dilakukan pencampuran. e Pencampuran Proses pencampuran bahan baku harus dilakukan dengan cara mencampur bahan baku yang jumlahnya paling sedikit kemudian secara bertahap ditambahkan jenis bahan baku lainnya yang jumlahnya semakin banyak dengan tujuan agar semua bahan baku tersebut dapat tercampur secara homogen (Gusrina, 2008). Pencampuran bahan dengan mengunakan air hangat secukupnya dengan dibantu alat sendok.
  31. 31. 21 f Pencetaan Alat pencetak adalah alat yang digunakan untuk mencetak pakan buatan. Alat pencetak (pelleting) mengunakan alat penggiling daging. g Pengeringan Alat pengering berfungsi untuk mengeringkan bahan baku dan pakan yang sudah jadi. Menurut Afrianto dan Liviawaty (2005), proses pengeringan pakan buatan dengan menggunakan alat pengering khusus lebih menguntungkan sebab tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca, lebih bersih, dan lebih cepat. h Penyimpanan Pakan kering dapat disimpan dalam beberapa ukuran, untuk jumlah yang sedikit dapat menggunakan stoples, sedangkan jika jumlahnya agak banyak menggunakan drum plastik yang bertutup atau disimpan di dalam karung plastik (bagor). Pakan kering lebih baik disimpan dalam tempat yang kering dan tidak lembab (Mudjiman, 2004). Fasilitas penyimpanan yang tidak memadai akan menyebabkan penurunan kualitas pakan, dan berakibat pada pertumbuhan ikan yang buruk, kekurangan nutrisi, masalah kesehatan ikan dan mungkin kematian ikan yang tinggi. Hal-hal tersebut merugikan usaha budidaya (Sugama dkk, 2001). 3.3.6 Percobaan pakan ke ikan gurami Pakan perlakuan A, B, C dan D diberikan ke ikan gurami sebanyak 5% dari bobot ikan keseluruhan dalam satu kolam. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari selama 90 hari. Pakan diberi campuran probiotik sebanyak 3 ml/kg pakan setiap 5 hari sekali. 3.3.7 Penimbangan dan pengukuran panjang ikan gurami Kegiatan sampling biomassa untuk mengamati meningkatnya bobot ikan baik kontrol maupun ikan yang diberi perlakuan dengan Pakan Buatan. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan jumlah individu dalam populasi satu unit kolam, jika jumlah ikan lebih dari 50 ekor/kolam maka sampling 10% dan apabila
  32. 32. 22 jumlah ikan dalam satu kolam kurang dari 50 ekor/kolam maka sampling 30%. Pada kegiatan ini Sampel ikan ditentukan 30% dari ikan uji yang berjumlah total 60 Ekor. Penimbangan bobot dan pengukuran panjang ikan dilakukan setiap 1 minggu pada seluruh ikan. Jumlah pakan yang akan diberikan disesuaikan dengan pertambahan bobot ikan. Variabel penelitian yang diukur antara lain : 3.4 Renterensi Protein Efisiensi retensi protein pada ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor endogen dan eksogen (Halver dan Hardy, 2002). Salah satu faktor utama yang berhubungan dengan efisiensi diet adalah Protein untuk rasio Energi (P / E). Parameter ini harus diestimasi untuk jenis ikan tertentu dan tahapan. Ketika diet memiliki kelebihan protein, akan digunakan sebagai sumber energi, bukan pertumbuhan tubuh. Sebaliknya, diet dengan kelebihan energi dan kekurangan protein dapat mengurangi konsumsi pakan dan mempengaruhi pertumbuhan (NRC, 2011). Perhitungan renterensi protein meliputi sebagai berikut : Ikan sampel awal tebar, ikan sampel akhir tebar, kadar pakan kacang bambara (30mg/pakan, 45 mg/pakan dan 60mg/pakan). Rumus Retensi Protein menurut Watanabe et al. (2001) dihitung dengan rumus sebagai berikut : Retensi Protein = Pertambahan protein tubuh (g) Protein yang terkonsumsi (g) 3.5 Efisiensi Pakan Nilai efisiensi pakan dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut (Takeuchi, 1988): EP = {[(Wt + D) - Wo] / F} x 100% Keterangan : EP : Efisiensi pakan (%) F : Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan (g) Wt : Biomassa akhir pemeliharaan (g) Wo : Biomassa awal pemeliharaan (g) D : Biomassa ikan mati (g) x 100%
  33. 33. 23 3.6 Pertumbuhan Bobot Mutlak Pertumbuhan bobot mutlak adalah pertambahan berat ikan setiap harinya selama pemeliharaan. Pertambahan bobot mutlak ditunjukkan dalam satuan gram/hari. Rumus mencari pertumbuhan bobot mutlak : GR = (Wt-Wo)/t Keterangan : GR = Pertumbuhan Bobot Mutlak (g/hari) Wt = bobot rata-rata ikan pada waktu ke-t (g) Wo = Bobot rata-rata ikan pada saat awal (g) t = waktu pemeliharaan (hari) 3.7 Analisis Data Data laju pertumbuhan harian, konversi pakan, pertumbuhan bobot mutlak dan pertumbuhan panjang mutlak dianalisis menggunakan analisis sidik ragam atau (One Way ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Jika terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan maka, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) 5%. Keeratan hubungan antar variable dianalisis dengan uji korelasi. 3.8 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tabel 4. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tahapan Bulan dalam Tahun 2015 Agustus September Oktober Nofember Desember Pembuatan proposal penelitian Persiapan alat dan bahan Adaptasi ikan dan pelaksanaan penelitian Analisis data dan laporan hasil penelitian
  34. 34. 24 DAFTAR PUSTAKA Ahmad, T. Ratnawati, E. dan R. Yakob. 1998. Budidaya Bandeng Secara Intensif. Penebar Swadaya. Jakarta. 85 hal. Adelina,. I. Mokoginta., R. Affandi., D. Jusadi. 2000. Pengaruh Kadar Protein dan Rasio Energi Protein Pakan yang Berbedaterhadap Kinerja Pertumbuhan Benih Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum). Pert. Indo. Vol. 9(2). Afrianto, E dan E. Liviawati. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta. Hal 37- 141. Astawan, M. 2009. Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji-bijian Penebar Swadaya : Jakarta. Agus. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Kanisius. Amri, Khairul dan Khairuman. 2005. Budidaya Ikan Nila secara Intensif (Cetakan Keempat). PT Agromedia Pustaka. Jakarta Selatan. Borkenau, P. & Ostendorf, F. 1993.NEO-Fünf-Faktoren Inventar (NEO-FFI) nachCosta und McCrae. Göttingen: Hogrefe. Preis DM 84. Badan Standarisasi Nasional [BSN]. 2000. SNI: 01–6484.4–2000: Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus X C fuscus) kelas benih sebar. 6 hal. Bugri. 2006. Pengaruh padat penebaran terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan (Osphronemus goramy Lac). ukuran 2 cm. Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Institut Pertanian Bambara. hlm 17. Darmawangsa, M. G. 2008. Pengaruh Padat penebaran 10, 15, 20 Ekor/Liter terhadap Kelangsunga Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan (Osphronnemus gouramy lac). Ukuran 2cm. Skripsi. Institut Pertanian Bambara. Bambara. Fachruddin, L. 2000. Budi Daya Kacang-kacangan. Kanisius : Yogyakarta. Ghufran. M, dan Tancung, A.B. 2007 Oktober 2001. Budidaya ikan . Jogyakarta. Agromedia Pustaka. Gunawan, D. 2010. Pedoman Pembangunan Pabrik Pakan Skala Kecil Dan Proses Pengolahan Pakan. Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta. 30 hal.
  35. 35. 25 Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. 491 hal. Halver, J.E. 2002. The vitamins. In J.E. Halver & R.W. Hardy, eds. Fish nutrition, 3rd Edn., pp. 61–141. New York, Academic Press Inc. Haetami RR.2008. Karakteristik surirni hasil pengkomposisian tetelan ikan kakap merah (Lutjanus sp) dan ikan layang (Decapterus sp) pada penyimpanan beku. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan clan Ilmu kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hidayah, T. 2005. Pengaruh suhu proses ekstrusi dan campuran ubijalar merah dengan kacang Bambara terhadap beberapa karakteristik fisik ekstrudat. Jurnal Teknologi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang 6(2):121-130. Irma, H. 2008. Teknik Pembuatan Pakan Ikan Apung Di CV. Mentari Nusantara Feedmill. Praktek Kerja Lapang. Tulungagung. Jawa Timur. 67 hal. Jangkaru, Z. 2002. Pembesaran Ikan Air Tawar di Berbagai Lingkungan Pemeliharaan. Jakarta : Penebar Swadaya. 96 hal. Jangkaru, Z. 2004. Memacu Pertumbuhan Gurami. Penebar Swadaya. Jakarta. Junianto, (2003), Teknik Penanganan Ikan, Penebar Swadaya, Jakarta Yuwono, E., P. Sukardi dan SulistyoI.. 2005. Konsumsi dan Efisiensi Pakan pada Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) yang Dipuasakan Secara Periodik. Berkala Penelitian Hayati 19 (2): 129-132. Khairuman, H. dan Amri K. 2012. Pembesaran Nila di Kolam Air Deras. AgroMedia Pustaka. Jakarta. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 45 Tahun 2004 tentang Pengadaan dan Peredaran Pakan Ikan. Kordi, M. G. H dan A. B. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air. Rineka Cipta. Jakarta. Kordi, K. M. Ghufran. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Cetakan Per ama. Jakarta: PT Rineka Cipta. Komang, S. 2010. Tentang Keuntungan dan Kelemahan Penggunaan Pakan Alami dan Pakan Buatan Dalam Budidaya Perikanan.
  36. 36. 26 Kusuma,Galih Arif, 2014. “Uji Daya Hambat dari Ekstrak Tanaman Pacar Air (Impatiens balsamica L) terhadap Pertumbuhan Bakteri Aeromonas hydrophila”. Jurnal Ilmiah. PS. Agrobisnis Perikanan UNSRAT, Manado. Vol 2,No1(2014). Lenawan, E. Pengaruh Padat Penebaran 10, 15 dan 20 Ekor/L Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan (Osphronemus Gouramy Lac.) Ukuran 0,5 Cm. Fakultas Perikanan dan Ilmu Laut Institut Pertanian Bambara. 64 hal. Lesmana, D. S. 2001. Budi Daya Ikan Hias Air Tawar. Cetakan Pertama. Jakarta: Penebar Swadaya. Lesmana, D. S. dan I. Darmawan. 2001. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer. Penebar Swadaya. Jakarta. Liu, F. 2011 Effect of a short and severe intermittent drought on transpiration, seed yield, yield components, and harvest index in four landraces of bambara groundnut. International Journal of Plant Production, 5 (1). pp. 25- 36. Masyamsir. 2001. Membuat Pakan Ikan Buatan. Modul Program Keahlian Budidaya Ikan. Depdiknas. Jakarta. 32 hal. Maharani, E.T. dan Yusrin. 2010. Kadar Protein Curah yang Dijual Petambak Kota Rembang dengan Variasi Suhu Penyimpanan. Prosiding Seminar Nasional UNIMUS. Semarang. 6 hal. Mudjiman, A. 2004. Makanan Ikan Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal 146-148 : 157-165. Murtidjo, B.A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta. Hal 13 : 56 : 77. Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan. Penerbit Swadaya. Jakarta Ntundu, W.H., I.C Bach, J.L. Christiansen, and S.B. Anderson. 2004. Analysis of Genetic Deversity In Bambara Groundnut [Vigna Subterranea (L) Verdc] Landraces Using Amplified Fragment Lergth Polymorphism (AFLP) Markers. African Journal of Biotechnology (3):4PP. 220–225. Nematipour, G.R., M.L. Brown, dan D.M. Gatlin III. 1992. Effects of dietary energy protein ratio on growth characteristic and body consumption of hybrid striped bass. Aquaculture, 107 :359-368. Pertamawati, L.H. 2006. Diseconomies Integrasi Vertikal Usaha Budidaya Ikan Gurami. Institut Pertanian Bambara. Prihartono, E, R. 2007. Permasalahan dan solusinya. Penebar Swadaya. Jakarta.
  37. 37. 27 Purseglove, J.W. 1974. Tropical Crops: Dicotyledons. Longman, London, 242– 246. Puspowardoyo, H. Dan A.S. Djariyah. 2002. Pembenihan dan Pembesaran Lele Dumbo Hemat Air. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Purwanto, J. 2007. Pemeliharaan benih ikan sidat (Anguilla bicolor) dengan padat penebaran yang berbeda. Jurnal Penelitian Indonesia. 6(2):85-89. Rukmana, H. Rahmat 2000 "Ganyong : budidaya dan pascapanen / H. Rahmat Rukmana". Sarah S. 2002. Pengaruh padat penebaran terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus goramy Lac).Program Studi Teknologi dan Manajemen Akuakultur. Institut Pertanian Bambara. hlm 39. Sitanggang, M dan B.Sarwono. 2002. Budidaya . Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. Sutanmuda. 1997. Kumpulan Gurami Kliping Ikan. Jakarta : trubus. Trijdoko, DKK//,1993. Pengaruh Pakan Segar Terhadap Perkembangan Gonat Ikan : Jurnal Penelitian Budidaya Perikanan vol 9-No.Gondol.Bali. Suhenda, N., L. Setijaningsih & Y. Suryani. 2003. Penentuan rasio antara kadar karbohidrat dan lemak pada pakan benih ikan patin jambal (Pangasius djambal). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 9(1):21-30. Sugama, K., Slamet, B., Ismi, S., Setiadi, E. and Kawahara, S. 2001. Manual for the seed production for humpback grouper, Cromileptes altivelis. Gondol Research Institute for Mariculture and Japan International Cooperation Agency, Bali, Indonesia. 37 hal. Stephens, J.M. 2003. Bambara Groundnut Voandzeia subterranea (L.) Thouars. University of Florida. IFAS Extension. Florida. Reezky . 2012. http://www.zonaikan.com/2012/11/kebutuhan-nutrisi-ikan.html Verschuere L, Dhont J, Sorgeloos P, Verstraete W. Monitoring Biolog patterns ans r/K-strategists in the intensive culture of Artemia juveniles. J Appl Microbiol. 1997;83:603–612. Yulfiperius, Mokoginta, Jusadi Dedi.2003. Pengaruh Kadar Vitamin E dalam Pakan terhadap Kualitas Telur Ikan Patin (Pangasius hypothalmus). IPB: Bogor.
  38. 38. 28 Wiadnya, D.G.R, Hartati, Y. Suryanti, Subagyo, dan A.M. Hariati. 2000. Periode Pemberian Pakan yang mengandung Kitin untuk Memacu Pertumbuhan dan Produksi Ikan Gurame (Osphronemus goramy Lac.). Jurnal Peneltian Perikanan Indonesia, 6(2) :62-67. Zonneveld, N., Huisman, E.A., & Boon, J.H. 1991. Prinsip-prinsip Budidaya ikan. Penerjemah. Pustaka Utama. Gramedia, Jakarta, 71 hlm. Zulfa Fauzia3 , Fadil Othman1,* , Johan Sohaili1 , Moh Faiqun Ni’am2 , Environmental Engineering Department., Faculty of Engineering, Universiti Teknologi Malaysia, Johor, Malaysia.

×