Se ha denunciado esta presentación.
Utilizamos tu perfil de LinkedIn y tus datos de actividad para personalizar los anuncios y mostrarte publicidad más relevante. Puedes cambiar tus preferencias de publicidad en cualquier momento.
TAFSIR, TA’WIL DAN TARJAMAH 
M A K A L A H 
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah 
" Ulumul Qur’an " 
Dosen Pengampu :...
KATA PENGANTAR 
Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah 
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehi...
DAFTAR ISI 
Halaman Judul ……………………………………………….…..…....... i 
Kata Pengantar …………………………………………………..…........ ii 
Daftar Isi …...
BAB I 
PENDAHULUAN 
1 
A. Latar Belakang Masalah 
Al-qur’an adalah wahyu islam dan islam adalah agama Allah yang di 
fardl...
2 
B. Rumusan Masalah 
1. Apa pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah ? 
2. Apa perbedaan Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah ? 
3....
BAB II 
PEMBAHASAN 
A. Pengertian Tafsir, Ta’wil, Dan Tarjamah 
3 
1. Pengertian Tafsir 
Secara etimologi kata tafsir dala...
4 
tentang Al-Quranul Kariem dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai 
dengan kemampuan manusia. 
Adapun tenta...
5 
mempunyai sifat khusus dari makna lahir kepada makna batin lafal itu sendiri 
karena ada ketepatan atau kecocokan dan k...
6 
al-Qur’an dari Universitas Azhar, Kairo, Mesir, kata tarjamah lazim digunakan 
untuk dua macam pengertian, yaitu: 
a) M...
7 
b) Dalam tafsir yang diutamakan adalah menyampaikan penjelasan dan pesan 
dari bahasa aslinya yang pertama. Sedangkan p...
8 
 Digunakan dalam ayat-ayat م تَشَابَِِا تٌ (samar, samar tidak jelas). 
 Menerangkan hakikat yang dikehendaki. 
Denga...
9 
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapat surga 
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disedi...
10 
yang sesuai dengan roh syari’at dan bukti-bukti akan membawa penyimpangan 
terhadap Kitabullah.19 
Menafsirkan Qur’an ...
11 
(terjemahan) lafal yang bagus bila mengindahkan isyratnya, banyak isyarat yang 
menggantikan lafal, dan tidak perlu un...
12 
Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa tafsir ini boleh, menetapkan 
beberapa syarat yaitu27: 
1) Tidak bertentangan d...
13 
b) Metode Ijmaly (metode Global) 
Yaitu penafsiran Al-quran secara singkat dan global, tanpa uraian panjang 
lebar, ta...
14 
makna kosa katanya, pendapat para mufassir tentang makna masing-masing ayat 
secara parsial, serta aspek-aspek lainnya...
15 
embriologi, geologi, astronomi, pertanian, perterrnakan, dan lain-lain. 
Contoh tafsir yang bercorak ilmi yaitu: Al-Ja...
BAB III 
PENUTUP 
16 
KESIMPULAN 
1. Tafsir adalah penjelasan terhadap makna lahiriah dari ayat Alquran yang 
penegrtianny...
17 
Tafsir bi al-ra’yi ialah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya mufasir hanya 
berpegang pada pemahaman sendiri dan...
DAFTAR PUSTAKA 
Al-Farabie, Shawli, Pengertian dan perbedaan tafsir, ta`wil, dan tarjamah, dalam 
http://islamcumlaude.blo...
Próxima SlideShare
Cargando en…5
×

Makalah Tafsir, Ta'wil dan Tarjamah (Ulumul Qur'an 1)

34.703 visualizaciones

Publicado el

Makalah yang berisi penjelasan tentang tafsir, ta'wil dan tarjamah guna memenuhi tugas ULUMUL QUR"AN 1. kunjungi bog saya di khusnulsawo.blogspot.com \(^o^)/ yaa..??
terima kasih

Publicado en: Diseño
  • Sé el primero en comentar

Makalah Tafsir, Ta'wil dan Tarjamah (Ulumul Qur'an 1)

  1. 1. TAFSIR, TA’WIL DAN TARJAMAH M A K A L A H Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah " Ulumul Qur’an " Dosen Pengampu : Afiful Ikhwan, M.Pd.I Oleh : KHUSNUL KOTIMAH 2013.4.047.0001.1.001683 PAI – Smt 2/Sawo SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH (STAIM) TULUNGAGUNG Juni 2014
  2. 2. KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya yang telah memperjuangkan Agama Islam. Kemudian dari pada itu, saya sadar bahwa dalam menyusun makalah ini banyak yang membantu terhadap usaha saya, mengingat hal itu dengan segala hormat saya sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagung Bapak Nurul Amin, M.Ag 2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini Bapak Afiful Ikhwan, M.Pd.I 3. Teman – teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah. Atas bimbingan, petunjuk dan dorongan tersebut saya hanya dapat berdo' a dan memohon kepada Allah SWT semoga amal dan jerih payah mereka menjadi amal soleh di mata Allah SWT. Amin. Dan dalam penyusunan makalah ini saya sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu saya mengharapkan keritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya. Akhirnya saya tetap berharap semoga makalah ini menjadi butir-butir amalan saya dan bermanfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi seluruh pembaca. Amin Yaa Robbal 'Alamin. ii (PENYUSUN)
  3. 3. DAFTAR ISI Halaman Judul ……………………………………………….…..…....... i Kata Pengantar …………………………………………………..…........ ii Daftar Isi …………………………….....……………………..…. iii iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………………………………… 1 B. Rumusan Masalah ……………………………………… 2 C. Tujuan Masalah …………………………………………. 2 BAB II PEMBAHASAN TAFSIR, TA’WIL DAN TARJAMAH A. Pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah …………...……...... 3 B. Perbedaan Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah …………………..... 6 C. Klasifikasi Tafsir Bi Al - Ma’tsur, Bi Al - Ra’yi dan Bi AL-Isyari ........................................................................................ 8 D. Macam-Macam Metode dan Macam-Macam Corak Tafsir. . 12 BAB III PENUTUP Kesimpulan …………………………………………….. 16 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 18
  4. 4. BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang Masalah Al-qur’an adalah wahyu islam dan islam adalah agama Allah yang di fardlukan. Pengetahuan tentang pokok-pokok dan dasar-dasar islam tidak akan tercapai jika al- qur’an itu dipahami dengan bahasanya. Maka harus penaklukan islam pun mengembang kepada bahasa- bahasa lain non arab, sehingga bahasa-bahasa itu diarabkan dengan islam. Adalah suatu kewajiban bagi setiap orang bagi setiap orang yang masuk ke dalam naungan agama baru ini, untuk menyambutnya dalam bahasa kitabnya secara lahir dan batin sehingga ia dapat menjalankan kewajiban- kewajibanya, dan terjemahan qur’an tidak diperlukan lagi baginya selama qur’an itu telah diterjemahkan bahasa dan kearabannya menjadi keimanan dan keislaman. Qur’anul karim adalah sumber tasyri’ pertama bagi umat Muhammad. Dan kebahagian mereka tergantung pada pemahaman ma’nanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengalaman apa yang terkandung di dalamnya. Kemampuan setiap orang dalam memahami lafadz dan ungkapan qur’an tidaklah sama, padahal penjelasannya sedemikian gamblang dan ayat- ayatnya pun sedemikian rinci. Maka tidaklah mengherankan jika Qur’an mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata غَرِيْ بٌ ( aneh, ganjil ) atau mentakwilkan تَ رْكِيْ بٌ ( susunan kalimat ). Dalam makalah ini kami akan memaparkan beberapa hal yang erat kaitannya untuk memahami Al-Qur’an. Yaitu kami akan memaparkan mengenai Tafsir, Ta’wil dan Terjemah.
  5. 5. 2 B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah ? 2. Apa perbedaan Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah ? 3. Apa klasifikasi Tafsir bi al - Ma’tsur, bi al - Ra’yi dan bi a l- Isyari ? 4. Apa macam-macam metode dan macam-macam corak tafsir ? C. Tujuan Masalah 1. Untuk mengetahui pengertian Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah 2. Untuk mengetahui perbedaan Tafsir, Ta’wil dan Tarjamah 3. Untuk mengetahui klasifikasi Tafsir bi al - Ma’tsur, bi al - Ra’yi dan bi a l- Isyari 4. Untuk mengetahui macam-macam metode dan macam-macam corak tafsir
  6. 6. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Tafsir, Ta’wil, Dan Tarjamah 3 1. Pengertian Tafsir Secara etimologi kata tafsir dalam bahasa arab berarti الإِيْضٌَا حٌ (penjelasan) atau التَبْيِ يٌ (keterangan).1 Kata tafsir diambil dari kata فَسَّرَ –ٌ يٌ فَ س ر -ٌ تٌَ فْسِيْ رًٌا yang berarti keterangan atau uraian.2 Al-jurjani berpendapat bahwa kata tafsir menurut pengertian bahasa adalahٌ الكَشْ ف وٌَ اٌلإظْهَ رٌ yang artinya menyingkap (membuka) dan melahirkan.3 Tafsir secara bahasa mengikuti wazan تَ فْعِيْل , berasal dari akar kata فٌ -ٌ سٌ -ٌ رٌ )ٌ اٌلفَسْ رٌ ) yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakan atau menerangkan makna yang abstrak. Dalam lisanul ’arab dinyatakan: kata " الفَسْ ر " berarti menyingkapi sesuatu yang tertutup, sedang kata التَ فٌٌْسٌِ يْ رٌ" " berarti menyingkapi maksud sesuatu lafaz yang musykil, pelik.4 Sebagian ulama’ ada yang mengatakan, bahwa kata tafsir juga dapat berarti menyingkapkan.5 Secara bahasa kata Tafsir )ٌ تٌَ فٌٌْسٌِ يْ رٌ ( berasal dari kata فَسَّرٌَ yang mengandung arti: menjelaskan, menyingkap dan menampak-kan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata الفٌَسٌْ رٌ berarti menyingkapkan sesuatu yang tertutup. Menurut istilah, Tafsir berarti Ilmu untuk mengetahui kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammas Saw. dan penjelasan maknanya serta pengambilan hukum dan makna-maknanya. Tafsir adalah Ilmu yang membahas 1Muhammad Ali al-Shabuniy, al-Tibyan fi ‘ulumul al-Qur’an (Beirut: Dar al-Irsyad, 1970), hlm. 37. 2Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 209. 3Al-jurjani, al-Ta’rifat, ath-Thaba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi (Jeddah: t.t), hlm. 63. 4Manna Khalil al-Qattan, mudzakir, Studi Ilmi-Ilmu Qur’an (Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, Cetakan kedua belas, 2009), hlm. 455. 5Usman, Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 311.
  7. 7. 4 tentang Al-Quranul Kariem dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Adapun tentang pengertian tafsir berdasarkan istilah, para ulama banyak memberikan komentar antara lain sebagai berikut : a) Menurut Al-Kilabi: Tafsir adalah penjelasan Al-Qur’an dengan menerangkan makna dari tujuan (isyarat). b) Menurut Syekh Al-Jazari: Tafsir adalah hakekatnya menjelaskan lafazh yang sukar difahami dengan jalan mengemukakan salah satu lafazh yang bersinonim (mendekati) dengan lafazh tersebut c) Menurut abu Hayyan: Tafsir adalah ilmu yang mengenai cara pengucapan lafazh Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk kandungan hukum dan makna yang terkandung didalamnya. d) Menurut Az-Zarkasyi: Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna Al-Qur’an yang diturunkan pada pada nabi Muhammad SAW, serta mengumpulkan kandungan dan hukum dan hikmahnya. Berdasarkan beberapa rumusan tafsir yang dikemukakan para ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tafsir adalah suatu hasil yang tanggapan dan penalaran manusia untuk menyikapi nilai-nilai samawi yang terdapt di dalam Al-Qur’an. 2. Pengertian Ta’wil Secara etimologi, menurut sebagian ulama’, kata ta’wil memiliki makna yang sama dengan tafsir, yakni ”menerangkan” dan ”menjelaskan”.6 Ta’wil berasal dari kata أَوٌَّلٌَ . Kata tersebut dapat berarti: pertama, ال ر جوٌْع (kembali, mengembalikan) yakni, mengembalikan makna pada proporsi yang sesungguhnya. Kedua, الصَرْ فٌ (memalingkan) yakni memalingkan suatu lafal yang 6Muhammad Ali al-Shabuniy, al-Tibyan fi ‘ulumul al-Qur’an (Beirut: Dar al-Irsyad, 1970), hlm. 74.
  8. 8. 5 mempunyai sifat khusus dari makna lahir kepada makna batin lafal itu sendiri karena ada ketepatan atau kecocokan dan keserasian dengan maksud yang dituju. Ketiga, السِيٌَاسَة (mensiasati) yakni, bahwa lafal-lafal atau kalimat-kalimat tertentu yang mempunyai sifat khusus memerlukan ”siasat” yang tepat untuk menemukan makna yang dimaksud. Untuk itu diperlukan ilmu yang luas dan mendalam.7 Adapun mengenai arti takwil menurut istilah banyak para ulama memberikan pendapatnya antara lain sebagai berikut ini : a) Menurut Al-Jurzzani: Memalingkan suatu lafazh dari makna d’zamirnya terhadap makna yang dikandungnya apabila makna alternative yang dipandang sesuai dengan ketentuan Al-kitab dan As-sunnah. b) Menurut defenisi lain: Takwil adalah mengembalikan sesuatu kepada ghayahnya (tujuannya) yakni menerangkan apa yang dimaksud. c) Menurut Ulama Salaf:  Menafsirkan dan mejelaskan makna suatu ungkapan baik yang bersesuaian dengan makna ataupun bertentangan.  Hakekat yang sebenarnya yang dikehendaki suatu ungkapan. d) Menurut Khalaf: Mengalihkan suatu lafazh dari maknanya yang rajin kepada makna yang marjun karena ada indikasi untuk itu. Pengertian takwil menurut istilah adalah suatu usaha untuk memahami lafazh-lafazh (ayat-ayat) Al-Qur’an melalui pendekatan pemahaman arti yang dikandung oleh lafazh itu. 3. Pengertian Tarjamah Arti tarjamah menurut bahasa adalah salinan dari suatu bahasa kebahasa lain atau mengganti, menyalin, memindahkan kalimat dari suatu bahasa ke bahasa lain.8 Menurut muhammad husayn al-Dzahabi, salah seorang pakar dan ahli ilmu 7Usman, Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 317. 8Poerwadarminta, Kamus Unun Bahasa Indonesia (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), hlm. 1062.
  9. 9. 6 al-Qur’an dari Universitas Azhar, Kairo, Mesir, kata tarjamah lazim digunakan untuk dua macam pengertian, yaitu: a) Mengalihkan atau memindahkan suatu pembicaraan dari suatu bahasa ke bahasa lainnya tanpa menerangkan makna dari bahasa asal yang diterjemahkan. b) Menafsirkan suatu pembicaraan dengan menerangkan maksud yang terkandung di dalamnya dengan menggunakan bahasa yang lain. Arti tarjamah menurut bahasa adalah susunan dari suatu bahasa kebahasa atau mengganti, menyalin, memindahkan kalimat dari suatu bahasa lain kesuatu bahasa lain. Secara terminologi kata ”tarjamah” dapat dipergunakan pada dua arti: 1) Terjemah harfiyah, yaitu mengalihkan lafaz-lafaz dari satu bahasa ke dalam lafaz-lafaz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga susunan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan tertib bahasa pertama 2) Terjemah tafsiriyah atau terjemah maknawiyah, yaitu menjelaskan makna pembicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib kata-kata bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya.9 B. Perbedaan Tafsir, Ta’wil, dan Tarjamah 1. Perbedaan Tafsir Dan Tarjamah a) Bahasa tafsir dalam prakteknya selalu terdapat keterkaitan dengan bahasa aslinya. Selain itu, dalam tafsir tidak terjadi peralihan bahasa, sebagaimana lazimnya dalam terjemah. Pada terjemah yang terjadi atau dilakukan adalah peralihan bahasa, yakni dari bahasa pertama atau yang asli ke bahasa kedua atau terjemah. 9Manna Khalil al-Qattan, mudzakir, Studi Ilmi-Ilmu Qur’an (Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, Cetakan kedua belas, 2009), hlm. 443.
  10. 10. 7 b) Dalam tafsir yang diutamakan adalah menyampaikan penjelasan dan pesan dari bahasa aslinya yang pertama. Sedangkan pada terjemah tidak terdapat istithrad, yakni memperluas uraian melebihi kadar mencari padanan kata. Dalam terjemah terutama harfiah, makna yang diungkap tidak lebih dari sekedar mengganti bahasa. c) Dalam bahasa tafsir yang menjadi pokok perhatian adalah tercapainya penjelasan tepat sasaran baik secara global maupun secara terinci. Tidak demikian halnya dengan terjemah. Ia pada lazimnya mengandung tuntutan terpenuhinya semua makna yang dikehendaki oleh bahasa pertama.10 Dengan memperhatikan pernyataan-pernyataan di atas, maka dapat dikatakan bahwa antara tafsir dengan terjemah (baik tafsiriyah maupun harfiyah) terdapat perbedaan yang cukup jelas. Khusus dalam hubungannya dengan upaya pemahaman terhadap kandungan al-Qur’an, keterangan melalui terjemahnya tentu tidak akan dapat memberikan kejelasan yang memadai.11 2. Perbedaan Tafsir Dengan Ta’wil Mengenai perbedaan tafsir dan ta’wil tersebut dapat dilihat sebagai berikut:12 TAFSIR:  Pemakaiannya banyak terdapat pada lafal- lafal dan leksikologi ( .(م فْرَدَة  Jelas diterangkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.  Banyak berhubungan dengan riwayat.  Digunakan dalam ayat-ayat مُْكَمَا تٌ (jelas, terang).  Bersifat menerangkan petunjuk yang dikehendaki. TA’WIL:  Penggunaannya lebih banyak pada makna-makna dan susunan kalimanat.  Kebanyakan diistimbatkan oleh para ’ulama.  Lebih banyak berhubungan dengan دِرَايَة (nalar, aqliy). 10Manna Khalil al-Qattan, mudzakir, Studi Ilmi-Ilmu Qur’an (Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, Cetakan kedua belas, 2009), hlm. 334. 11Ibid., hlm. 337. 12Ibid., hlm. 334.
  11. 11. 8  Digunakan dalam ayat-ayat م تَشَابَِِا تٌ (samar, samar tidak jelas).  Menerangkan hakikat yang dikehendaki. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, bahwa : a) Tafsir : menjelaskan makna ayat yang kadang-kadang dengan panjang lebar, lengkap dengan penjelasan hukum-hukum dan hikmah yang dapat diambil dari ayat itu dan seringkali disertai dengan kesimpulan kandungan ayat-ayat tersebut b) Ta’wil : mengalihkan lafadz-lafadz ayat al-Qur’an dari arti yang lahir dan rǎjih kepada arti lain yang samar dan marjuh. c) Terjemah : hanya mengubah kata-kata dari bahasa arab kedalam bahasa lain tanpa memberikan penjelasan arti kiandungan secara panjang lebar dan tidak menyimpulkan dari isi kandungannya.13 C. Klasifikasi Tafsir Bi Al-Ma’tsur, Bi Al-Ra’yi dan Bi Al-Isyari 1. Tafsir Bi Al-Ma’tsur Tafsir bi al-ma’tsur merupakan istilah lain dari tafsir bi al-riwayah dan atau tafsir bi al-mangul.14 Tafsir bi al-ma’tsur yaitu menafsirkan Qur’an dengan Qur’an, dengan sunnah karena berfungsi menjelaskan kitabullah.15 Ada empat otoritas yang menjadi sumber penafsiran bi al-ma’tsur. Pertama, al-Qur’an sendiri yang dipandang sebagai penafsiran terbaik terhadap al-Qur’an. Umpamanya, penafsiran kata الم تَّقِيٌَ pada surat al-Imran (3) ayat 133 dengan menggunakan kandungan ayat berikutnya. وَسَارِعِ وا إٌِلََ مٌَغْفِرَةٍ مٌِنْ رٌَب كمْ وٌَجَنَّةٍ عٌٌَِرْض هَا اٌلسَّمَاوَا ت وٌَالَْْرْ ض أٌ عِِ تََّّْ لٌِلْ متَّقِيٌَ 13Shawli al-farabie, pengertian dan perbedaan tafsir, ta`wil, dan tarjamah, dalam http://islamcumlaude.blogspot.com/2011/06/pengertian-dan-perbedaan-tafsir-tawil.html, diakses pada sabtu, 15 maret 2014, pukul 10.05 WIB 14Usman, Ulumul Qur’an (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 338. 15Manna Khalil al-Qattan, mudzakir, Studi Ilmi-Ilmu Qur’an (Bogor: Pustaka Litera Antarnusa, Cetakan kedua belas, 2009), hlm. 483.
  12. 12. 9 “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapat surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali-Imran : 133)16 Kedua, hadist nabi yang memang berfungsi sebagai penjelas م بَ يٌ al- Qur’an. Umpamanya, penafsiran nabi terhadap kata ’al-zulm’ الظ لْم pada surat al- An’am. الَّذِينٌَ آٌمَن وا وٌَلٌَْ يٌَ لْبِ سوا إٌِيمَانَ همٌْ بٌٌِظ لْمٌٍ أٌ ولَئِكٌَ لٌََ م اٌلَْْمْ نٌ وٌٌَ هُمٌْ مٌ هْتَ ونٌَ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS: Al-An'am : 82)17 Ketiga, penjelasan sahabat yang dipandang sebagai orang yang banyak mengetahui al-Qur’an. Umpamanya, penafsiran ibnu Abbas (68/687) terhadap kandungan surat An-nashr dengan kedekatan waktu kewafatan nabi. Keempat, penjelasan Tabi’in yang dianggap sebagai orang yang bertemu langsung dengan sahabat.18 Hukum Tafsir bi al-Ma’tsur: Tafsir Bi Al-Ma’tsur wajib untuk mengikuti dan diambil karena terjaga dari penyelewengan makna kitabullah. 2. Tafsir Bi Al-Ra’yi Tafsir bi al-ra’yi ialah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya mufasir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbat) yang didasarkan pada ra’yu semata. Tidak termasuk ini pemahaman (terhadap Qur’an) 16Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 67. 17Ibid., hlm. 138. 18Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 217.
  13. 13. 10 yang sesuai dengan roh syari’at dan bukti-bukti akan membawa penyimpangan terhadap Kitabullah.19 Menafsirkan Qur’an dengan ra’yu dan ijtihad semata tanpa ada dasar yang sahih adalah haram, tidak boleh dilakukan. Allah berfirman: وَلََ تٌَ قْ ف مٌَا لٌَيْسَ لٌَكَ بٌِهِ عٌِِلْم ”dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (al-Isra :36) 20 Oleh karena itu, golongan salaf berkeberatan, enggan, untuk menafsirkan Qur’an dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. 3. Tafsir Bi Al- Isyari Isyarah secara etimologi berarti penunjukan, memberi isyarat. Sedangkan tafsir al-isyari adalah menakwilkan (menafsirkan) ayat Alquran al-Karim tidak seperti zahirnya, tapi berdasarkan isyarat yang samar yang bisa diketahui oleh orang yang berilmu dan bertakwa, yang pentakwilan itu selaras dengan makna zahir ayat–ayat Alquran dari beberapa sisi syarhis (yang masyru’).21 Adapun isyarah menurut istilah adalah apa yang ditetapkan (sesuatu yang bisa ditetapkan/dipahami, diambil) dari suatu perkataan hanya dari mengira-ngira tanpa harus meletakkannya dalam konteksnya (sesuatu yang ditetapkan hanya dari bentuk kalimat tanpa dalam konteksnya).22 Menurut al-Jahizh bahwa ’isyarat dan lafal adalah dua hal yang saling bergandeng, isyarat banyak menolong lafal (dalam memahminya),dan tafsiran 19Fachrial Lailatul Maghfiroh. Tafsir, Ta’wil, Dan Tarjamah Al- Qur’an dalam http://fachrialicius.blogspot.com/2012/12/ulumul-quran.html, diakses pada sabtu, 15 maret 2014 pukul 10.00 WIB 20Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 285. 21Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Alquran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), hlm. 97. 22Muslich Maruzi, Wahyu Alquran Sejarah dan Perkembangan Ilmu Tafsir (Jakarta: Pustaka Amani, 1987), hlm. 78.
  14. 14. 11 (terjemahan) lafal yang bagus bila mengindahkan isyratnya, banyak isyarat yang menggantikan lafal, dan tidak perlu untuk dituliskan.23 Tafsir Isyari menurut Imam Ghazali adalah usaha mentakwilkan ayat-ayat Alquran bukan dengan makna zahirnya malainkan dengan suara hati nurani, setelah sebelumnya menafsirkan makna zahir dari ayat yang dimaksud.24 Tafsir isyari ini dibagi kepada dua cabang, yakni; a) Yang pertama adalah al-isyari al-khafi, yang bisa diketahui oleh orang yang bertakwa, sholeh dan orang yang berilmu ketika mebaca al-qur’an, maka mereka ketika membaca suatu ayat akan menemukan beberapa arti. b) Yang kedua adalah al-isyari al-jali (isyarat yang jelas), yang terkandung dalam ayat kauniyah dalam al-qur’an, yang mengisyaratkan dengan jelas berbagai pengetahuan yang baru. Pada hal seperti inilah akan tampak kemu’jizatan Alquran pada masa kini, zaman ilmu pengetahuan.25 Dalil kebolehan tafsir ini dapat diambil dari ayat berikut ini: أَفَلََ يٌَ تَ بََّ رونَ اٌلْق رْآنَ أٌَمْ عٌَِلَى قٌ ل وبٍ أٌَقْ فَا لَاَ Artinya: “maka tidakkah mereka menghayati Al-quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?.”(QS Muhammad: 24)26 Allah mengisyaratkan bahwa orang-orang kafir tidak memahami Al quran ,maka Allah SWT menyuruh mereka umtuk merenungi ayat-ayat (tanda-tanda) Alquran Al-karim, agar mereka mengetahui arti dan tujuannya. Tetapi banyak ulama yang berpendapat bahwa tafsir isyari itu tidak boleh, karena khawatir membuat kebohongan tentang Allah SWT. dalam menafsirkan wahyunya, tanpa ilmu ataupun petunjuk dan bukti yang jelas. 23Khalid Abdur Rahman, Ushul Tafsir wa Qawa’iduhu (Damaskus: Dar an-Nafais, 1994), hlm. 207. 24Ahmad Zuhri, Risalah Tafsir, Berinteraksi dengan Alquran versi Imam Al -Ghazali (Bandung: Citapusaka Media, 2007), hlm. 190 (Kutipan dari Ihya’ Ulumuddin, Jilid 1) 25Lopcit, h. 207. 26Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Diponegoro, 2008), hlm. 509.
  15. 15. 12 Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa tafsir ini boleh, menetapkan beberapa syarat yaitu27: 1) Tidak bertentangan dengan makna (zhahir) ayat, 2) Maknanya sendiri shahih, 3) Pada lafazd yang ditafsirkan terdapat indikasi bagi (makna isyari) tersebut, 4) Antara makna isyari dengan makna ayat terdapat hubungan yang erat. Apabila keempat syarat ini dipenuhi maka tafsir mengenai isyarat itu (tafsir isyari) merupakan istinbat yang baik dan dapat diterima. Dan apabila syarat diatas tidak dipenuhi, maka tafsir isyari tidaklah dapat diterima/ dilarang. D. Macam-Macam Metode, Macam-Macam Corak Tafsir 1. Macam-macam Metode Tafsir Para ulama ahli Ulum al-Qur’an telah membuat klasifikasi tafsir berdasarkan metode penafsirannya menjadi empat macam metode yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Metode Tahlily (metode Analisis) Yaitu metode penafsiran ayat-ayat Alquran secara analitis dengan memaparkan segala aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannya sesuai dengan bidang keahlian mufassir tersebut. Uraiannya, antara lain menyangkut pengertian kosa kata ( مَعْنََ اٌلم فْرَدَة ), keserasian redaksi dan keindahan bahasanya فَصَاحَة ) dan بَلَغَة ), keterkaitan makna ayat yang sedang ditafsirkan dengan ayat sebelum maupun sesudahnya ( م نَاسَبَة اٌلْيةٌَِّ ) dan sebab-sebab turunnya ayat (ٌ أسْبَا ب الن زوْلٌِ ). Demikian pula penafsiran dengan metode ini melihat keterkaitan makna ayat yang ditafsirkannya dengan penjelasan yang pernah diberikan oleh Nabi, para sahabat, tabi’in dan ulama-ulama sebelumnya yang telah lebih dahulu memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut. 27Manna’ Khalil al-Qattan, Mubahist fi Ulumil Qur’an, T. erj Drs. Mudzakir AS, P.T., (Jakarta: Pustaka Lintera AntarNusa, 1992), hlm. 496.
  16. 16. 13 b) Metode Ijmaly (metode Global) Yaitu penafsiran Al-quran secara singkat dan global, tanpa uraian panjang lebar, tapi mencakup makna yang dikehendaki dalam ayat. Dalam hal ini mufassir hanya menjelaskan arti dan maksud ayat dengan uraian singkat yang dapat menjelaskan artinya sebatas makna yang terkait secara langsung, tanpa menyinggung hal-hal tidak terkait secara langsung dengan ayat. Di antara kitab-kitab tafsir yang termasuk menggunakan metode Ijmali ini antara lain:  Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Muhammad Farid Wajdi,  Tafsir al-Qur’an, karya Ibnu Abbas yang dihimpun oleh Fayruz Abady,  At-Tafsir al-Muyassar, karya Syeikh Abdul Jalil Isa, dll c) Metode Muqaran (metode Komparasi/ Perbandingan) Tafsir dengan metode muqaran adalah menafsirkan Alquran dengan cara mengambil sejumlah ayat Alquran, kemudian mengemukakan pendapat para ulama tafsir dan membandingkan kecendrungan para ulama tersebut, kemudian mengambil kesimpulan dari hasil perbandingannya. Namun menurut Baidan, Metode komparatif (muqaran) ialah:  Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Alquran yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih; dan atau memiliki redaksi yang berbeda tentang satu kasus yang sama,  Membandingkan ayat Alquran dengan Hadits, yang sep-intas terlihat bertentangan,  Membandingkan pendapat berbagai ulama tafsir dalam menafsirkan suatu ayat. d) Metode Maudhu’i (metode Tematik) Yaitu metode yang ditempuh oleh seorang mufassir untuk menjelaskan konsep Al-quran tentang suatu masalah/ tema tertentu dengan cara menghimpun seluruh ayat Al-quran yang membicarakan tema tersebut. Kemudian masing-masing ayat tersebut dikaji secara komprehensif, mendalam dan tuntas dari berbagai aspek kajiannya. Baik dari segi asbabun nuzulnya, munasabahnya,
  17. 17. 14 makna kosa katanya, pendapat para mufassir tentang makna masing-masing ayat secara parsial, serta aspek-aspek lainnya yang dipandang penting. Ciri utama metode ini adalah terfokusnya perhatian pada tema (maudhu’), baik tema yang ada dalam Al-quran itu sendiri, maupun tema-tama yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Contohnya seperti:  Al-Insan Fi al-Quran, dan, Al-Mar’ah Fi al-Qur’an, karya Abbas Mahmud al-‘Aqqad, dan  Al-Riba Fi al-Qur’an, karya Abu al-A’la al-Maududi. 2. Macam-macam Corak Tafsir Tafsir merupakan karya manusia yang selalu diwarnai pikiran, madzhab, dan disiplin ilmu yang ditekuni oleh mufassirnya, oleh karena itu buku-uku tafsir mempunyai berbagai corak pemikiran dan madzhab. Di antara corak tafsir yaitu adalah sebagai berikut :28 a) Tafsir Shufi: yaitu suatu karya tafsir yang diwarnai oleh teori atau pemikiran tasawuf, baik tasawuf teoritis (at-tasawuf an-nazhary) maupun tasawuf praktis (at-tasawuf al-‘amali). b) Tafsir Falsafi: Yaitu suatu karya tafsir yang bercorak filsafat. Artinya dalam menjelaskan suatu ayat, mufassir merujuk pendapat filosof. Persoalan yang diperbincangan dalam suatu ayat dimaknai berdasarkan pandangan para ahli filsafat. c) Tafsir Fiqhi: Yaitu penafsiran al-Qur’an yang bercorak fiqih, diantara isi kandungan al-Qur’an adalah penjelasan mengenai hukum, baik ibadah maupun muamalah. Tafsir fiqih ini selain lebih banyak berbincang mengenai persoalan hukum , juga kadang-kadang diwarnai oleh ta’asub (fanatik). Buku-buku tafsir fiqhi ini dapat pula dikategorikan kepada corak lain yaitu tafsir fiqhi hanafi, maliki, syafi’i, dan hambali. d) Tafsir ‘Ilmi: Yaitu tafsir yang bercorak ilmu pengetahuan modern, khususnya sains eksakta. Tafsir ini selalu mengutip teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan ayat yang sedang ditafsirkan. Seperti biologi, 28Kadar M. Yusuf, study Al-Qur’an )Jakarta: Amzah, 2010(, hlm. 158.
  18. 18. 15 embriologi, geologi, astronomi, pertanian, perterrnakan, dan lain-lain. Contoh tafsir yang bercorak ilmi yaitu: Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-karim karya Thanthawi Jauhari dan Mafatih Al-Ghaib karya Ar-Razi, Khalq Al-Insan Bayna Ath-Thib Wa Al-Qur’an karya Muhammad Ali Al- Bar. e) Corak Al-Adabi Wa Al-Ijtima’i: Yaitu tafsir yang bercorak sastra kesopanan dan sosial. Dengan corak ini mufassir mengungkap keindahan dan ke agungan Al-Qur’an yang meliputi aspek balagah, mukjizat, makna, dan tujuannya. Mufassir berusaha menjelaskan sunnah yang terdapat pada alam dan sistem sosial yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan berusaha memecahkan persoalan kemanusiaan pada umumnya dan umat islam pada khususnya, sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.29 29Kadar M. Yusuf, study Al-Qur’an )Jakarta: Amzah, 2010(, hlm. 158-162.
  19. 19. BAB III PENUTUP 16 KESIMPULAN 1. Tafsir adalah penjelasan terhadap makna lahiriah dari ayat Alquran yang penegrtiannya secara tegas menyatakan maksud yang dikehendaki oleh Allah. Ta’wil adalah pengertian yang tersirat yang diistimbathkan dari ayat Alquran berdasarkan alasan-alasan tertentu. Tarjamah ada 2, yaitu: a) Terjemah harfiyah, yaitu mengalihkan lafadz-lafadz dari satu bahasa ke dalam lafaz-lafaz yang serupa dari bahasa lain sedemikian rupa sehingga susunan dan tertib bahasa kedua sesuai dengan susunan dan tertib bahasa pertama b) Terjemah tafsiriyah atau terjemah maknawiyah, yaitu menjelaskan makna pembicaraan dengan bahasa lain tanpa terikat dengan tertib kata-kata bahasa asal atau memperhatikan susunan kalimatnya 2. Adapun perbedaan tafsir, takwil dan terjemah, yaitu: a) Tafsir : menjelaskan makna ayat yang kadang-kadang dengan panjang lebar, lengkap dengan penjelasan hukum-hukum dan hikmah yang dapat diambil dari ayat itu dan seringkali disertai dengan kesimpulan kandungan ayat-ayat tersebut b) Ta’wil : mengalihkan lafadz-lafadz ayat al-Qur’an dari arti yang lahir dan rǎjih kepada arti lain yang samar dan marjuh. c) Terjemah : hanya mengubah kata-kata dari bahasa arab kedalam bahasa lain tanpa memberikan penjelasan arti kiandungan secara panjang lebar dan tidak menyimpulkan dari isi kandungannya 3. Tafsir bi al-ma’tsur yaitu menafsirkan Qur’an dengan Qur’an, dengan sunnah karena berfungsi menjelaskan kitabullah;
  20. 20. 17 Tafsir bi al-ra’yi ialah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya mufasir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbat) yang didasarkan pada ra’yu semata; Tafsir al-isyari adalah menakwilkan (menafsirkan) ayat Al-quran al-Karim tidak seperti zahirnya, tapi berdasarkan isyarat yang samar yang bisa diketahui oleh orang yang berilmu dan bertakwa. 4. Macam-macam Metode Tafsir dibagi menjadi empat macam metode. Yaitu: a) Metode Tahlily, b) Metode Ijmaliy, c) Metode Muqaran, dan d) Metode Maudhu’i. Sedangkan Macam-Macam Corak Tafsir yaitu : a) Tafsir Shufi, b) Tafsir Falsafi, c) Tafsir Fiqhi, d) Tafsir ‘Ilmi, e) Corak Al-Adabi Wa Al-Ijtima’i.
  21. 21. DAFTAR PUSTAKA Al-Farabie, Shawli, Pengertian dan perbedaan tafsir, ta`wil, dan tarjamah, dalam http://islamcumlaude.blogspot.com/2011/06/pengertian-dan-perbedaan-tafsir- tawil.html, diakses pada sabtu, 15 maret 2014, pukul 10.05 WIB. Anwar, Rosihon. 2000. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia. Al-Qattan, Manna Khalil. 2009. Studi Ilmi-Ilmu Qur’an. Bogor: Pustaka Litera 18 Antarnusa. Cetakan kedua belas. Al-Shabuniy, Muhammad Ali. 1970. al-Tibyan fi ‘ulumul al-Qur’an. Beirut: Dar al-Irsyad. As-Suyuti, Jalaluddin. 1399 H. Al-Itqan fi ‘ulum Al-Quran, Bairut: Dar al-fikr. Departemen Agama RI. 2008. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Diponegoro. Maghfiroh, Fachrial Lailatul. Tafsir, Ta’wil, Dan Tarjamah Al- Qur’an dalam http://fachrialicius.blogspot.com/2012/12/ulumul-quran.html, diakses pada sabtu, 15 maret 2014, pukul 10.00 WIB. Maruzi, Muslich. 1987. Wahyu Alquran Sejarah dan Perkembangan Ilmu Tafsir. Jakarta: Pustaka Amani. Poerwadarminta. 1984. Kamus Unun Bahasa Indonesia. jakarta: PN Balai Pustaka. Rahman, Syeikh Khalid Abdur. 1994. Ushul Tafsir wa Qawa’iduhu. Damaskus: Dar an-Nafais. Suma, Muhammad Amin. 2001. Studi Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta: Pustaka Firdaus. Usman. 2009. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Teras. Zuhri, Ahmad. 2007. Risalah Tafsir, Berinteraksi dengan Alquran versi Imam Al- Ghazali, Bandung: Citapusaka Media.

×